Gaya Hidup

Desa Wisata Sumberbulu, Sajikan Edukasi dan Ekowisata Berbasiskan Kearifan Lokal

Penulis: Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
“Aku tinggalkan kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.”

Demikian pesan the founding fathers, Ir Soekarno tentang betapa kayanya negeri ini. Sehingga, bila dikelola sendiri, negara-negara di belahan dunia lain akan tertinggal. Indonesia akan menjadi negara paling maju dan kaya raya di dunia

Dari sepenggal pemikiran bapak bangsa itu pula akhirnya berdiri sebuah desa wisata di Dusun Sumberbulu, Desa Pendem, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Untuk mencapai desa ini, hanya perlu menempuh perjalanan sepanjang 23 kilometer dari Kota Solo, 13 kilometer dari Karanganyar dan 16 kilometer dari Sragen. Destinasi wisata desa ini pun tak terlalu jauh untuk menuju kawasan wisata Tawangmangu yang hanya ditempuh sejauh 16 kilometer.

Desa wisata Sumberbulu menyajikan edukasi dan ekowisata berbasiskan kearifan lokal. Desa yang mulai dicanangkan pada 2017 itu, dalam waktu tiga tahun sudah berkembang.

Di 2018, desa wisata ini dirintis. Launching desa wisata resmi digaungkan pada Kamis (25/7/2019) malam. Dimeriahkan pawai obor, kesenian lesung, bazar kuliner, hasil bumi, seperti singkong, padi organik dan kerajinan berbahan dasar bambu,

Gong peresmian pun dipukul oleh Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Agus Cipto Waluyo, Kades Pendem, Heru Murwanto dan Camat Mojogedang, Sutrisno

Dengan adanya desa wisata ini, mereka berharap dapat mendukung serta mengembangkan prekonomian masyarakat setempat. “Menumbuhkan ekonomi perlu adanya ekonomi kreatif. Bagaimana mengidentifikasi potensi wilayah masing-masing,” kata Agus Cipto.

Menurutnya, demi kemajuan ekonomi kreatif perlu memperhatikan dua hal, seperti mempertahankan mutu dan pemasaran produk. ”Kami berharap ini betul-betul digarap sebaik-baiknya. Jangan sampai mengecewakan pengunjung. Pemasaran produk tidak cukup pada tingkat desa atau kecamatan dan kabupaten saja. Tapi juga harus mendunia,” terangnya.

Kades Pendem, Heru Murwanto menyampaikan, Desa Pendem sudah memenuhi tiga kriteria sebagai desa wisata. Seperti wisata alam, budaya dan wisata buatan.

Dengan adanya desa wisata ini juga sesuai dengan visi misi Kabupaten Karanganyar, menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

“Kalau wisata desa orang hanya berkunjung, tapi kalau desa wisata orang bisa menginap, ” kata Kades saat itu.

Di Desa Pendem ada beberapa wisata alam berupa sendang. Ada 13 sendang yang tersebar di 6 dusun. Ada pula goa yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter.

Selain wisata alam, ada pula wisata buatan. Seperti taman belimbing, jambu, dan durian. Begitu juga wisata kesenian berupa lesung dan kesenian reog.

Dalam diskusi di acara Indonesian Wellness Tourism International Festiva (IWTIF) 2021 Titin Riyadiningsih, manajer Desa Wisata Sumber Bulu, mengatakan visi pesona alam Desa Sumberbulu dan kearifan lokal masyarakatnya merupakan sumberdaya pariwisata Indonesia yang bisa dimanfaatkan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan para pelaku wisata.

Selain itu, visi desa wisata ini untuk memenuhi pengalaman dan sensasi terdalam wisatawan dengan tetap melestarikan kearifan lokal dan alam untuk kembali dipergunakan oleh generasi mendatang.

“Pawisata yang melahirkan kebaikan yang berkesinambungan pada alam, masyarakat dan pelaku wisata akan menjadi desa wisata mandiri terbaik di Indonesia di tahun 2025 mendatang,” harap Titin.

Sementara misi dibangunnya desa wisata Sumberbulu itu, menurut Titin, untuk memberikan pengalaman perjalanan wisata yang unik, berbeda kepada wisatawan. Namun tetap berdasarkan pada prinsip kualitas dan profesionalisme, komitmen dalam pelayanan dan orientasi kemitraan.

” Menjadi kelompok sadar wisata terdepan di Indonesia yang mengusung nilai-nilai wisata ramah dan fokus hanya pada wisata alternatif. Turut berperan aktif membangun dan mengembangkan desa-desa wisata di Karanganyar dan zona-zona penyangganya dengan berpijak pada prinsip wisata ramah,” paparnya.

Titin berharap, Desa Sumberbulu ini bisa ikut serta membangun Indonesia dari desa wisata dengan berpedoman pada prinsip segitiga wisata ramah (the golden of  triangle of wisata ramah).

“Mampu membangun kerjasama dengan stakeholder dalam pengembangan desa wisata dan pariwisata di Indonesia,” jelasnya.

Titin menyebutkan beberapa destinasi wisata yang bisa dinikmati di Desa Sumberbulu ini. Pertama, kegiatan kemping.

“Wisata ini bersifat melatih mental, disiplin, mencintai lingkungan, menghargai alam dan menikmati keindahan alam desa wisata Sumberbulu, ” jelasnya.

Pengunjung yang memilih paket amazing camp ini akan diantar ke lokasi kemping yang jauh dari pemukiman warga. Kemudian di sana diajarkan cara mendirikan tenda yang benar, termasuk cara bertahan hidup di alam.

Amazing camp itu bertujuan mendidik atitude atau sopan santun atau tata krama apabila sedang berada di alam terbuka. Amazing camp dapat membentuk karakter seseorang untuk saling menghargai terhadap apapun, ” tuturnya.

Paket yang ditawarkan pun terbilang murah. Mulai dari harga Rp 40 ribu rupiah. Dengan minimal order 5 orang selama dua hari satu malam, bisa puas menikmati keindahan alam desa.

Ada pula wisata live in, yakni kegiatan belajar di luar kelas. Tujuannya agar wisatawan dapat merasakan aktifitas warga di pedesaan.

Dalam kegiatan live in ini diharapkan para wisatawan atau peserta  dapat memiliki sikap untuk menghargai orang lain, belajar mandiri, disiplin waktu, dan lebih mengenal kegiatan warga Desa Sumberbulu.

“Harga paket ini Rp 120,000 untuk dua hari satu malam dengan minimal order 15 orang, ” tambah Titin.

Wisata lesungan beda lagi. Dalam wisata ini, peserta akan diajak belajar memainkan lesung oleh ibu-ibu kotek lesung.

“Memainkan lesung bukan suatu yang mudah. Karena memerlukan kekompakan. Tidak ada not atau tangga nada dalam memainkannya. Karena itu menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan untuk  mencoba paket ini, ” terang Titin.

Di akhir acara, wisatawan harus bisa menyuguhkan suguhan sendiri yakni memainkan lesung dengan tembang-tembang yang biasa dimainkan warga.

“Di antaranya ngereog. “Ngereog diambil dari kata reog atau reogan. Mungkin tidak asing dengan kata tersebut. Tapi, ada perbedaan antara reog di desa Sumberbulu dengan reog di daerah lainnya. Walau nanti bisa disebut kesenian budaya yang berbeda, tapi masyarakat di sana menyebutnya reog dari zaman nenek moyang, ” jelas Titin.

Harga yang ditawarkan dalam lesungan ini dimulai dengan Rp 30,000 dengan minimal order untuk 30 orang dan durasi 3 sampai 4 jam.

Kemudian ada kegiatan wisata Sumberbulu experience. Sebuah wisata membuat jamu tradisional. Dalam kegiatan ini, ada edukasi cara membuat jamu tradisional dengan dijelaskan proses produksi, bahan yang digunakan dan cara mengemasnya.

“Harga wisata ini hanya Rp 35,000 dengan minimal order sebanyak 10 orang dengan durasi 2 – 3 jam, ” ungkap Titin.

Belajar memasak makanan tradisional dengan bahan dasar sederhana, tapi memiliki cita rasa yang sangat lezat jadi pilihan lain untuk wisatawan. “Dengan harga mulai: Rp 30,000 dan minimal peserta 10 orang dan durasi wisata 2- 3 jam, para peserta dapat menjadi ahli masak, meski berbahan sederhana, ” tambahnya.

Kemudian ada juga edukasi biogas. Wisata ini terkait tentang cara pembuatan gas yang bisa digunakan untuk membuat api untuk memasak dan juga untuk lampu penerangan.

Biogas sendiri berbahan dasar kotoran sapi. Bagi wisatawan yang tertarik dengan wisata edukasi ini cukup merogoh kocek Rp 25,000 dengan minimal order 10 sebanyak orang dan durasi edukasi selama2 sampai 3 jam. “Cukup murah kan,” tandas Titin.

Lebih lanjut Titin menjelaskan, desa wisata Sumberbulu ini berhasil meraih berbagai penghargaan. Di anataranya juara II Kampung Terang PLN UP3 Sukoharjo, Juara I nasional desa wisata binaan perguruan tinggi Kemenpar, Wakil Pokdarwis Kabupaten Karanganyar ke Jambore tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2019.

Desa Sumberbulu juga memiliki sertifikasi utama tingkat nasional sebagai Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dikeluarkan di tahun 2020, Desa Wisata Pendampingan Kemenparekraf 2021, 15 Nominator Apresiasi Pokdarwis tingkat Jateng 2021

Selain itu, Desa Sumberbulu sudah melakukan Mou dengan ADKI ( asosiasi Desa Kreatif Indonesia ) Kemendes dan Kemenparekraf 47 Desa Wisata Se-Indonesia, raih 6 Besar Lomba video gotong royong yang diselenggarakan Dispermadesdukcapil Jateng, 50 besar desa wisata terbaik anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dari Kemenparekraf

Dalam diskusi yang digelar IWTIF,  ada beberapa masukan untuk lebih memajukan desa wisata Sumberbulu yakni;
1. Penguatan daya tarik wisata
2. Penguatan modal sosial termasuk champion dan kelembagaan lokal
3. Peningkatan Kapasitas SDM
4. Peningkatan ragam, kualitas produk dan layanan, serta tata kelola destinasi
5. Penguatan ekosistem pariwisata lokal
6. Pengembangan sinergi dan kemitraan dengan swasta dan program pemerintah.

Sebagai wisata edukasi dan ekowisata berbasis kearifan lokal, menurut Titin perlu adanya keterlibatan masyarakat banyak. Dengan demikian akan memunculkan rasa sadar wisata dan sapta pesona.

Dari gagasan dan ide kreatif masyarakat ini muncul beragam produk baru unggulan Desa Wisata Sumberbulu. Di antaranya produk jamu tradisional 19 varian rasa, sanggar seni anak negeri putra-putri Sumberbulu dan tour guide dan trainer, penambahan fasilitas homestay dan destinasi wisata kuliner toya wening.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top