Gaya Hidup

Bedda Lotong, Spa Khas Bugis Rahasia Perawatan Tubuh Wanita Bangsawan Kini jadi Bisnis Menjanjikan

Penulis: Heru Sutrisno
Ayonews, Jakarta
Sebagian besar masyarakat Bugis tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Sesuai konteks lokal Sulawesi hingga luar Sulawesi, diaspora orang Bugis dikenal dengan perdagangan atau akses sumber daya manusianya.

Secara geografis, tanah Bugis terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di kawasan Indonesia bagian tengah. Mengutip
Mattulada (1998) orang Bugis bertebaran di luar daerah asalnya, seperti di Pagatan (Kalimantan Selatan), di sepanjang pesisir pantai Malaysia Barat, di pesisir pantai Sumatera dan pulau-pulau lainnya di nusantara.

“Dalam Pelras (2006) menyebutkan bahwa profesi orang-orang Bugis secara tradisional adalah bertani. Beberapa abad selanjutnya menjadi pelaut dan pelayar. Ada istilah pangngadereng, yakni kehidupan sosial masyarakat Bugis, seperti ade’, bicara, rapang, wari, shara’,” papar Antropolog dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Prof Dr Pawennari Hijjang atau akrab disapa Prof Hijjang saat menjadi pembicara di Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021, Senin (13/9/2021).
.
Terkait dengan Kemenparekraf mempromosikan spa tradisional sebagai potensi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif, salah satu anggota Indonesian Wellness Master Association (IWMA) ini menyatakan dukungannya.

Prof Hijjang menegaskan bahwa promosi spa nusantara ini merupakan upaya menjaga tradisi, meningkatkan riset rempah dan pembuatan wewangian untuk spa yang dihasilkan dari kekayaan nusantara.

“Upaya lainnya bisa melalui berbagai ajang atau kontes kecantikan dan perawatan tubuh tradisional dalam menjaga tradisi kearifan lokal,” paparnya.

Dalam adat Bugis, menurut Prof Hijjang, terdapat ethno spa yang sudah dikenal dengan filosofinya tellu sulapa eppa.

“Prinsip harmonisasi ini memiliki makna “tiga segi empat”. Ada empat unsur dasar kejadian manusia, ada empat kualitas alam sekitar manusia dan ada empat substansi cairan yang menyusun dalam tubuh manusia,” ungkap dosen Antropologi di FISIP Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Dengan adanya keterikatan dan kerjasama yang harmonis antara ketiga komponen tersebut, lanjutnya, maka orang akan menjadi sehat.

“Spa Bugis memiliki filosofi berada pada keseimbangan dan harmoni antarempat unsur dasar kejadian manusia, empat kualitas alam sekitar manusia dan empat cairan yang menyusun tubuh manusia,” ungkapnya.

Prof Hijjang mengatakan bahwa  tellu sulapa eppa itu menunjukkan bahwa pada hakikatnya asal kejadian dan beberapa ciri watak manusia. “Ada empat watak manusia sesuai sifatnya,” katanya.

Ia mencontohkan tentang watak orang yang suka marah tanpa motivasi tertentu atau cepat marah, berarti orang tersebut mengikuti sifat api. Orang yang mempunyai sifat rendah diri, tersinggung perasaannya tapi tidak menyebabkan cepat marah adalah mengikuti sifatnya tanah.

Sementara sifat angin artinya orang tidak memiliki sikap tegas, keputusannya tergantung pada orang banyak. Sifat air adalah sifat yang dapat menyesuaikan dengan lingkungannya, namun sifat ini juga dipandang tidak konsisten karena keputusannya tergantung di mana ia berada.

“Apabila salah satu hawa memberi pengaruh terlalu kuat terhadap tubuh akan menjadikannya sakit. Karena itu, penting menjaga keseimbangan alam. Antara api, tanah, air dan angin harus diseimbangkan,” jelasnya.

Tellu sulapa eppa juga, menurut Prof Hijjang, menujukkan substansi cairan tubuh darah mempunyai hawa panas.

Bolok atau lendir mempunyai hawa panas dan kering. Balakunyi atau empedu kuning berhawa dingin-kering. Essung atau empedu hitam mempunyai hawa dingin lembab,” paparnya.

Ethno wellness khas Bugis dalam praktik penyembuhan dan perawatan tubuh dipengaruhi oleh sistem pengobatan Arab-Islam. Ada istilah ‘lontarak pabbura’, wujud atau manifestasi kepandaian nenek moyang dalam mencatat sistem pengobatan dan perawatan tubuh ala Bugis,” ungkapnya.

Manifestasi dari spa Bugis itu diwujudkan dalam bedda lotong. Biasa juga disebut lulur hitam. Metode ini merupakan salah satu perawatan tubuh khas Bugis yang hampir punah.

“Mulanya, bedda lotong adalah rahasia perawatan tubuh wanita golongan bangsawan.
Kini menjadikan bedda lotong sebagai bisnis perawatan tubuh dan kecantikan yang menjanjikan,” ujarnya.

Prof Hijjang mengatakan, bedda lotong sebagai warisan nenek moyang ini masih banyak dipakai oleh calon pengantin.

“Ada banyak khasiat bedda lotong, yaitu untuk menghaluskan kulit, melembabkan kulit dan juga membuat kulit menjadi lebih segar,” terangnya.

Ramuan dalam bedda lotong ini mengandung banyak vitamin C dan vitamin E. Bedda lotong pun sangat baik sebagai anti oksidan dan penangkal radikal bebas.

Bagi perempuan Bugis, kata Prof Hijjang, merawat kulit tubuh adalah suatu keharusan. “Karena dalam adat Bugis, perempuan menjadi simbol martabat penting dalam keluarga,” tegasnya.

Sebenarnya, lanjut Prof Hijjang, bahan bedda lotong itu sederhana. Bahannya berasal dari beras biasa disangrai sampai hangus, daun pandan pemberi aroma khas yang kuat, akar ginseng disiapkan dan dicuci hingga bersih.

“Kemudian jeruk nipis segar sebagai bahan pencampur akhir untuk menciptakan efek dan aroma segar,” tutupnya.(***)

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top