Gaya Hidup

Ethno Wellness SPA “Peperenian” Menjadi Salah Satu Destinasi Wisata Adat Sunda

Penulis: Heru Sutrisno

Ayonews, Jakarta
Adat Sunda kaya akan khasanah budayanya. Ethno wellness menjadi salah satu bagian dari keragaman budaya tersebut.

“Dalam tradisi ethno wellness Sunda, ada istilah “peperenian”,” demikian diungkapkan Ira Indrawardana, antropologi Universitas Padjadjaran, Bandung dalam Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2021 di Jakarta, Kamis (9/9/2021).

Ira mengungkapkan, ada empat kategori dalam ethno wellness Sunda. “Deskripsi singkat keempat kategori “peperenian” sunda ini bisa menjadi inspirasi untuk dikombinasikan dalam satu tema spa sunda. Tapi juga bisa dikemas dalam ethno wellness tourism dalam suatu atau beberapa destinasi wisata sunda,” terang Ira.

Mengutip kamus bahasa sunda, Ira mendefinisikan peperenian itu ‘naon-naon anu disimpen’. Artinya, berbagai hal yang tersimpan.

“Dalam konteks ini bisa termasuk ethno wellness yang masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat atau pustaka budaya Sunda,” jelasnya.

Ira mengatakan, masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat atau pustaka budaya lokal itu berupa pengetahuan perspektif etnik Sunda. Ethnik ini berkaitan dengan pengetahuan kebugaran, metode, ritual dan ciri-ciri kesehatan dari manusia.

“Istilahnya begini; baris dipaké dina waktu anu kacida perluna. Artinya, akan digunakan dalam waktu atau kondisi yang sangat diperlukan sekali,” paparnya.

Lebih detail lagi, Ira menjelaskan bahwa yang dimaksud sesuatu atau berbagai hal yang bisa sewaktu-waktu atau dalam skala waktu berkala sesuai kebutuhan akan digunakan ketika kondisinya benar-benar sangat dibutuhkan.

“Dalam konteks ethno wellness, knowledge sebagai peperenian, maka berkaitan dengan berbagai perspektif etnik (sunda) yang berkaitan dengan pengetahuan kebugaran, metode, ritual dan ciri-ciri kesehatan dari manusia yang masih dianggap penting. Bisa digunakan sewaktu-waktu atau sesuai kebutuhan secara berkala,” urainya.

Cacandran 

Terkait dengan kesehatan dan kebugaran, lanjut Ira, dalam tradisi Sunda terdapat sebuah konsep harmoni dan keseimbangan hidup antara manusia dan alam.

Budaya Sunda mengenal konsep moral guidance (petunjuk moral) dalam berbagai pepatah-petitih yang sarat makna moral dan dalam frase bahasanya berkaitan dengan unsur alam.

Adanya berbagai uga atau cacandran (pertanda perubahan jaman yang diungkapkan dalam rangkaian kalimat seloka yang mengandung unsur alam).

Istilah uga bagi masyarakat Sunda sudah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Barat masih hidup dan berjaya.

Lingkungan alam bagi orang Sunda dipercayai memberikan sumber kehidupan. “Manusia selain memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan juga memelihara dalam berbagai tradisi dalam upaya melestarikan alam,” jelasnya.

Dengan demikian, sambungnya lagi, sikap manusia Sunda yang sadar memelihara alam agar terjaga secara harmoni, menuntut kesehatan lahiriah dan batiniah dari dalam individunya itu.

“Menjaga kesehatan pribadi (lahiriah dan batiniah) sebagai upaya menjaga kebugaran diri sebagai “jagat leutik” (dunia kecil) juga selaras terimplementasikan dalam merawat kelestarian alam sekitar sebagai “jagat gede (dunia besar),” paparnya.

Ia mencontohkan pepatah petitih/peribahasa: “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak.Peribahasa ini kira-kira memiliki arti ‘gunung tidak boleh dihancurkan, dan lembah tidak boleh dirusak,” jelasnya.

Contoh Uga  Kabuyutan Cipaku Darmaraja Sumedang: “Lemah Sagandu Diganggu Balai Sadunya”(Apabila Kabuyutan Cipaku Diganggu Bencana Bagi Dunia).

“Percaya atau tidak, uga ini dianggap terbukti, manakala kawasan proyek waduk Jatigede ini dipaksakan untuk tetap dilakukan penggenanganan, maka sebelum dan setelah penggenangan terjadilah berbagai peristiwa bencana alam dan wabah pandemi covid-19 khususnya di Indonesia,” demikiam prediksi Ira.

Naskah kuna

Bicara soal pepernian ethno wellness dari naskah Suna Kuna, kebugaran dalam perspektif budaya Sunda (lama) terdapat pengetahuan ethno wellnes Sunda Lama dalam beberapa naskah Sunda Kuna di antaranya:

Naskah Sunda Kuno Carita Raden Jaya Keling (Kropak 407), Naskah Sunda Kuno Pitutur Ning Jalma (Kropak 610),
Naskah Dalem Pancaniti (1834-1862), Naskah Sunda Kuna Sanghyang Sasana Maha Guru (Kropak 621)

Kedua naskah Sunda kuno Carita Raden Jaya Keling (Kropak 407) dan Pitutur Ning Jalma (Kropak 610) memiliki persamaan isi, yaitu : menerangkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki dalam menjaga kebugaran atau kesehatan tubuhnya harus melalui proses “mengenalkan diri pribadinya” atau dikenal dalam istilah Sunda yaitu “kudu wawanohan jeung awak.”

Tak sebatas menjelaskan tentang hal-hal unsur jasmaniah tubuh, tetapi juga menjelaskan tentang aspek “kejiwaan dan spiritual” yang melingkupi keberadaan jasmani manusianya.

Sementara terkait ethno wellnes dari Naskah Sunda Kuna Carita Raden Jaya Keling (Kropak 407) (koleksi Perpusnas RI), berkaitan dengan hal-hal pengetahuan kesehatan dan kepercayaan terkait unsur kehidupan kaum perempuan.

“Menjelaskan tentang petunjuk bagaimana peran menjadi perempuan yang berbakti dalam keluarga serta berbagai pengetahuan yang harus diketahui kaum perempuan dalam kebiasan kehidupan sehari-hari (masa lalu).

Menceritakan tentang para dewi (apsari dalam bahasa Sunda) yang dipercaya turun ke bumi dan “menyukma” atau berdiam dalam berbagai wujud bentuk kebudayaan baik itu dalam perkakas alat tenun, berbagai hal yang merupakan bidang dan bentuk kegiatan kaum perempuan dan dalam berbagai organ seluruh jasmani / tubuh kaum perempuan. Isi terkait ethno wellnes dari Naskah Sunda Kuna Pitutur Ning Jalma (kropak 610) (koleksi Perpusnas RI)

Naskah ini, menurut Ira, ditujukan sebagai naskah pengetahuan edukatif untuk diketahui semua orang yang hidup menjalankan darma atau kebaikan bagi siapapun.

Menjelaskan pengetahuan leluhur bahwa setiap organ tubuh manusia “ditempati” oleh para “lelembutan” atau makhluk halus yang disebut Sanghyang atau “dewa”.

“Ada sekitar 30 sanghyang yang menempati setiap sub organ dalam tubuh manusia,” tambahnya.

Adanya pengetahuan ini agar manusia selalu berbuat hati-hati sesuai peran Sanghyang yang menempati dalam setiap unsur jasmani agar selalu selaras degan ajaran kebaikan atau darma.

Menurutnya, ada 61 nama-nama sanghyang yang dipercaya “menyukma” atau “bersemayam” dalam beberapa anggota tubuh manusia. “Contohnya, sanghyang dasar pratiwi yang berdiam di telapak kaki,” tutupnya.(***)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top