Gaya Hidup

Gaya Hidup Sehat ini Harus Dipertahankan Selama dan Setelah Pandemi Covid-19

Penulis: Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada ekonomi secara luas. Namun juga mengganggu kesehatan hidup masyarakat. Dengan banyak berdiam diri di rumah, orang merasa kesulitan untuk mempertahankan gaya hidup hehat.

Banyaknya tingkat kematian dan penularan akibat virus Covid-19 menjadi lebih tinggi lantaran perilaku gaya hidup selama berdiam diri di rumah.

“Pilar utama untuk menjaga pola hidup sehat selama dan setelah Covid-19 di antaranya menjaga pola makan sehat, menjaga aktivitas fisik seperti melakukan spa dan olahraga,” demikian diungkapkan pakar spa dan kesehatan Indonesia, Wanarani Aries dalam webinar Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) yang digelar pada 1-30 September 2021, di Jakarta, Jumat (24/9/2021)
.
Selain itu, lanjut Wanarni, tidur yang cukup dan menjauhi rokok dan alkohol serta obat-obatan terlarang juga menjadi bagian dalam menjaga pola hidup sehat. Memilik kemampuan dalam  mengatur manajemen stres juga harus dipertahankan.

“Karena timbulnya stres ini tidak terlepas dari padatnya aktivitas sehari-hari. Menjaga hubungan relasi dengan orang lain juga termasuk salah satu kegiatan untuk menghilangkan stres,” tambahnya.

Winarni menegaskan bahwa pola makan tidak sehat bisa memperburuk kondisi dan mudahnya penularan Covid-19 .

“Tentu saja selama pandemi, memiliki banyak kesempatan untuk lebih sering memasak di rumah,” ujarnya.

Meski demikian, kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat kerap kali menjadi persoalan tersendiri. “Banyak orang memilih cara praktis untuk mengkonsumsi makanan capat saji lantaran kurangnya keterampilan dalam memasak,” cetusnya.

Padahal, imbuh Winarni, makanan cepat saji merupakan pilihan makan yang buruk.

Selain itu, dengan banyak berdiam di rumah, membuat aktivitas tubuh menurun. Ketidak aktifan fisik, banyaknya waktu duduk dan menonton televisi, justru dapat memperburuk kondisi fisik seseorang. “Ada epidemi obesitas pada anak-anak dan dewasa,” tambahnya.

Winarni mengatakan, pola makan tidak sehat inilah yang menyebabkan lebih banyak kematian secara global daripada risiko lainnya.

“Nutrisi memiliki peran kunci dalam menjaga, mencegah dan mengelola kesehatan. Nutrisi juga bisa mengobati penyakit kronis. Termasuk mengatasi penyakit kardiovaskular, obesitas, dan kanker, terkait dengan kematian dan keparahan Covid-19, “ paparnya.

Dia menambahkan, hiperglikemia kronis juga berdampak negatif pada fungsi kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko morbiditas dan kematian akibat infeksi apapun, termasuk penularan Covid-19.

Obesitas mengubah respon imun yang ditandai dengan keadaan kronis dan derajat rendah disertai peradangan. Sementara prilaku makan berkaitan erat dengan regulasi fungsi imun.

“Karena sel imun bergantung pada fungsi kofaktor yang memadai, terkait dengan vitamin dan mineral,” ujarnya.

Selain menjaga pola makan, juga harus menjaga aktivitas fisik selama masa isolasi pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas dapat mengganggu olahraga dan kebiasaan aktivitas fisik sehari-hari dalam konteks yang berbeda, seperti pekerjaan, transportasi dan rekreasi.

Perilaku banyak diam. Seperti duduk, berbaring, menghabiskan waktu dengan menonton televisi semakin meningkat di masa pandemi.

“Oleh karena itu, gunakan waktu longgar tersebut untuk menjaga imun dengan spa dan berolahraga,” tambahnya.

Aktivitas di luar gerakan dasar dari aktivitas kehidupan sehari-hari dengan berolahraga kurang 150 menit. Bisa juga dengan intensitas sedang seminggu selama 75 menit. Atau intensitas keduanya dikombinasikan.

“Pedoman utama untuk orang dewasa, melakukan kegiatan aktif 150 hingga 300 menit per hari. Atau aktivitas sedang dengan melakukan kegiatan olahraga dan spa 300 menit dalam seminggu,” tambahnya.

Level ini melebihi kunci kisaran target pedoman untuk orang dewasa. Karena itu, Wanarni menambahkan, untuk mengurangi dampak potensi penurunan aktivitas fisik terhadap kesehatan secara umum, harus memperbanyak praktik.

Sesi latihan harus mencakup empat komponen dasar. Yakni, pemanasan, sesi pengkondisian utama, pendinginan, sesi fleksibilitas.

“Saya menyarankan 5 hingga 10 menit untuk pemanasan dan pendinginan, 20 hingga 60 menit untuk pengkondisian utama, dan 10 menit untuk latihan fleksibilitas,” terangnya.

Sementara untuk lansia, latihan fisik dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan metabolisme. Pendinginan memungkinkan tubuh menyesuaikan diri ke kondisi normal.

Intinya, kata Winarni, gaya hidup sehat selama & setelah pandemi harus lebih banyak aktif bergerak.

“Gunakan waktu luang Anda untuk latihan, latihan dan latihan. Aktivitas ini akan membuat kesehatan tubuh Anda menjadi sempurna. Yang terpenting lagi, tetap menjaga protokol kesehatan saat berolahraga di luar ruangan,” tutupnya.(***)

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top