Ibukota

Mau Diswab & Rapid Test Covid-19, Ratusan Warga Kelurahan Senen Ngumpet, Sebagian Lagi Kabur

 

Penulis: Michael
Ayonews Jakarta
Kawasan padat di RW 04, Jl Pasar Senen, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat, yang biasa hiruk pikuk dengan berbagai aktivitas warga, Selasa siang (23/6/2020) terlihat lengang.

Tak tampak ibu-ibu ngumpul sambil ngegosip. Tak juga terlihat anak-anak kecil yang biasa berlarian dan bermain. Para pedagang keliling yang biasanya wara-wiri keluar masuk geng, satu pun tak nongol. Warung tempat bapak-bapak biasa nongkrong pun pada tutup.

Perkampungan padat penduduk itu seakan mati suri. Sebagian warga melepaskan diri dalam rumah. Sebagian lainnya menghilang entah ke mana.

Ya, hari ini terdengar kabar pemerintah lokal mau mengadakan swab test dan rapid test di RPTRA Planet Senen RW 04 Kelurahan Senen. Kegiatan ini sengaja dilakukan khusus warga lokal dan jajaran Kelurahan Senen. Persetujuan rencana yang membuat warga tantangan.

Sauri, Lurah Senen melalui telepon whatsapp membenarkan bahwa hari Selasa (23/6/2020) mulai dari Pukul 08.00 – 12.00 WIB akan diadakan rapid dan swab di wilayah RW 04 Kelurahan Senen yang akan dipimpin Santoso, Kasie Kesra Kelurahan Senen.

“Ini berdasarkan Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta no. 94/SE/2020 tentang Active Case Finding Covid-19 (Penemuan Kasus Virus Covid-19 Yang Aktif),” terangnya.

Menurut Sauri, SE yang ditujukan kepada para Ketua RT di wilayah RW 04 untuk membantu gugus tugas RW dalam mendata warga dengan kriteria ibu hamil, lanjut usia (Lansia) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Kegiatan ini, lanjut Sauri, melibatkan petugas dari Puskesmas, Dishub, Satpol PP, Gugus Tugas RW, LKM, Bhabinkantibmas, Babinsa, FKDM, Petugas Kelurahan & Kecamatan Senen (Kasie Kesra beserta jajaran).

“Sangat disayangkan tim yang bertugas pada hari ini tidak mendapatkan warga yang akan dilakukan rapid dan swab. Karena hampir seluruh rumah tertutup rapat. Sebagian besar warga RW 04 yang terdiri dari 13 RT itu kabur,” jelasnya.

Sauri mengaku sempat mengumpulkan para Ketua RT dari seluruh RW di wilayahnya. Para ketua RT itu kompak mengatakan tak bisa memaksakan warganya untuk swab dan rapid test, walaupun gratis.

“Memang itu kehendak warga karena menyangkut hak asasi manusia yang tidak boleh dipaksakan. Ada rumor kemarin malam warga takut dijemput paksa oleh TNI dan Polri. Saya tegaskan kepada warga bahwa tidak ada seperti itu, tidak ada unsur pemaksaan,” terangnya.

Endang, salah satu warga RW 04 yang sempat dinyatakan positif dan dibawa ke Wisma Atlit pada 10/6/2020 dan telah kembali pada tanggal 19/6/2020 untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya menolak untuk dilakukan test kembali terhadap dirinya.

“Saya trauma. Saya sempat nangis. Di Wisma Atlit, saya liat anak kecil kondisinya sehat tapi loyo. Masalah makanan memang saya akui diperhatikan sekali, sehari bisa 3-4 kali makan pake ayam dan daging,” kisahnya.

Saat di Wisma Atlit, Endang menuturkan, setelah 3 hari di sana ia sempat diswab dan hasilnya negatif. Tiga hari kemudian kembali diswab dan hasilnya positif.

“Tetap aja saya nggak betah di Wisma Atlit walaupun makan terjamin. Makanya saya mohon ke dokter agar diperbolehkan untuk karantina mandiri dirumah. Setelah 9 hari disana saya diijinkan dokter untuk karantina mandiri di rumah. Sekarang mau dites lagi, sayang nggak mau!” tegasnya

Berbeda dengan Iwan Wijaya (68), warga RT 014 yang sudah sulit berjalan ini malah mengajukan diri untuk dilakukan rapid atau swab di rumahnya.

“Baru pertama kali melakukan test. Rasanya geli…hehehe…geli banget. Memang sengaja saya mau diperiksa karena tujuan saya kalau terkena Covid-19 tidak menularkan kepada orang lain,” akunya.

Seharusnya, tambah Iwan, warga nggak perlu kabur. “Bodoh kalau pada kabur. Fisik saya sehat hanya jalan saja yang agak sulit. Kalau pun kalau positif corona, saya minta agar karantina mandiri saja di rumah biar tidak menyusahkan orang lain,” ujarnya

Dokter Erma, Kasatpel UKM/Kepala Satuan Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat, Puskesmas Kecamatan Senen yang terjun langsung dalam kegiatan tersebut menyayangkan tindakan warga yang kabur.

“Sebenarnya kita ada UU No 4 tahun 1984 tentang wabah yang menular. Kenapa itu tidak dijadikan acuan dasar hukum agar setiap warga diwajibkan untuk melakukan test,” katanya.

Soal yang diperlukan itu, ungkap Dokter Erma, yang sudah diatur dalam UU No 7 tahun 1968.
“Jadi tidak ada alasan HAM untuk menghindari swab atau tes cepat. Tapi kami terus mengerjakan pendidikan untuk masyarakat. Tapi ya, begini gimana,” tuturnya.

Terkait data jumlah warga yang melakukan rapid / swab test di wilayah RW 04, menurut Dokter Erma, hanya berjumlah 121 orang.

“120 orang swab dan 1 orang tes cepat. Tapi untuk jajaran, Kelurahan Senen dapat menerima tes mulai dari yang teratas hingga jajaran PPSU,” tandasnya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top