Gaya Hidup

Ethno Wellness Spa Dayak, Tradisi Kesehatan dan Perawatan Tubuh untuk Hilangkan Aroma Tak Sedap

Penulis: Herus Sutrisno
Ayonews, Jakarta
Ethno wellness Dayak dan Banjar menjadi salah satu diskusi menarik dalam Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021 yang digelar pada Kamis (23/9/2021). Dalam diskusi itu menampilkan pakar kesehatan dr Swandari Paramita dari Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

Diungkapkan Swandari, suku Banjar adalah etnis terbesar ketiga, sedangkan suku Dayak yang keempat di Kalimantan Timur. “Di Kalimantan Timur masih didominasi suku Jawa dan Bugis,” jelasnya.

Kepala Pusat Unggulan Ipteks Obat dan Kosmetik Bahan Alam Hutan Tropika Lembap Universitas Mulawarman itu mengatakan bahwa suku Banjar banyak berdiam di Samarinda dan Balikpapan. Sementara suku Dayak terdapat di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur.

“Mereka terdiri dari Dayak Tunjung, Dayak Benuaq.  Beberapa lainnya ada Dayak Bentian, Dayak Modang dan Dayak Kenyah di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Ada juga Dayak Bahau dan Dayak Penihing di Mahakam Ulu, Dayak Kayan (Wehea) di Kutai Timur, Dayak Punan (Kelay Segah) di Berau,” paparnya.

Swandari menuturkan bahwa spa etnik Dayak meliputi perawatan dalam bentuk pijat Dayak, Bakassai Dayak, Batimuh Dayak, Bapapai Dayak. “Pijat Dayak adalah teknik perawatan tubuh dengan carau usapan dan penekanan menggunakan anggota gerak tubuh. Seperti tangan, jari, siku dan atau alat bantu lainnya pada permukaan tubuh,” ujarnya.

Perawatan-perawatan tersebut, lanjut Swandari, untuk memberikan efek stimulasi dan relaksasi, melancarkan sistem peredaran darah dan getah bening, penguatan sistem tubuh lainnya untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran.

Bakassai Dayak diaplikasikan sebagai lulur dengan cara menggosok. Proses aktifitas pembersihan badan dengan formulasi
rempah tradisional yang telah dilakukan secara turun menurun,” tukasnya.

Tujuan perawatan ini adalah untuk mencerahkan kulit, membersihkan tubuh, memberikan keharuman pada kulit, dan mencegah bau badan.

Bapapai Dayak merupakan wadah berupa gentong air berisi rempah dan bunga yang dimandikan ke seseorang. Batimuh Dayak adalah proses penguapan (steam) berupa konversi dari cairan ke uap dibawah suhu didih cairan. Dikenal juga sebagai mandi
uap.

Dalam suku Dayak dan Banjar, filosifi Batimuh (Batimung)  ini terinspirasi dari cerita Putri Junjung Buih, seorang yang dipercaya merupakan anak kepala Suku Dayak yang muncul dari segumpalan buih di atas sungai. Kecantikan Putri Junjung Buih mempesona pria bernama Lambung Mangkurat yang pada saat itu sedang melakoni tapabrata (Bblampah).

Berdasarkan cerita ini maka Batimuh (Batimung) menjadi tradisi untuk merawat tubuh mereka sekaligus menghilangkan aroma tak sedap.

Tradisi ini juga seringkali dilakukan sebelum melangsungkan pernikahan oleh suku Dayak dan Banjar. Batimuh (Batimung) dilakukan oleh etnis Dayak dan Banjar di Kalimantan. Batimuh artinya membuang keringat dari badan dengan cara diasapi serta ditambahkan ramuan alami untuk memberi keharuman kepada badan orang yang ditimung.

Batimuh juga menjadi salah satu syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya  agar  saat
bersanding di pelaminan tidak mengeluarkan bau keringat, tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona.

Ada beberapa proses batimuh, pertama meramu. Tahapan Batimuh ini encari ramuan-ramuan berupa daun-daun, bunga-bunga dan rempah-rempah. Kedua meracik. Memotong rempah-rempah menjadi beberapa bagian agar memudahkan proses pengadukan. Ketiga, maaduk. Mencampurkan semua rempah-rempah yang sudah dipotong ke dalam wadah kuantan yang berisi air

Kemudian masuk dalam tahapan batimuh.Ba’jajarang yakni mencampurkan semua ramuan-ramuan ke dalam wadah kuantan tanah yang berisi air secukupnya dan kemudian direbus. Selanjutnya maurak tikar purun, yakni menyiapkan bahan untuk menutup tubuh yang akan di-timuh agar uap air di dalam tidak keluar, yaitu tikar purun (tikar anyam), kain atau sarung, dan selimut yang berbahan tebal.

Maurai tikar purun ini membentuk tikar purun seperti lingkaran untuk menutupi badan selama proses batimuh dilakukan.

Dilanjut dengan tahapan batimuh. Pertama, Maangkut. Yakni, mengangkat jajarangan rempah-rempah yang sudah mendidih untuk dimasukkan ke dalam tikar purun yang telah disiapkan untuk batimuh. Proses batimuh itu sendiri, orang yang akan di-timuh didudukkan di atas kursi kecil. Di antara kedua kakinya diletakkan kuantan tanah yang berisi air panas dengan jajarangan ramuan-ramuan.

Kemudian badan yang di-timung ditutupi dengan gulungan tikar purun yang telah disiapkan, kecuali bagian kepala yang tidak ditutupi. Selanjutnya, orang tersebut dibungkus lagi dengan kain sejenis selimut dengan tujuan agar uap air yang di dalam tidak keluar. Proses ini berlangsung sampai air dalam kuantan berisi jajarangan ramuan mendingin dan batimung selesai dilakukan.

Wanas. Setelah keluar dari gulungan tikar purun dan kain-kain, orang yang di-timuh tersebut mengeringkan badannya dengan handuk.

Ramuan yang digunakan untuk Batimuh, yakni pulasari , akar wangi, – temulawak, pucuk ganti, ginseng, mesoyi, jeruk purut, buah adas, temugiring, biji klabet,cengkeh, kayu manis, bunga sisir, kapulaga Jawa, lada,daun lengkuas, daun dilam, pudak,serai wangi, mawar,melati,kenanga,cempaka, kunyit,jahe, kencur, serai,

Pulasari  akar wangi pucuk ganti  ginseng mesoyi kayu manis, buah adas, kelabet cengkeh, daun lengkuas daun dilam daun pudak, bunga mawar, bunga melati, bunga kenanga, bunga cempaka serai wangi serai, temulawak, temugiring, jeruk purut, bunga sisir, kapulaga, lada, kunyit, jahe kencur.

Ramuan tersebut bisa digunakan untuk pengobatan, perawatan calon pengantin yang bermanfaat untuk  mengangkat sel kulit mati, meremajakan kulit, menjaga kebugaran, menghilangkan bau tidak sedap, melancarkan peredaran darah.

Manfaat batimuh dalam istilah mereka sebagai engkuduuq hemaq kerehau mukng. Etnis dayak tunjung juga mengenal batimuh untuk mengobati beberapa penyakit, misalnya stroke.

Tumbuhan yang digunakan adalah engkuduuq hemaq (fagraeae racemosa), kerehau (callicarpa longifolia), dan mukng (blumea balsamifera), daun seribu (achillea millefolium) juga digunakan untuk batimuh oleh etnis dayak lainnya.

Batimuh pengobatan oleh etnis dayak menggunakan daun sungkai (peronema canescens), daun sasambung (blumea balsamifera), daun balik angin (mallotus paniculatus), daun kunyit (curcuma longa), daun gulinggang (senna alata), daun tandui (mangifera rucofostata) daun teramba bisa (ageratum conyzoides), daun halaban (vitex pubescens), daun tatawar (costus speciosus), daun sungkai, daun sasambung, daun balik angin, daun kunyit, daun gulinggang, daun tandui, daun teramba, daun halaban, daun tatawar, laos serai wangi pandan.

Etnis lain di Kalimantan Timur juga menggunakan beberapa tumbuhan lain untuk batimuh, yaitu: laos (alpinia galanga), serai wangi (cymbopogon nardus) dan pandan (pandanus amaryllifolius). “Batimuh dengan serai wangi juga dipercaya untuk mengobati malaria,” tandasnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top