Hukum & Kriminal

Buka Praktik Kesehatan & Kecantikan Ilegal, Cewek ini Digrebek Polisi

Penulis: Syarif

Ayonews, Kota Serang
Ditresnarkoba Polda Banten berhasil mengungkap praktik kesehatan dan kecantikan ilegal di Perumahan Bumi Agung Permai (BAP) I Blok D4 No.26 RT 006, RW 011, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, Rabu (23/09/2020).

Kapolda Banten Irjen Pol Drs. Fiandar didampingi Ditresnarkoba Polda Banten Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro dalam konferensi persnya, pengungkapan praktik kecantikan ilegal ini bermula dari informasi masyarakat.

“Tim melakukan pendalaman terkait kegiatan tersebut. Tim berhasil menemukan barang bukti obat-obatan dan vitamin yang digunakan untuk perawatan kecantikan, alat medis dan HP merk Vivo. Saat itu tim mendapati pelaku Non (25) sedang melakukan tindakan medis kepada salah seorang pasien berinisial EM dengan cara menginfus ,” kata Susatyo.

Susatyo juga mengatakan bahwa tersangka Non selama ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan tidak memiliki kualifikasi ataupun sertifikasi sesuai ketentuan undang-undang.

“Tersangka Non tidak memiliki kualifikasi ataupun sertifikasi sesuai ketentuan undang-undang dan izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes),” ucap Susatyo.

Susatyo kembali menjelaskan bahwa modus tersangka dalam melancarkan aksinya yaitu secara langsung door to door, maupun melalui media sosial (instagram).

“di Instagram tersangka menggunakan nama akun whitening original serang dengan followers mencapai 3.744. Dan aksi ini sudah dilakukan tersangka sejak tahun 2018,” terang Susatyo.

Tak hanya melakukan praktek ilegal saja, lanjutnya, ketika tim Satresnarkoba menggeledah rumah tersangka yang juga menjadi tempat praktiknya tim menemukan barang bukti obat keras.

“Tim menemukan 2 jenis obat psikotropika yang disimpan dibawah kasur. Obat-obatan tersebut adalah Alphrazolam kemudian Reklona. Ini termasuk ke dalam obat keras dan psikotropika dan sesuai ketentuan dari peraturan Kemenkes tidak boleh sembarangan atau disalahgunakan. Dan menurut kesaksian tersangka obat tersebut digunakan untuk penenang,” jelas Susatyo.

Dalam praktiknya, tersangka Non kepada calon pasiennya menawarkan tarif jasanya1 paket sekitar Rp. 1 juta – Rp. 2 juta dengan keuntungan Rp. 300.000 per pasien di luar biaya obat-obatan.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan UU Psikotropika no 5 tahun 1997 pasal 60 ayat 1 huruf b dan atau pasal 62 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, UU Kesehatan no 36 tahun 2009 pasal 196 dan atau pasal 197 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, UU Tenaga Kesehatan tahun 2014 pasal 83 dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun.

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top