Ibukota

Beternak Lelel Dikombinasi Kangkung Dalam Ember Jurus Jitu Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Corona

Ayonews, Jakarta

Salah satu jalan untuk mengatasi krisis selama masa pandemi Corono Virus Desease-19 (Covid 19), relawan yang tergabung dalam Indonesia Agains Covid-19 mengajak masyarakat luas berkreasi di bidang ketahanan pangan. Tujuannya agar masyarakat dapat menyediakan bahan pangan sehat secara mandiri.

Sebagai gugus tugas relawan IAC-19 di bawah arahan BNPB, Putri Simorangkir bersama beberapa relawan lainnya menginisiasi program Gang Hijau sebagai upaya ketahanan pangan masyarakat.

“Kami bersama teman-teman relawan lainnya berhasil mengembangkan tanaman sayur hydrophonics. Yakni, memperkenalkan sistem tanam baru, memelihara ikan lele dan kangkung dalam ember,” sebut Ketua Komunitas Damai Nusantarku (Dantara) yang menjadi bagian dari 45 Komunitas yang tergabung dalam IAC-19, Minggu (10/5/2020) di RPTRA Abdi Praja, Gang Hijau, Jl Pancoran, RT 14 / RW 01, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Putri menyebutkan bahwa program bisa berjalan dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak. RPTRA Abdi Praja yang semula digembok dan tak berfungsi, berkat restu Lurah Pesanggrahan Jumadi, Camat Pesanggrahan Fajar Kurniawan, ketua RW, RT serta ibu-ibu PKK menjalin kerja sama yang baik dengan relawan IAC-19 untuk memanfaatkan RPTRA dalam mengembangkan tanaman hydrophonics.

Di bawah pimpinan Bambang Riono, relawan sukses mengkombinasikan ternak ikan lele dan sayuran kangkung dalam ember.

“Pas kebetulan hari ini, relawan IAC-19 mendapat undangan Ketua RT Sukirno menghadiri panen sayur-sayuran dan lele,” jelasnya.

Dua tahun lalu, Putri berkisah, kampung ini ini merupakan wilayah biasa saja. Layaknya perkampungan lain di Jakarta, tampak kering, gersang dan kumuh.

“Karena kami punya hubungan pertemanan dengan Ketua RT 14, Bapak Sukirno, Ketua RW Pak H. Saprowi Ketua, penyelenggara RPTRA Abdi Praja Pak Suwondo, instruktur budidaya Bambang Riono bersama Dantara menelurkan ide untuk mengembangkan sistem hydrophonics, menanam sayur dikombinasikan ikan lele di lahan sempit menggunakan media air,” paparnya.

Sejak itu, lanjut Putri, gang-gang di perkampungan ini menjadi hijau. Tanaman sayur dibuat di setiap tempat yang memungkinkan. Seperti di dinding gang, dimulai dari halaman rumah Ketua RT serta beberapa rumah warga yang bersedia mengembangkan budi daya ini.

”Hydrophonics ini kan bisa berkembang di lahan sempit. Seperti, di dinding rumah, dinding gang maupun pagar warga. Budi daya ini bisa menghasilkan sayur-sayuran dan ikan yang bisa dikonsumsi warga sendiri,” jelasnya.

Apalagi, lanjut Putri, di masa pandemi Covid-19 kebutuhan akan ketahanan pangan masyarakat harus terus gencar disosialisasikan.

“Kami berupaya untuk mengembangkan budi daya ini ke seluruh perkampungan di DKI Jakarta sebagai bagian ketahanan pangan masyarakat. Biayanya murah, benihnya mudah didapat, hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Putri berharap, sistem hidrophonics ini bisa melengkapi pengetahuan serta menambah gizi warga melalui ikan lele. Diharapkan di hari Lebaran Idul Ftri nanti dimulai dengan panen pertama.

“Semoga Gang Hijau bisa menjadi pilot project bagi warga DKI lainnya dalam menjaga ketahanan pangan hingga pandemi corona berakhir,” harapnya.

Sementara itu, instruktur hydrophonics Bambang Riono menjelaskan bahwa kombinasi kangkung dan ikan lele ini sebagai cara mudah dan tepat dalam mengatasi kebutuhan pangan warga.

“Kangkung dan lele ini dikenal sebagai tanaman dan ikan yang memiliki daya tahan yang tinggi dalam kondisi dan cuaca apapun. Perawatannya mudah, panennya pun cepat. Jadi bisa menjadi alternatif dalam mengatasi masalah pangan warga di masa pandemi corona,” urainya.

Bambang menjelaskan cara berternak lele dikombinasikan dengan sayuran kangsung ini dalam ember. Bahan-bahannya berupa ember dengan kapasitas 80 liter, gelas plastik, kawat untuk mencantelkan gelas plastik tersebut, busa, sekam bakar dan dua Kg pakan ikan.

“Di ember ini terisi ikan lele dengan ukuran 7-8 cm sebanyak 200 ekor. Kami memilih agak besar sedikit supaya sehari sebelum lebaran nanti, ikan lele bisa dipanen. Dari 200 ekor itu bisa berkurang karena ada ikan yang mati atau melompat. Tapi nggak banyak berkurangnya, tergantung perawatan dan pengawasan kita,” tambahnya.

Menurut Bambang, setelah ikan lele dimasukkan ke air, kemudian mencantelkan gelas plastik aqua menggunakan kawat. Lalu gelas plastik itu diisi busa dan sekam.

“Busa ini bisa menjadi pengantar air ke atas agar benih kangkung bisa tumbuh. Lalu biji kangkung disemai, kemudian dicuci. Kalau saat dicuci ada yang mengambang, berarti biji kangkung itu tidak bagus. Dua hari sudah tumbuh dan bisa dipanen dalam 21 hari,” paparnya.

Untuk di RPTRA Abdi Praja ini, Bambang mengungkapkan, merawat ikan dan tanaman ini harus telaten.

“Jangan sampai telat ngasih makan ikan, karena lele juga bisa kanibal. Lele yang lemah bisa jadi santapan teman-temannya. Termasuk juga mengganti air tiga minggu sekali. Itu juga kalau airnya bau, ciri-cirinya ada ikan lele mengambang dengan kepala di atas ekor di bawah. Karena itu, warga di sini kerja secara shift agar tanaman dan ikan lele ini bisa terjaga kondisi kesehatannya,” jelasnya.(Tim)

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top