Opini

Mulai Perkara Lahan Pemakaman, Dana Bansos, Pandemi Covid-19, DPRD DKI Impoten, Gubernurnya Lempar Handuk

Penulis: Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi LKAB

Ayonews, Jakarta
Perkara lahan pemakaman di DKI Jakarta yang sedang disorot oleh Justin Adrian Untayana, anggota Komisi D dari fraksi PSI di DPRD DKI Jakarta Wajib Wagub DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, angkat bicara, setelah Gubernur Anies Baswedan bungkam seribu bahasa.

Selaras dengan kebiasaan atasannya, komentar Wagub Riza Patria pun tak jauh beda, suka mengalihkan isu. Dengan logika bengkoknya menyatakan bahwa krisis lahan pemakaman itu bukan cuma terjadi di Jakarta.

Bukannya belum lama berselang dengan gagahnya Anies Baswedan mendeklarasikan bahwa Pemda DKI Jakarta telah membeli lahan baru untuk keperluan pemakaman. Apalagi yang terkait pandemi Covid-19 ini katanya bakal terjadi lonjakan kebutuhan lahan pemakaman.

Namun, seperti biasa, soal pembelian lahan pemakaman ini pun gelap dan sangat tidak transparan prosesnya.

Justin Adrian Untayana (PSI) sudah beberapa kali angkat bicara di parlemen dan akhirnya isu ini pun mencuat ke publik.

Memang mesti dicuatkan ke publik dulu supaya dapat perhatian. Karena kalau hanya jadi wacana internal parlemen, maka akan seperti berteriak di ruang hampa udara. PSI boleh saja berteriak-teriak sampai serak suaranya, namun itu pun bakal sia-sia belaka.

Kok kayaknya semua fraksi lain seperti yang sudah “dibeli”dan dicengkeram oleh suatu daya kooptasi yang besar, entah itu dari eksekutifnya dan atau dari kekuatan gurita para sponsor (bohirnya).

Saling bekelindannya kepentingan yang kolutif, dimana banyak partai butuh dana politik, sementara eksekutifnya pun butuh pengamanan posisi kekuasaan. Transaksi politik pun terjadi.

Fraksi-fraksi besar di parlemen Jakarta – dengan 106 kursi – seperti lumpuh di hadapan seorang Anies Baswedan. Seperti kita ketahui, yang terbesar tentu saja masih PDIP dengan 25 kursi, sehingga kursi Ketua DPRD DKI Jakarta pun ada dalam kekuasaan PDIP, saat ini ketuanya adalah Prasetyo Edi Marsudi.

Baru disusul Gerindra dengan 19 kursi, lalu PKS 16 kursi, Demokrat 10 kursi, PAN 9 kursi, PSI 8 kursi, Nasdem 7 kursi, Golkar 6 kursi, PKB 5 kursi, dan PPP 1 kursi.

Pertanyaannya ada apa dengan parpol-perpol besar koalisi Jokowi yang ada di parlemen DKI Jakarta?
Mengapa lumpuh di hadapan seorang Anies Baswedan? Sudah terkooptasikah? Sudah terjerat dalam jejaring gurita para bohir politikkah?

Mengapa sampai sekarang hanya fraksi PSI yang nyata terus-menerus mengkritisi kebijakan Gubernur, sedangkan fraksi lain bungkam seribu bahasa.

Bahkan saat isu tunjangan jumbo yang baru lalu itu malah terkesan ikut dalam gerombolan perompak anggaran rakyat, mengapa?

Walk-out ngawur ala Jamaludin (fraksi Golkar) pun diikuti oleh semua fraksi lain, dan lagi-lagi PSI ditinggal sendirian.

Padahal dalam pidato politiknya belum lama ini, Megawati Soekarnoputri (Ketum PDIP) juga sudah ikut menyindir kepemimpinan Anies yang dinilai amburadul.

Namun sindiran Megawati ini pun seperti berlalu begitu saja. Fraksinya di parlemen Jakarta juga tetap impoten, tak mampu (atau memang tak mau) bertindak dengan langkah-langkah politik yang cukup signifikan untuk menginterpelasi Gubernur seperti yang pernah diinisiasi oleh fraksi PSI.

Soal pengelolaan anggaran yang sama sekali gelap alias tidak transparan pun semua bungkam.

Program smart-budgeting yang dulu pernah digembar-gemborkan oleh Anies pun tak pernah ditanyakan progresnya oleh fraksi-fraksi besar di Jakarta.

Sekrang isu uang muka Formula-E kembali mencuat, menyusul dana bansos yang tak jelas juntrungannya. Bahkan Anies datang lempar handuk untuk soal penanganan pandemi Covid-19 di ibu kota, tanpa pertanggungjawaban yang jelas tentang dana triliunan yang telah digelontorkan untuk penanganan Covid-19.

Sampai-sampai membuat dokter Tirta ngamuk-ngamuk. Namun -seperti biasa – itupun respons angin lalu oleh Anies. Dengan cara bungkam seribu bahasa. Semua memang dibiarkan gelap gulita.

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top