Gaya Hidup

Rasakan Sensasi Perjalanan Menuju Cahaya dengan Berwisata Desa di Candi Borobudur

Penulis: Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
Wellness tourism merupakan sebuah kegiatan wisata minat yang bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh wisatawan. Para wisatawan diajak berkeliling ke beberapa lokasi candi atau desa untuk menikmati beragam budaya dan kerajinan.

Dalam diskusi di acara Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021, H. Hadi Sucahyono, Kepala Dewisnu Provinsi Jawa Tengah mengatakan, dalam wellness tourism ini para wisatawan diajak agar tetap sehat dan bugar dengan berjalan-jalan menikmati keindahan alam tempat wisata.

“Termasuk juga diajak ke beberapa candi peninggalan leluhur di beberapa tempat. Mereka akan diberi wawasan dan wejangan sejarah, berbagai kegiatan kerajinan dan dihibur tontonan berupa tarian dan nanyian tradisional menarik,” kata Hadi, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Hadi, mengunjungi Desa Wisata akan merasakan atmosfer masyarakat sekitar kawasan Borobudur. Menyaksikan wujud implementasi narasi dalam relief yang nampak dalam kehidupan masyarakat di sekitar Borobudur.

“Peserta akan mengenakan pakaian tradisional, mengikuti kegiatan pada desa wisata misal: tanam padi, membatik, menganyam, mendengarkan dongeng Borobudur dan sebagainya,” paparnya.

Ada beberapa desa wisata yang bisa dinikmati para turis. Desa pertama, turis diajak berjalan-jalan melihat hasil kerajinan penduduk Karangrejo dan Majaksingi.

Kemudian dilanjutkan dengan wisata herbal di desa Karanganyar. “Di desa ini, para wisatawan dikenalkan berbagai produk herbal hasil olahan warga. Termasuk juga wistawan bisa bersantai ria sambil pijat dan luluran,” jelasnya.

Dilanjutkan ke desa wisata Wanurejo. Di desa ini wisatawan disuguhi tarian-tarian di relief yang berkisah tentang kirana kirani (cinta abadi). kemudian ke desa wisata Tuksongo tentang Jataka fabel stories, hewan.

“Di desa wisata Kenalan, wisatawan akan dikenalkan dengan ilmu perbintangan. Di Desa Suroloyo diperkenalkan tumbuhan di sekitar candi seperti jagung, asem dan pisang.

Sementara di Desa Sambing diperkenalkan cara pembangunan candi, memakai batu untuk membangun candi borobudur. Terakhir ke Desa Bumiharjo. Di sini wisatawan dihibur  musik-musik dan tarian tradisional seperti kentrong, topeng ireng dll.

Setelah seharian di ajak keliling desa wisata, para turis kemudian diajak beristirahat di penginapan. “Tetap dengan protokol kesehatan ketat. Masih di masa pandemi ini, para turis dites swab antigen sebagai syarat untuk tinggal di penginapan. Di penginapan itu, para turis bisa beristirahat sore, mandi sekaligus makan malam,” papar Ketua Koperasi Pemasaran Tani Mart Indonesia ini.

Selama empat hari di penginapan, wisatawan disuguhi film pendek dalam format audio visual. Sebelumnya mereka diberi pengantar tentang acara yang bertema “Wellness Tourism – Journey into The Light” oleh panitia dan pendamping.

“Sambil santai usai makan malam, wisawatan menikmati film pendek candi Borobudur sebagai penggambaran perjalanan hidup manusia menuju pencerahan dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Dalam film itu digambarkan tentang sosok Rakryan Panangkaran Ratu Pinandhita penggagas pembangunan Borobudur, membangun Candi Sewu, menyepi di Pesanggrahan Boko (Abhayagiri), memiliki devosi kepada Tara dengan membangun Tharabhavana di Candi Kalasan, membangun Candi Sari sebagai asram para bhiku.

Esoknya, para wisatawan di ajak berkeliling ke berbagai candi sebagai bentuk nyata dari sepenggal film yang semalam mereka lihat.

Di Candi Sewu, wisatawan diberi wawasan tentang gambaran kebesaran kerajaan. Di Candi Sari sebagai asram para bhiku, candi Kalasan : candi devosi kepada Dewi Tara; Ratu Boko, meditasi hingga matahari tenggelam.

Di etape kedua, wisatawan diajak mendengarkan paparan narasumber mengenai konstruksi Borobudur. “Dalam paparannya, nara sumber menjelaskan secara detail bagaimana proses pembangunan candi sebagai salah satu keajaiban dunia itu,” rincinya.

Dalam penjelasannya, para turis diperkenalkan tentang pemilihan media batu, konstruksi & konfigurasi relief. Disediakan pula tentang relief-relief penting.

Di etape ketiga, wisatawan dijelaskan tentang proses konstruksi candi Borobudur. Bahkan mereka diajak menyaksikan demo pahat batu oleh ahli pemahat batu setempat.

“Praktik memahat batu itu dibuat dalam suasana meditatif oleh peserta. Mereka berpakaian khusus, baju & destar, peralatan safety (sarung tangan). wisatawan juga dibekali peralatan & bahan berupa palu kayu, alat pahat besi, batu, dan sketsa.

“Tentu saja dalam wisata ini mereka diberi sajian jamu tradisional, peralatan minum kendi dan makanan tradisional,” tambahnya.

Di hari keempat, wisatawan diperkenalkan candi Borobudur sebagai piwulang. Para wisatawan diajak mengikuti paparan mengenai sejarah dan tujuan berdirinya candi Borobudur, makna relief dan sejarah keterkaitannya dengan desa-desa di sekitaran Borobudur.

“Termasuk disajikan khasanah kekayaan flora, kuliner, alat musik, desain rumah dalam relief, cerit dan kisah dongeng nusantara dalam relief dan paparan tradisi Waisak;

Hari kelima, perjalanan wellness tourism bertema ‘Menuju Cahaya’. Kegiatan ini berupa melihat sunrise yoga sembari sarapan pagi di Bukit Dagi.

Para wisatawan diajak mengunjungi Vihara Mendut untuk meditasi, mengikuti Prosesi Waisak dari Candi Mendut, Pawon dan masuk ke Candi Borobudur,.

“Usai prosesi Waisak, wisatawan diajak istirahat di penginapan. Esok paginya sesudah sarapan pagi, mereka siap berkemas. Siangnya checkout dari penginapan menuju bandara untuk pulang,” tutupnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top