Gaya Hidup

Spa Peranakan, Hasil Asimilasi Budaya Nusantara, Melayu dan Tionghoa ini Bermanfaat untuk Kesehatan, Kecantikan dan Perawatan Tubuh

Penulis:Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
Spa peranakan, ethno wellness perpaduan antara budaya Melayu dan China. Spa ini sudah berkembang sejak lama. Dimulai dengan datangnya utusan kekaisaran Tingkok dinasti Ming, Panglima Ceng Ho di tanah nusantara pada abad ke 15 masehi.

Peranakan adalah istilah yang digunakan untuk keturunan imigran Tiongkok di akhir abad ke-15 dan ke-16 ke wilayah nusantara di masa penjajahan kolonial. Saat itu, populasi etnis Tiongkok di Selat Inggris menyatu dengan masyarakat di pemukiman Malaya dan Pulau Jawa. Mereka mengadopsi sebagian atau seluruhnya adat nusantara, kemudian diasimilasi ke dalam komunitas lokal.

Peranakan berasal dari kata anak, anak atau keturunan untuk melahirkan anak, anak campuran pernikahan campur lahir secara lokal & campuran darah. Namun demikian, istilah peranakan eksklusif merujuk ke masyarakat Tionghoa.

“Terkait dengan Spa peranakan identik dengan Kota Semarang. Karena memang ada sejarahnya. Ada filosofi penyembuhan, konsultasi, diagnostik dan terapinya, ” jelas Pembimbing PERDAWERI (Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik & Regeneratif Indonesia), dr med. Dr. Maya Suryadjaja M GIZI, SPGK, FAAMFN, di tengah diskusi Forum Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). PERDEWARI itu sendiri adalah wadah peminatan dalam ilmu anti-aging dan estetika di bawah Ikatan Dokter Indonesia cabang DKI Jakarta.

Menurut dr Maya, spa peranakan ini diperkaya dengan ramuan herbal dan rempah-rempah dalam menjaga imunitas tubuh.

Bicara soal sejarah, spa peranakan ini berawal dari adanya pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara ribuan tahun silam. “Ada budaya unik & hidup di Tenggara Asia. Terutama di Indonesia, Malaysia, Singapura & Phuket, Melayu kuno, ” ungkap dr Maya.

Dari pengaruha China & Eropa inilah, lanjut dr Maya, membentuk budaya lain, membentuk peranakan yang kohesif & bersatu, serta menjadi identitas abad ke-15

Beberapa negara atau kota kecil di Semenanjung Malaya sering membayar penghargaan untuk berbagai kerajaan China dan Siam sebagai hubungan dekat dengan China di awal abad ke-15.

“Saat itu, di masa pemerintahan Parameswara ketika Laksamana Zheng He (Cheng Ho), seorang Muslim Tionghoa, mengunjungi Malaka dan Pulau Jawa pada tahun 1405–1433,” terangnya.

Menurut legenda, di tahun 1459 masehi, kaisar kerajaan Tiongkok mengirim seorang putri, Hang Li Po untuk dipersembahkan kepada Sultan Malaka sebagai tanda penghargaan atas upetinya.

Para bangsawan terdiri dari 500 putra menteri dan pelayan yang menemani sang putri, awalnya menetap di bukit China (Malaka). Dalam perjalanan sejarahnya, orang Tionghoa kelahiran Selat inilah yang dikenal sebagai Peranakan.

“Termasuk menjadi elit di Singapura. Saat itu Singapura lebih setia kepada Inggris daripada China, ” terangnya.

Sebagian besar telah hidup selama beberapa generasi di sepanjang Selat Malaka. Namun tidak semuanya kawin campur dengan orang Melayu setempat. Namun juga dengan pedagang, perantara Inggris dan China atau Tionghoa dan Melayu, atau sebaliknya.

Dalam generasi selanjutnya, mereka memiliki kemampuan berbicara dua bahasa atau lebih. Sebagian dari mereka bahkan kehilangan kemampuan dalam berbicara bahasa China saat mereka berasimilasi dengan budaya Semenanjung Melayu.

“Peranakan itu mulai berbicara bahasa Melayu dengan lancar sebagai yang pertama atau kedua bahasa, ” tambahnya.

Masuknya pedagang Tiongkok ke Asia Tenggara juga berpengaruh besar. Saat itu, kekaisaran mengeluarkan dekrit tidak mengizinkan wanita keluar dari Tiongkok. “Karena itulah banyak pria Tionghoa menikah dengan penduduk lokal di Selat Malaka, ” cetusnya.

Peranakan sendiri kemudian bermigrasi ke Malaysia, Indonesia dan Singapura. Karena memiliki kesamaan budaya yang tinggi antara peranakan di negara-negara tersebut

Di bawah pemerintahan kolonial Inggris secara inheren terkait dengan kolonisasi Semenanjung Malaya dan pulau-pulau Indonesia, peranakan itu kebanyakan menjadi pedagang, saudagar atau pengusaha sukses, kaya & berpengaruh.

Dari situ juga muncul perbedaan antara keluarga Tionghoa Asia Tenggara yang mapan dan imigran China yang lebih baru & lebih miskin.

“Alasan ekonomi atau pendidikan mendorong migrasi antarPeranakan di wilayah nusantara (Malaysia, Indonesia dan Singapura). Bahasa kreol mereka sangat dekat dengan bahasa asli mereka, yang membuat adaptasi jauh lebih mudah, ” papar Doktor der Medizin yang meraih Doctoral Program,dissertation di Universitaet Berlin, Germany 1989 ini.

Permukiman Tionghoa peranakan pertama didirikan pada abad ke-10 di Pulau Jawa. Saat itu Majapahit menjalin jalur perdagangan dengan China. Kuil Tionghoa Peranakan pertama di awal abad ke-15 berdiri di kota pelabuhan Semarang. Kuil China itu menjadi tertua di seluruh Asia Tenggara

“Ma Huan, seorang pencatat yang menemani penjelajah laut hebat Zheng Ho (Panglima Cheng Ho) dari Dinasti Ming yang melakukan hubungan dengan Majapahit, ” paparnya.

Meski demikian, lanjutnya, peranakan memiliki derajat darah pribumi yang dapat dikaitkan dengan fakta bahwa selama kekaisaran Tiongkok, sebagian besar imigran adalah pria yang menikah dengan penduduk setempat wanita.

“Peranakan di Indonesia memiliki kulit tubuh bervariasi antara sama aslinya, hingga berwarna cokelat tembaga, ” tambahnya.

Tradisi Spa

Kemudian, dari proses asimilasi ini, muncullah bentuk kebudayaan peranakan. Termasuk dalam ethno wellness.

“Seperti dalam penambah kekebalan tubuh menggunakan bumbu dan rempah-rempah. Ada tradisi kurungan 1 bulan di mana wanita kurungan tidak diperbolehkan mandi atau mencuci rambut,” ujarnya.

Soal ramuan kekebalan tubuh, dr Maya menjelaskan, dalam membuatnya ramuan rumput direbus dalam kaleng drum untuk mandi.

Ada juga tradisi pijat Swedia klasik. Pijat ini menggunakan oles tapel perut. Tapel tersebut berupa sirih, jahe, klabet, jeruk nipis, minyak kayu putih, gurita, bengkung, pilis dahi, ganthi, kencur, kunyit, papermint dan kenanga. Termasuk yang tidak wajib adalah parem ( pijat kaki).

Dalam tradisi peranakan juga ada makanan untuk mendapatkan kekuatan, makanan sehat, seimbang dan bergizi. Pola makan diatur dalam mingguan.

Misalnya dalam minggu pertama membuat sup untuk mengatasi darah dan angin yang menyumbat. Yakni sup ayam herbal China. Terdiri dari ayam kecap bawang merah, kelengkeng kering dan kurma merah.

“Tidak Ada Makanan Laut dianggap beracun dan sebaiknya dihindari, ” jelasnya.

Kemudian ada makanan ayam arak. Ayam arak ini terdiri dari jahe cincang sangrai atau jemur dikeringin. Kemudian ayam digongseng sampai wangi. Masukkan arak 1 botol sampai 1,5 botol. Kukus sampai empuk. Tambah minyak wijen anggur manis, rendah alkohol memfermentasi beras ketan yang baru dikukus dengan ragi dan mata air.

Pada minggu kedua, makanan berupa sayuran brokoli, wortel, capsicum, kacang polong salju. Pada minggu ketiga setelahnya, makanan bergizi dengan keseimbangan sup tonik yang baik. Banyak sup tonik yang berbeda. Cordycep ganda direbus dengan ayam. Sup ayam hitam ginseng. Ayam direbus dengan anggur dan ‘tong kwai’ dll. Menu ini dimasak setiap malam untuk makan malam.

“Berbagai jenis anggur bisa dipakai. Di antaranya anggur jahe, anggur beras merah, anggur beras kuning, anggur kurma hitam dan anggur kurma biru, ” terangnya.

Ada konsep dapur nyonya. Kombinasi spesial yang menyajikan makanan Peranakan Dapur khas Nyonya. Makanan dengan kosep campuran kunyit, jahe, bawang merah, lengkuas, daun bawang, terasi udang. Lemon, limau, asam, mangga hijau, jeruk daun dan santan. Ini merupakan perpaduan menarik dari bahan-bahan yang ditumbuk bersama dalam mortar dan dimasak dalam minyak.

Dalam beberapa dekade kemudian, ada ramuan perawatan spa. Berupa campuran telur, gula aren, jahe, sarang burung walet, pandan, pala dan limau kasturi.

Menurut dr Maya, dalam filosofi peranakan penyembuhan menentukan orang yang dominan dingin atau hangat. Seperti untuk kesehatan kulit, suhu, pencernaan & pola tidur. “Terapis yang bisa menentukan masuk dalam pemanasan atau pendinginan,” tambahnya.

Berdasarkan kepercayaan China, sambungnya, kesehatan itu berasal dari kebaikan keseimbangan yin dan yang (prinsip wanita & pria). “Terapi spa yang cocok untuk energi dingin atau hangat seseorang. Energi dingin terlalu banyak Yin→ perempuan zhaoliang (着凉 “menahan dingin”), ” jelasnya.

Untuk perawatan wajah, air liur sarang burung walet sebagai bahan utamanya. Diterapkan dengan roller batu giok. Kemudian, masker terbuat dari tapioka yang difermentasi, lulur gula aren & madu, pijat tubuh pala panas & nasi gulung. “Sementara untuk masker rambut menggunakan daun pandan & kelapa hangat untuk mencipatakan energi seimbang. Orang terlalu banyak panas (yang → laki-laki) shanghuo (上火 “menangkap panas”).

Untuk menutup pori-pori dan mengencangkan otot-otot wajah, menggunakan masker dari irisan belimbing wuluh segar. Sementara untuk lulur tubuh ditambah yoghurt & daun jambu biji cincang. dengan sifat antibiotik alami

Terapi tubuh menggunakan gulungan telur rebus pada tubuh. Sementara masker rambut jeruk nipis dan yoghurt. Untuk lulur Melayu menggunakan campuran beras, kunyit, pala dan laos agar peredaran darah lancar di dalam tubuh.

“Urut Melayu (massage) menggunakan minyak aroma manis permen peranakan untuk mencegah prolaps uteri, mengurangi kembung, melancarkan peredaran darah, melenturkan otot tegang, bahu kaku, menghilangkan stres,” paparnya.

Dengan titik akupresur keseluruhan “chi” dibungkus hangat atau dingin menggunakan herbal bungkus campuran serai, jahe,
lengkuas dan kapur barus. Kemudian dioleskan ke tubuh, dibungkus dengan seprai hangat untuk membantu detoksifikasi, mengurangi retensi air, meredakan nyeri sendi dan otot.

Ada juga tradisi mandi teh bunga. Bunga yang baru dipetik mengisi bahan dasar teh (berupa daun teh China) untuk mandi. Fungsinya mengawetkan wajah dan anti-penuaan.

Sarang burung merupakan salah satu bahan berharga asal China dipuji karena sifat penyembuhannya dalam meningkatkan kekebalan dan, perawatan rambut dan panjang umur.

Ada juga ritual perawatan rambut berupa kebiasaan nencuci, menyisir ‘sisiran’ & pijat kulit kepala selama 15 menit menggunakan kelapa pandan manis kental dan masker rambut. Minyak berbasis kelapa digunakan dari generasi ke generasi. Ada melati dan kembang sepatu bunga-bunga untuk memperbaiki dan mengkilaukan rambut

Untuk meningkatkan kekebalan tubuh menggunakan herbal dan rempah-rempah. Kunyit (curcuma longa linn) atau zingiberaceae. Hampir 4000 tahun budaya Veda di India menggunakan ramuan kunyit Itu. Tradisi itu baru mencapai China pada 700 Masehi.

Menurut dr Maya, kunyit mengandung kurkumin sifat anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan tubuh, memperbaiki dengan cepat metabolisme di hati dan dinding usus, memperbaiki aliran darah yang buruk.

“Mengkonsumsi lada hitam juga bagus. Karena lada hitam mengandung piperin, zat alami meningkatkan penyerapan kurkumin sebesar 2.000%,” tutupnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top