Gaya Hidup

Yuk Cobain Spa Tangas Betawi Biar Sehat, Bugar, Organ Intim Wanita Dijamin Tetep Rapet Lho…

Penulis: Heru Sutrisno
Ayonews, Jakarta
Dalam tatanan masyarakat Betawi relijius, proses kelahiran, perkawinan dan kematian merupakan serangkaian daur kehidupan yang harus dilalui dan dilengkapi dengan serangkaian upacara dan prosesi adat.

“Falsafah Betawi didasarkan sifat relijius, sederhana, egaliter atau sederajat, humoris, namun tetap menjaga sopan santun, menghormati yang lebih tua dan menghormati tetamu,” kata peneliti kebudayaan di Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra di tengah diskusi Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021, Jumat (17/9/2021) secara virtual bersama Kepala BPOM Husniah R.Thamrin, di Jakarta.

Selain itu, lanjut Yahya, orang Betawi memiliki watak humoris, tenggang rasa, familiar, terbuka, spontan, terkesan cuek tapi peduli pada lingkungan sekitar. “Secara latar belakang, berdasarkan literatur sejarah, kebudayaan Betawi merupakan hasil sebuah proses panjang asimilasi peradaban yang berasal dari berbagai bangsa,” ujar Yahya.

Di masa silam, Kota Sunda Kelapa yang kemudian bernama Jayakarta atau Batavia, merupakan kota dagang yang paling ramai di nusantara. Berbagai suku bangsa singgah di kota ini. Bahkan tak sedikit akhirnya memilih menetap dan menjadikan tanah Betawi sebagai tempat untuk hidup, mencari nafkah dan berketurunan. Sehingga terjadilah interaksi sosial budaya.

“Aslinya, nenek moyang orang Betawi yang merupakan penduduk asli telah ada sebelumnya di zaman kejayaan kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 masehi,” tambah Yahya.

Dari pengaruh dan campuran berbagai bangsa ini kemudian memunculkan tipikal peradaban masyarakat baru yang dikenal sevagai Kebudayaan Betawi. “Budaya Betawi itu penggalan budaya Arab, India, China, Sunda, Jawa, Eropa, Melayu dan lainnya, kemudian  membaur  sehingga mengkristal dalam perpaduan ragam budaya masa silam. Secara utuh menjadi budaya Betawi,” papar Yahya.

Nggak heran, lanjut Yahya, sebagai suatu kelompok etnis, orang Betawi memiliki berbagai corak & ragam budaya yang melingkupi berbagai sektor kehidupan.

Yahya menegaskan, meski jaman sudah berubah dan semakin maju,  orang Betawi sebagai penduduk asli ibu kota tetap eksis di tengah derasnya arus urbanisasi. “Keragaman budayanya masih bisa dinikmati. Mulai bidang tata boga, seni tari, seni drama, seni suara, tradisi, tata busana, termasuk tata cara pemeliharaan kesehatan dan kebugaran, “ urainya.

Yahya mencontohkan dalam budaya pernikahan. Tempo dulu, bila suatu keluarga mempunyai anak lelaki yang sudah berangkat dewasa dan sudah pantas untuk berumah tangga, maka orangtua akan berinisiatif meminta tolong seorang perantara atau mak comblang mencarikan calon mantu.

“Bagi masyarakat Betawi, belum menikah pada usia tertentu bakal menjadi bahan gosip atau bahan gurauan tidak sedap bagi yang bersangkutan dan keluarganya,” jelasnya.

Ketika telah ada kecocokan antara pria dewasa dan wanita calon pasangannya, maka acara diteruskan dengan melamar. Proses lamaran ini dilakukan dengan tata cara adat yang sudah ditentukan. Kemudian diikuti dengan tunangan. “Orang Betawi ketika tunangan atau membawa tanda putus biasanya memberikan sebuah cincin berbentuk belah rotan dan berbagai persaratan adat lainnya,: jelas Yahya.

Setelah acara membawa tanda putus , kedua calon mempelai menunggu & mempersiapkan keperluan pelaksanaan akad nikah. “Masa ini dimanfaatkan untuk memelihara none calon mantu. Yang memelihara itu disebut piare calon none penganten,” tambahnya.

Dalam fase ini, sambung Yahya, disebut masa piare. Tujuannya untuk mengontrol kegiatan, kesehatan serta memelihara kecantikan calon none penganten. “Selama masa piare calon none, mantu harus memakai kain sarung serta kebaya berlengan longgar,” cetusnya.

Selain itu, si none mulai melakukan perawatan. Seluruh tubuh diurut dan dilulur sekali sehari. “Dia juga diharuskan banyak berdzikir, membaca shalawat dan surat Yusuf,” tambahnya.

Dalam proses lulur ini menggunakan ramuan borehan atau lulur Betawi. Bahan lulur itu berupa tepung beras (oryza sativa), kulit telur, temu giring, kunyit (curcuma domestica), kencur (kaempferia galanga), daun delima (punica granatum), laos merah (alpinia galanga), daun asem (tamarindus indica), daun kemuning (murraya paniculata), daun beluntas (pluchea indica), air jeruk purut (citrus hystrix).

“Ramuan ini ditumbuk, dibentuk bulat lalu dijemur,” tambahnya.

Mandi Kembang

Selain lulur, calon pengantin perempuan juga harus melalui acara mandi kembang. Selama satu bulan, si none harus melakukan diet pantang gorengan & makanan berlemak, rajin minum jamu godogan, jamu air secang, dilulur dan banyak berdzikir.

“Termasuk tidak boleh bercermin selama satu bulan sampai datangnya hari bahagia,” tambahnya.

Jadi, lanjutnya, Spa Betawi atau Tangas atau Seger Buger Betawi ini sejatinya sebagai ramuan dan jamu untuk calon pengantin yang akan melakukan prosesi pernikahan. Meski dalam perekembangannya, juga bisa dipakai bagi wanita yang sudah berumah tangga untuk perawatan kesehatan dan kecantikan.

Ramuan tangas ini terdiri dari pinang muda (areca catechu), tai angin (usnea barbata), biji kedaung (parkia roxburghii), kapulaga (elettaria cadamomum), jahe (zingeberis officinale), kayu manis (cinamomum burmanii), secang (caesalpinia sappan), sereh (cymbopogon citratus/nardus) dan buah maja (aegle marmelos).

“Ramuan ini harus digodog dulu. Setelah jadi baru diminum,” jelas Yahya.

Proses siraman dan tangas dilakukan sehari sebelum akad nikah. Sang calon pengantin, harus mempersiapkan peralatan, kembang setaman atau tujuh rupa, ramuan tambahan berupa jeruk purut, pandan wangi, akar wangi, daun mangkokan, daun sereh, dll.

Sementara peralatan yang harus disiapkan di antaranya paso gerabah, kursi rotan bolong-bolong atau bale pelupu (kursi yang bagian tengahnya diberi lubang), kemudian tikar pandan yang dilapisi bahan tipis atau brokat dengan hiasan renda-renda keemasan dan penutupnya.

Sehari sebelum akad berlangsung, calon pengantin perempuan memakai kain sarung dan berkebaya tipis. Rambut dikonde sederhana dan ditutup kerudung tipis untuk menahan bunga dari air siraman dan seluruh tubuhnya yang masih berlulur.

Di saat bersamaan, calon pengantin perempuan memohon izin dan doa restu kepada kedua orangtua untuk melaksanakan acara Tangas sebagai persiapan menuju pernikahan esok hari. “Dalam permintaan restu, sang calon mempelai berdoa semoga selama mengarungi hidup berumah tangga tetap dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT,” tambahnya.

Lalu calon pengantin perempuan digandeng ke tempat siraman diiringi shalawat badar oleh para undangan. Calon pengantin perempuan didudukan di kursi yang berlubang kemudian dimandikan oleh tukang piare menggunakan air kembang setaman. Prosesi ini kemudian diikuti orangtua & orang yang dituakan. “Sambil memandikan tukang piare tidak henti membaca shalawat & dzikir,” katanya.

Seger Buger Betawi atau Tangas ini juga identik dengan mandi uap menggunakan ramuan berupa bunga mawar, kenanga, cempaka, melati, akar wangi (andropogon zizanioides), jeruk purut (citrus hystrix), sereh (cymbopogon citratus), pandan wangi (pandanus amaryllfolium), daun bluntas (pluchea indica), daun kemuning (murraya paniculata), serutan kayu secang (caesalpinia sappan), daun dilem (coleus), kulit buah delima (punica granatum) dan klabet (trigonella foenum-graceum).

“Kembang setaman dan segenap ramuan dimasak dalam air sampai mendidih lalu dituang ke dalam paso. Sementara calon pengantin perempuan duduk di atas kursi bolong-bolong dan di bawah kursi diletakkan paso yang mengepulkan uap,” terang Yahya.

Kemudian, calon pengantin perempuan dikerudungi atau ditutupi menggunakan kain atau tikar pandan berukuran 1 x 1 meter. Bagian atasnya ditutu agar uap ramuan tidak keluar tertiup angin,” tambahnya. Seger Buger dikerjakan sampai tukang piare yakin aroma ramuan telah meresap ke tubuh si none. Biasanya dilakukan selama 15 -20 menit.

Hasil Seger Buger Betawi itu akan menghasilkan tubuh calon pengantin perempuan akan harum. Sebab, aroma mangir dan lulur serta jamu yang diminum selama dipiare berbaur dengan wangi yang keluar dari tubuhnya.

Kelebihan dari Seger Buger Betawi ini calon pengantin perempuan tidak akan berkeringat ketika dirias atau saat duduk di pelaminan. Selain itu juga bermanfaat menghaluskan kulit,melangsingkan tubuh, mengetatkan vagina atau organ intim wanita agar selalu terasa rapet.

“Setelah proses Seger Buger itu dilakukan, diakhiri dengan diberikan godokan sereh dan jeruk purut atau bir pletok. Calon pengantin perempuan juga dibekali jamu papakan ketumbar yang boleh dimakan kapan saja,” tandasnya.

Selesai Tangas dilanjutkan minum Bir Pletok untuk menghangatkan dan menyehatkan badan. Bir pletok merupakan ramuan yang terdiri dari jahe (zingiberis officinale), serutan kayu secang (caesalpinia sappan), sereh (cymbopogon nardus), daun pandan (pandanus amaryllfolium), kayu manis (cinnamomum burmanii), cengkeh (syzygium aromaticum), daun jeruk (citrus hystrix), kapulaga (eletteria cardamomum), buah pala (myristica fragrans) dan gula batu.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top