Gaya Hidup

Jangjawokan, Mantra Ampuh Ethno Wellness Spa Sunda Pepernian Agar Awet Muda, Sehat dan Disayangi Banyak Orang

Penulis:Dedy Budiman
Ayonews, Jakarta
Dalam adat sunda, ethno wellness dikenal dengan pepernian. Selain untuk pengobatan alternatif dan kebugaran, dalam praktiknya tumbuhan menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi masyarakat adat Sunda.

Dalam salah satu kesempatan saat menjadi pembicara di acara virtual Indonesian Wellnes Tourism International Festival (IWTIF) 2021, antropolog Universitas Indonesia, Jajang Gunawijaya memaparkan bahwa spa atau wellness itu sendiri pada dasarnya merupakan tradisi yang diwariskan masyarakat adat Sunda secara turun-temurun.

“Sudah ada sejak jaman nenek moyang kita. Mereka sudah mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu dilakukan secara turun temurun,” ujar Jajang, Jumat (10/9/2021)

Meski demikian, jelas Jajang, masyarakat banyak yang tidak sadar bahwa tradisi dan budaya tersebut merupakan bagian dari spa atau wellness.

“Mengutip tulisan Yoyo R. Tambera pada 23/1/2020, secara sederhana, spa adalah keseimbangan dan harmoni bagi body, mind and soul.” ungkap Jajang.

Tumbuhan tradisional atau lokal yang merupakan bagian dari praktik Pepernian Spa Sunda, menurut Jajang, masih terlestarikan hingga kini.

“Pengetahuan tentang tumbuhan lokal dalam pengobatan merupakan bagian dalam tradisi etnik Sunda . Hingga kini, masih dipraktikkan dalam kehidupan perkampungan adat Sunda,” tambahnya.

Dikatakan Jajang, tumbuhan obat lokal tersebut mengandung beragam zat kimia yang bisa diteliti dan dikembangkan sebagai alternatif pengobatan lokal non medis.

“Mengutip dari berbagai sumber, di antaranya dalam catatan Butler, 2004, Haefner 2003, Harvey 2008, Mishra and Tiwari, 2011; Rey-Ladino et al., 2011, keragaman kimia bahan alam di tanah Sunda adalah sumber daya melimpah dan paling potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai obat tradisional baru,” tegasnya.

Dalam beberapa temuan penelusuran dari berbagai kajian riset yang berkaitan dengan tumbuhan lokal di perkampungan adat Sunda relatif masih berkembang dan digunakan dalam upaya menjaga kesehatan mereka.

Senada dengan Ira Indrawardana, antropolog Universitas Padjadjaran Bandung, Jajang membenarkan bahwa ethno wellness spa Sunda bisa diteliti dari berbagai naskah-naskah kuno para pelaku ethno spa Sunda masa lalu.

Jajang mencontohkan ethno wellness dari naskah Dalem Pancaniti (1834-1862). Dalam naskah tersebut berisi pasal-pasal yang membahas tentang tubuh manusia. Isi terkait ethno wellnes ini berasal dari naskah kuna Sanghyang Sasana Maha Guru koleksi Perpusnas RI.

“Beberapa pasal dimaksud di antaranya: pasal 1 menyatakan atas nama-nama dan unsur keadaan tubuh manusia. Pasal 2 membahas keadaan sakit yang dikarenakan salah makan atau berkaitan dengan sesuatu yang salah dimakan,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Jajang, di pasal 11 membahas salah makan atau terlalu gugup saat memakan. Pasal 19, membahas tentang kekurangan badan yang mengalami sakit tetapi tidak terlalu parah. Pasal 20 memabahas tentang penyakit dan nama-nama penyakit. Pasal 21 membahas kondisi orang yang baru bangun dari sakit menuju sembuh. Pasal 25 : menjelaskan manusia yang merasa kecewa terhadap kondisi tubuh atau dirinya.

Ethno wellness spa Sunda, tambah Jajang, tak terlepas dari istilah jangjawokan. Dalam kamus umum basa Sunda, jangjawokan artinya sebangsa jampe atau jampi-jampi atau mantra.

“Mantra tersebut bisa berupa puisi lisan atau syair yang memiliki pemaknaan kata atau mengandung unsur maksud tertentu untuk proses penyembuhan seseorang dari sakitnya,” jelasnya.

Jajang menambahkan, jangjawokan ini sifat dan wataknya terkesan magis. “Jika mengutip Danasasmita, 2001, jangjawokan memberikan kesan tersirat kekuatan batin dari ungkapan kata dan bunyi bahasanya,” tambah Jajang.

Sifat dan watak berkesan magis ini, lanjut Jajang, tidak bisa sembarangan bertuah. Jika diungkapkan harus dengan cara “dibeli” atau memenuhi persyaratan tertentu.

“Kegunaan jangjawokan itu sendiri untuk mengusir makhluk halus dan kekuatan lain yang dicurigai akan menganggu tubuh seseorang yang sakit. Selain itu untuk menumbuhkan keberanian, kekuatan, dan kesaktian diri. Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dari orang lain, dan sebagainya,” paparnya.

Jika dihubungkan dengan ethno wellness spa Sunda, jangjawokan ini disyairkan dalam beberapa kegiatan. Pertama, sesaat sebelum mandi. Janjawokan atau mantra mantra kinasihan agar disenangi atau dicintai orang lain. Ketiga, mantra awet muda, biasanya dipakai sambil mandi kembang.

Beberapa syair jangjawokan yang biasa diucapkan dalam adat sunda sebagai berikut: Nyiuk sinujum mara sinum, hiyang sinum barasatan. Nu ngariung siga tunggul, nu ngalayah siga kalakay. Ulah mupul sari aing, ulah mupul sisi aing.Ulah mupul sila aing, sari si itu si éta. Cahaya beunang ku aing.

Selain itu, ungkap Jajang, jangjawokan juga biasanya digunakan atau dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Selain mandi, bisa diucapkan saat menyisir rambut, berpakaian, berjalan, makan, tidur, bertemu orang, akan mengambil padi di lumbung, akan menumbuk padi, menyimpan beras, mencuci beras, dan untuk menjaga keselamatan dari berbagai bahaya dan ancaman hidup.

Menurut Jajang, banyak sekali jangjawokan atau mantra berbahasa Sunda lisan yang belum terungkap. Bahkan, mulai lenyap seiring meninggalnya sang penutur.

“Di antara para penutur itu ada yang enggan memberikannya, kecuali dengan persyaratan tertentu. Bahkan kepada keturunannya pun tak akan diwariskan sebelum memenuhi syarat-syarat tertentu,” tukasnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top