Gaya Hidup

Ethno Wellness Pijat Pulen Legit Bikin Mrs V Terasa Sempit Menggigit

Penulis: Heru Sutrisno
Ayonews, Jakarta
Nuansa relijius sangat kental dalam budaya Betawi. Termasuk dalam tradisi merawat tubuh agar selalu tetap sehat dan bugar. Bagi wanitanya harus selalu tampil cantik, segar  dan bersih.

Karena memang, bagi masyarakat Betawi, menjaga kebersihan sangatlah penting, Salah satu filosofi utama masyarakat Betawi dalam tradisi adalah menjaga kebersihan.

“Filosofinya, kebersihan adalah sebagian dari iman,” ucap pakar kesehatan, kebugaran dan kecantikan, Yoyoh R. Tambera dalam diskusi Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021, di Jakarta, Rabu (21/9/2021).

Yoyoh mengutip salah satu pantun terkenal Betawi, yakni “Pisau belati potong selasih, pisau tajam memotong taman. Bila hatimu bersih, hidup ini terasa nyaman.”

Mentalitas ini, menurut Yohoh, tercermin pada kebiasaan wanita Betawi yang menganggap perawatan ethno spa Tangas Betawi merupakan warisan budaya.

“Tradisi tersebut dimulai dari membersihkan kulit sampai dengan perawatan organ intim kewanitaan menggunakan rebusan rempah, pijat dan Tangas,” jelasnya.

Selain tubuh, perawatan rambut juga utama. Karena bagi wanita Betawi, rambut adalah mahkota. Dalam perawatan rambut ini menggunakan tumbuhan tradisional dan rempah-rempah.

“Tujuan perawatan rambut ini agar rambut berkilau dan tidak cepat beruban serta kulit kepala tidak iritasi. Dengan rambut bersih, terawat dan kemilau menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangannya,” terang Yoyoh.

Creambath khas Betawi misalnya, menggunakan hair cream merang, hair cream lidah buaya, hair cream kemiri, minyak kelapa yang dicampuri dengan essential oil Betawi, conditioner yang beraroma jeruk purut.

Penampilan wajah juga menjadi bagian penting wanita Betawi. Perawatan ethno Tangas Betawi ini menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat.

“Buah bengkoang diparut, diperas. Air endapannya dibuat masker. Atau ketimun diparut, air endapannya diambil. Endapan bengkoang atau air ketimun itu ditambahkan bubuk masker dan kuning telor + madu dioleskan ke wajah sampai kering. Lalu diangkat menggunakan washlap dengan air dingin,” jelasnya.

Setelah menggunakan masker, sambung Yoyoh, dilanjutkan dengan pemberian toner ketimun atau jeruk nipis.

“Ketimun diparut diambil, airnya dicampur dengan batu es. Jeruk nipis juga dicampur batu es,” tambahnya.

Sementara itu, untuk perawatan wajah menggunakan komposisi tepung beras (oryza sativa), kunyit (curcuma domestica), kencur (kaempferia galanga),daun delima (punica granatum), laos merah (alpinia galanga), daun asem (tamarindus indica), daun kemuning (murraya paniculata), daun beluntas (pluchea indica), air jeruk purut (citrus hystrix), borehan (lulur) Betawi (body scrub).

“Cara pemakaiannya, oleskan ke seluruh tubuh & digosok sampai semua kotoran yang menempel di kulit terangkat. Dijamin tubuh akan menjadi harum dan bersih,” paparnya.

Sedangkan untuk coconut oil dan essential oil Betawi biasanya dipakai untuk pijat pulen legit Betawi untuk pengurutan bagian organ kewanitaan agar kembali seperti perawan, sempit dan menggigit.

“Terutama pengurutan di bagian vagina untuk mengencangkan otot–otot  vagina, meningkatkan libido dan mencegah frigid,” terangnya.

Menurut Yoyoh, pengurutan bagian organ intim ini untuk memperbaiki letak dan bentuk rahim. “Pengurutan ini bisa dilakukan sebulan sekali,” tambahnya.

Tradisinya, kata Yoyoh, Tangas ini biasanya dilakukan oleh calon pengantin perempuan. Ritual Tangas Ini dilakukan sehari sebelum akad nikah.

“Proses Tangas, serupa dengan ratus, Namun bentuk Tangas penguapan, bukan pengasapan seperti ratus. Dalam proses ini menggunakan rempah-rempah dan aromatherapi.

Rempah-Rempah Tangas itu sendiri berupa bunga mawar, kenanga, melati, akar wangi (andropogon zizanioides), jeruk purut (citrus hystrix), sereh (cymbopogon citratus), pandan wangi (pandanus amaryllfolium), daun bluntas (pluchea indica), daun kemuning (murraya paniculata), serutan kayu secang (caesalpinia sappan), kulit buah delima (punica granatum).

Sebagai ritual penutupan, menurut Yoyoh, biasanya diakhiri dengan minum bir pletok. Minuman ini terdiri dari jahe (zingiberis officinale), serutan kayu secang (caesalpinia sappan), sereh (cymbopogon nardus), daun pandan (pandanus amaryllfolium), kayu manis (cinnamomum burmanii), cengkeh (syzygium aromaticum), daun jeruk (citrus hystrix), kapulaga (eletteria cardamomum), buah pala (myristica fragrans), gula batu.

“Dalam tradisi Betawi, selain minum-minuman juga ada makanan sehat berupa akar kelapa, kembang goyang, kue pepe, gabus pucung, kue cincin, biji ketapang,” tutupnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top