Kesehatan

Potensinya Besar, Indonesia Berada di Urutan ke 13 Pasar Pariwisata Kesehatan Global

Penulis: Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
Indonesia adalah negara besar. Dengan luas 1.919.440 km2 dan jumlah pulau sebanyak 17.499, negeri ini terdiri dari 1340 suku bangsa. Tak terbayangkan, betapa kayanya tanah air akan kebudayaannya. Termasuk ethno wellness, kesehatan dan kebugaran berbasiskan kearifan lokal.

“Saat ini Indonesia berada di urutan ke-13 dalam pasar pariwisata kesehatan global. Indonesia memiliki proses yang otentik, unik, khas dan metode melalui metode pijat, penggunaan air, mandi uap, dan penggunaan elemen lokal lainnya dalam bentuk ethno spa,” terang Irma Rahyuda dari Institut Kesehatan Global saat menjadi pembicara secara virtual di acara Indonesian Wellness Tourism Internasional (IWTIF) 2021 di Jakarta, Sabtu (18/9/2021).
.
Irma mendefinisikan ethno spa sebagai tradisi aktif dalam mengejar aktivitas, pilihan dan gaya hidup yang mengarah pada keadaan
kesehatan holistik.

Selain itu, penggunaan dan teknik menerapkan bahan ke tubuh, penggunaan minyak atsiri, rempah-rempah, rempah obat merupakan bagian dari tradisi dan ritual budaya di Indonesia telah berbagai tujuan dalam siklus hidup di masyarakat.

“Termasuk juga perawatan kecantikan, kebugaran & kesehatan, keharmonisan suami-istri, perawatan untuk pengantin, perawatan paska melahirkan, juga berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak dari dalam janin hingga remaja,” jelas Irma.

Irma memaparkan, di Indonesia Wellness Tourism Internasional Festival 2021 ini ada delapan dimensi kesehatan. Yakni meliputi menjaga emosional, spiritual, intelektual, fisik, lingkungan, keuangan, kepuasan dan sosial.

Irma menjelaskan, emosional itu dalam menangani perasaan secara konstruktif dan membangun kualitas positif. Seperti, optimisme, kepercayaan diri dan tekad.

“Sedangkan spiritual itu untuk memperluas rasa tujuan dan memahami makna dalam hidup. Intelektual, mengenali kemampuan kreatif dan menemukan cara untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan,” terangnya.

Secara fisik, lanjut Irma, dalam wellness perlu adanya aktivitas fisik. Menjaga kesehatan, menjaga pola makan dan tidur teratur.

Dalam dimensi lingkungan, lanjut Irma, kesehatan yang baik itu dapat merangsang lingkungan dalam mendukung kesejahteraan. “Soal keuangan adalah kepuasan dengan keuangan saat ini dan situasi di masa depan. Kepuasan dan hasil pekerjaan pribadi seseorang. Sedangkan sosial, terjalin interaksi sosial yang baik dalam mendukung dan berkembang dengan baik,” urainya.

Etno Wellness itu sendiri, Irma menjabarkan sebagai kesehatan berbasis kearifan lokal, budaya, dan tradisi di Indonesia. Ethno Wellness di Indonesia adalah bagian dari kekayaan budaya dalam daya saing destinasi Indonesia dan telah menjadi keunikan tersendiri. Menjadi destinasi Indonesia (terutama di bidang kesehatan Spa Pariwisata di Indonesia).

Ethno wellness ini berfungsi sebagai solusi ampuh untuk kesehatan lahir dan batin. Di tengah ketidakpastian pandemi, kesehatan akan berdampak besar pada bisnis pariwisata dan lainnya.

Namun sebenarnya menjadi peluang bagi pelaku usaha, terutama kegiatan yang berbasis kesehatan dan alam. Selain untuk menjaga kelestarian warisan budaya, juga menjadi ide untuk mengembangkan usaha lain dalam bidang ethno spa. Misalnya, pengembangan minyak essensial, pengembangan minuman tradisional sebagai bahan obat, perkembangan rempah-rempah sebagai obat tradisional  lainnya.

Ethno wellnes menjadi tujuan identitas nasional (tujuan) yang unik untuk wisata kesehatan. Karena kesehatan menjadi parameter kegiatan peningkatan manusia dalam menjaga imun atau kekebalan tubuh selama pandemi.

Etno kesehatan itu sendiri didasarkan pada budaya dan perilaku tradisional di komunitas lokal. “Etno-wellness adalah warisan budaya yang menjadi keunikan. Sementara karakter kesehatan etno adalah dengan menggunakan rempah-rempah dan
minyak atsiri juga dengan teknik khusus yaitu mandi, perendaman, pembungkusan dan pemijatan,” jelasnya.

Irma merinci kekayaan alam dalam ethno wellness Indonesia berasal dari Batak, Minang, Kabayu, Betawi, Sunda, Semarang, Jogja, Madura, Bali, Timor, Papua, Minahasa, Bugis, Banjar, Dayak.

Masing-masing suku adat dan budaya itu memiliki kekhasannya tersendiri. Adat Minang misalnya ada Minang Batangeh atau mandi uap tradisional. Ada juga uruik Minang atau pijat. Dalam tradisi Batak ada pijat atau Marpangir, pisat  Kusuk Batak. Di budaya Betawi ada borehan (scrub dari herbal), pulen sah (pijat) ada tangas (pijat). Kemudian dari adat Sunda ada peseul atau (pijat) , baluran
(menggosok).

Peranakan Semarang ada pijat China Tuina , membungkus tubuh menggunakan minyak atsiri dan herbal. Di Jogja ada Ratus  atau mandi uap tubuh, pijat dan mandi ala  Jawa. Di suku Madura  ada  So’oso (pijat dan mandi uap tradisional dan membungkus tubuh menggunakan minyak atsiri  dan herbal).  Di Bali ada pijat Maurut, Meapun, (menggosok), Melukad (pemurnian).

Di belahan Indonesia lain seperti di Timor ada ethno berendam atau mandi  menggunakan ekstrak daun. Di Ambon ada perawatan wajah menggunakan masker wajah pisang tradisional. Di Banjar  ada Cingkaruk menggunakan scrub herbal.  Di Batam ada proses uap  tubuh. Kemudian  dalam adat Dayak ada Bakasai (menggosok), suku Bugis ada  Bedda Lottong,  Minahasa  ada ‘toko roti’ semacam menguapkan  tubuh. di Papua ada praktik pemijatan menggunakan minyak buah merah.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top