Nasional

Begini Cara Penyelenggaraan & Teknik Pemotongan Hewan Kurban di Masa Pandemi Covid-19

Penulis:Dedy Budiman
Ayonews, Banten

Dalam rangka menyambut Idhul Adha 1442H, Ikatan Alumni UIN (KALUIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Diklat Virtual Penyelenggaraan dan Teknik Pemotongan Hewan Kurban di Masa Pandemi Covid-19 pada hari Ahad (4/7/2021) yang diikuti puluhan peserta dengan host Ustadz Badrussalam.

Dalam sambutannya, Ketua Umum IKALUIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Pimpinan Komisi VIII DPR RI, Dr H TB Ace Hasan Syadzily, M.Si menyampaikan bahwa dalam kondisi Pandemi Covid 19, penyelenggaraan kurban di seluruh Indonesia harus mengikuti ketentuan protokol kesehatan COVID-19.

Menurut TB Ace, bukan saja bagaimana memilih hewan dan menyembelih hewan kurban secara sehat, terlebih pelaksana penyelenggaraan kurban juga harus terlindungi dan dipastikan terbebas dari potensi Pandemi Covid-19.

Dia juga menyampaikan bahwa IKALUIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui Bidang Pemberdayaan Masyarakat, akan terus melakukan edukasi tentang penyelenggaraan kurban di masa pandemi Covid-19.

Wakil Ketua IKALUIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. KH Asrorun Niam Sholeh, dalam pengantar diklat menyampaikan bahwa edukasi penyelenggaraan kurban di masa pandemi Covid-19 kepada masyarakat bukan hanya melalui diklat virtual semacam ini saja.

“Tapi juga melalui sosialisasi panduan, seperti poster cetak atau digital untuk disebarkan ke masyarakat umum yang akan melaksanakan penyembelihan hewan kurban di masa pandemi Covid-19. Sehingga masyarakat mendapatkan panduan yang jelas bagaimana tata cara menyiapkan hewan kurban, memotong hewan kurban, sampai mendistribusikan hewan kurban di masa Pandemi Covid-19, ” paparnya.

Di diklat virtuai ini, sebagai narasumber adalah Ustadz Rakhmad Zailani Kiki, penulis buku Kurban di Masa Pandemi Covid-19 Adopsi Metode HACCP terbitan Jakarta Islamic Centre (JIC) dan KH Muzbi Wujdi, S.Hum, Dewan Pembina JULEHA (Juru Sembelih Halal) Indonesia.

Dalam penyampaian materinya, Ustadz Kiki mengatakan bahwa penyelenggaraan kurban di masa pandemi Covid-19 dengan adopasi metode HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) merupakan serangkaian tindakan yang harus dilakukan penyelenggara kurban.

“Prosesnya dimulai sejak hewan kurban diterima. Harus diperiksa kesehatannya, ketika pemotongan, pencacahan, pengemasan sampai pendistribusian yang menerapkan HACCP, ” tuturnya.

Pada saat penerimaan hewan kurban, lanjutnya, penyelenggara harus menguasai ilmu tentang zoonosis atau penyakit menular dari hewan kurban ke manusia.

“Selain itu, harus memiliki kemampuan mendiagnosa hewan kurban yang sedang sakit. Yaitu dengan melakukan pemeriksaan ke beberapa bagian hewan kurban, ” tambahnya.

Pada penyelenggaraan kurban di masa pandemi Covid-19, Ustadz Kiki menyampaikan bahwa yang harus diutamakan adalah keselamatan manusia, terutama penyelenggara, bukan hewan kurban.

“Karena itu seluruh petugas yang terlibat dalam proses penyelenggaraan kurban, dari penerimaan, pemotongan, pencacahan sampai pendistribusian sudah lulus test PCR, sudah divaksin dan tidak memiliki penyakit menular, ” imbuhnya.

Selain itu, sambungnya, seluruh petugas juga sudah siap dan memahami tugas serta tanggung jawab masing-masing.

“Dan seluruh petugas ditempatkan, diinapkan di ruang khusus H-1 dan diperiksa lagi kesehatannya sebelum pelaksanaan pemotongan hewan, ” tandasnya.

KH Muzbi Wujdi menyampaikan materi tentang pentingnya menyiapkan tempat yang layak dan higienis untuk penyelengaraan kurban, seperti tersedianya tempat pembuangan kotoran dan darah hewan kurban.

“Jangan sampai kotoran dan darah hewan kurban dbuang ke saluran air atau got yang jika tersumbat dapat menularkan bakteri yang merugikan warga sekitar, ” katanya.

Selain itu, sambungnya, tempat penyelenggaran kurban harus terbagi dengan baik dengan jarak yang sesuai untuk menghindari pencemaran, seperti jarak tempat hewan yang ditampung sementara dengan jarak tempat penyembelihan, tempat pemotongan, tempat pencacahan, dan tempat pengemasan.

“Petugas juga harus dilengkapi dengan pakaian dan perlengkapan yang dapat melindungi dirinya dari pencemaran atau terpapar mikroba, seperti bakteri, parasit, cendawan dan virus, ” paparnya.

Yang tidak kalah penting, ungkap Muzbi, alat untuk menyembelih hewan kurban harus tajam dan dapat langsung memutus tiga saluran, yaitu saluran pernafasan (hulkum), saluran makanan (mari’) dan dua urat nadi (wadajain) dengan sekali gerakan tanpa mengangkat pisau atau golok dari leher hewan kurban yang disembelih.

“Dalam Madzhab Syafi`i, dibolehkan dengan dua gerakan, tetapi harus dilakuan dalam gerakan yang cepat dengan jeda waktu yang sangat singkat, ” tutupnya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top