Gaya Hidup

Biar Tetap Sehat, Bugar dan Prima, Spa Batangeh Cocok Banget Buat Pengantin Baru

Penulis: Heru Sutrisno
Ayonews, Jakarta
Tak hanya terkenal dengan tari piringnya yang mendunia, Minangkabau juga kaya akan tradisi lainnya. Termasuk juga memiliki ethno wellness. Ethno wellness ala Minangkabau diperkaya dengan berbagai keragaman ramuan dan prosesi yang bermanfaat bagi kebugaran dan kesehatan tubuh.

“Dalam tradisi Minangkabau ada istilah alam takambang jadi guru. Artinya orang Minang atau umat manusia harus bisa belajar dari segala kejadian atau fenomena yang ada di alam,” ucap guru besar farmasi Universitas Baiturrahmah Prof. Dr. Amri Bakhtiar saat menjadi pembicara dalam Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) yang digelar secara virtual pada Selasa (7/9/2021).

Secara spesifik, Profesor Amri mengatakan, pada dasarnya umat manusia harus dinamis dan bisa menyesuaikan diri di mana pun dia berada. “Baik di tanah asal maupun di tanah rantau. Umat manusia dituntut harus selaras dengan alam. Umat manusia harus menjadi rahmat bagi seluruh alam,” katanya.

Dari sinilah, menurut Prof Amri, tradisi ethno wellness Minangkabau bermula. “Manusia mengamati tumbuhan yang mengeluarkan aroma harum, ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Seperti dijadikan bumbu masak, obat, kosmetik, perawatan tubuh dan tanaman hias,” ungkapnya.

Secara umum, terang Prof Amri, ethno wellness Minangkabau dikenal dengan batangeh. Namun dalam praktiknya, terbagi lagi dalam beberapa prosesi. Selain batangeh, ada balimau, bainai, bakasai, bunga rampai, bauruik dan sarobat.

Batangeh sendiri merupakan prosesi mandi uap atau spa ala Minangkabau. Menggunakan tumbuhan-tumbuhan yang mengandung minyak atsiri seperti bunga, daun, buah kulit batang, batang dan akar.

Secara filosofi, Prof Amri menjelaskan bahwa batangeh merupakan salah satu cara agar manusia selalu berada dalam keseimbangan.“Bagi ibu yang baru melahirkan, dengan batangeh ini diharapkan kondisi si ibu kembali seperti sediakala. Bagi pengantin baru, dapat menjaga kondisi agar tetap prima selama menjalani prosesi pernikahan,” jelasnya.

Bukan hanya buat ibu melahirkan atau pengantin baru, batangeh juga bermanfaat bagi pasien yang baru sembuh agar kesehatannya pulih seperti semula.

Prosesi
Dalam spa batangeh, ada beberapa peralatan tradisional yang dibiasa dipakai. Di antaranya balango atau periuk dari tanah dan tikar pandan. Kemudian menyiapkan bahan-bahan prosesi spa batangeh berupa tanaman dan rempah-rempah. Dilanjutkan dengan merebus ramuan yang sudah disiapkan tersebut.

Dalam prosesi mandi uap atau spa batangeh, balango berisi ramuan itu ditutup daun pisang. Sementara tikar pandan dijadikan sebagai kamar. Tikar pandan itu diberdirikan sedemikian rupa sehingga membentuk penutup saat melakukan spa batangeh.

“Nah, di kamar inilah, calon pengantin atau ibu yang baru melahirkan dan mereka yang baru sembuh dari sakit lama, melakukan prosesi batangeh,” jelasnya.

Di sisi lain, dalam batangeh ada juga istilah bainai. Tradisi ini merupakan prosesi mencat kuku menggunakan tumbuhan inai (lawsonia enermis) bagi calon anak daro. Bainai zaman modern ini sudah menggunakan “henna” dengan berbagai macam motif,” sebutnya.

Kemudian ada tradisi bakasai. Bakasai adalah menggunakan bedak/pupur dengan bahan yang terdiri dari: tepung beras, tepung bengkoang, daun nangka.

“Istilah umumnya maskeran. Tujuannya untuk membersihkan kulit wajah dari kotoran agar lebih bersih dan sehat. Wajah juga terlihat lebih bersinar. Hanya saja yang membedakan dalam bakasai menggunakan bahan-bahan tradisional,” paparnya.

Dalam prosesi batangeh juga perlu menyiapkan bunga rampai. Bunga rampai ini merupakan campuran bunga-bungaan seperti bunga mawar, kenanga, cempaka, melati, culan dan daun pandan.

“Bunga rampai itu ditabur di atas sprei agar bisa tidur lelap,” ujarnya.

Agar tubuh lebih bugar dilanjutkan dengan proses pemijatan. Dalam prosesi ini istilah Minangnya bauruik. Bauruik adalah pijat tradisional menggunakan minyak kelapa dicampur dengan berbagai macam rempah.

Proses pemijatan itu dilakukan di atas kasur dengan sprei yang sudah ditabur bunga rampai tersebut. Atau bisa juga di tempat lain. Sementara sprei yang ditabur bunga rampai itu hanya disiapkan untuk tidur agar lebih lelap.

Selesai pemijatan, agar tubuh terasa lebih segar dan lengkap ditutup dengan sarobat. Sarobat ini merupakan minuman kesehatan yang dapat menghangatkan badan. Sarobat juga bermanfaat untuk menghilangkan masuk angin.

“Sarobat ini terdiri dari saka (gula tebu) dan rempah berupa jahe, cengkeh, kulit manis dan buah pala,” rincinya.

Buah-buahan
Selain tradisi batangeh, di Minangkabau juga terdapat tradisi balimau. Balimau  merupakan tradisi membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Balimau biasanyan menggunakan jeruk nipis (limau kapeh) yang dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian,” tambahnya.

Untuk tanaman itu sendiri, Prof Amri menyebutkan terdiri dari tanaman obat dan aromatik, tanaman hias, rempah-rempah dan buah-buahan.

Untuk tanaman obat-obatan dan aromatik dalam batangeh ada istilah bunga culan di bawah anjung, inai, piladang hitam dan sidingin di dekat tangga bunga melati di bawah jendela, bunga cimpago langgo dan dalimo angso di depan dan di belakang anjung, bunga nango di samping rumah, rumpuik saruik di dekat sandi, bunga rayo jalan ke tepian, diselang-seling dengan pandan.

Sementara buah-buahannya terdiri dari limau. Limau ini sendiri berasal dari berbagai jenis. Di antaranya limau kambiang, limau hantu, limau lunggo, limau kunci, limau abuang dan limau kabau. Kemudian ada manggis, lansek (duku), kelapa puyuh, pisang, jambak, limau manis, limau sundai, dan kelapa puyuh.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top