Hukum & Kriminal

Amit-amit, Jangan Terlibat Sindikat Narkoba, Bisa Diperas Oknum, Duit Ortu Bisa Ludes

Ayonews, Jakarta

Jangan main-main dengan Narkoba. Bukan cuma ikut terjerat di lingkaran sindikat jual beli barang haram itu, tapi juga kerap dimanfaatkan oknum aparat jadi ladang ATM.

“Sudah jadi kurir dibayar nggak seberapa, diperas lagi. Saya kapok nggak mau nyentuh sabu lagi,” kata seorang driver ojek online, panggil saja Udin, Senin (4/5/2020) malam kepada Ayonews, di Jakarta.

Ya, Udin baru saja menjadi korban pemerasan oknum aparat. Menurutnya, bukan hanya uang orangtuanya sejumlah 9 juta rupiah raib demi menebus dirinya dari jeratan hukum, motornya pun sempat dikandangin.

“Alhamdulillah sudah bebas. Ini motor juga baru ditebus 200 ribu. Cepu Polres yang ngambil. Kata Cepu masa’ ngambil motor nggak ada uang “kopi”nya. Mau nggak mau saya minjem duit juga buat nebus ini motor,” aku Udin.

Udin menegaskan, ini untuk pertama dan terakhir kalinya ia harus berurusan dengan jaringan narkoba.

“Saya cuma tergiur nganterin barang haram ini 200 ribu. Apalagi kondisi ojol sekarang kan lagi susah nyari order, pas ada orderan nganter sabu, terpaksa aja saya mau. Ongkosnya lumayan segitu dari Kemayoran nganter ke Sunter doang. Kan dekat,” paparnya.

Udin mengaku menyesal sudah membuat orangtuanya susah. Uang sebanyak 9 juta itu bukan jumlah sedikit.

“Apalagi di jaman susah begini. Nyari uang nggak gampang. Kapok nggak mau lagi urusan sama narkoba,” ujarnya.

Menurut Udin, peristiwa naas ini bermula ketika Selasa pagi (28/04/20), ia mulai melakukan aktifitasnya mencari rejeki di jalanan ibukota menjadi driver ojek online. Order pertama ia dapat mengantar barang ekspress dari Jl. Kesehatan, Gajah Mada menuju Pasar Petojo.

Begitu sampai di Pasar Petojo muncul panggilan telepon di hapenya. Ketika dilihat no telepon tersebut berasal dari Lena (nama samaran) seorang driver lady ojol yang merupakan teman Udin.

Ternyata Lena pada pukul 13.00 WIB menghubungi Udin dengan niat memesan Narkoba jenis metamfetamin sebanyak 1 gram. Lena juga meminta supaya barang haram itu dibuat menjadi 7 paketan.

“Saya ditawari jasa ambil dan antar Narkoba 200 ribu rupiah. Apalagi jaraknya dekat, ya saya mau,” ucapnya.

Udin pun bergegas membeli dan membawakan barang haram tersebut kepada seseorang yang tinggal di Pondok Labu. Ia janjian bertemu di Kemayoran. Dalam pesannya, Lena meminta Udin membawakan sabu itu ke daerah Sunter, Jakarta Utara.

Selama dalam perjalanan, Udin sempat mendapat japrian di WA-nya dari driver ojol lain yang merupakan teman komunitasnya Lena. Tapi japrian berupa voice note (vn) kosong tersebut tidak diindahkan karena ia ingin cepat-cepat mendapatkan imbalan atas jasa mengantar barang haram tersebut.

Tepat di sebuah shelter komunitas ojol depan Sunter Mall, Udin menghentikan motornya. Belum sempat turun dari motor yang ditungganginya, sekelompok orang yang tidak dikenal langsung menodongkan senjata dan menanyakan keberadaan barang haram tersebut.

“Di mana kau taruh barangnya!?” bentak salah seorang dari mereka.

Udin langsung sadar kelompok orang tersebut adalah anggota polisi.

“Di dalam tas pak, aku taruh barangnya” ucap Udin ketakutan.

Ketika mendapatkan metamfetamin di dalam tasnya, ia, motor Mio biru dan barang bukti narkoba itu menuju Polres untuk diproses lebih lanjut.

Sesampainya di Polres, bukan diproses secara hukum karena telah terbukti kedapatan tangan membawa barang haram, ternyata Udin dan ada oknum membuat kesepakatan damai dengan dengan mahar tebusan sebesar 9 Juta rupiah.

Udin pun menyanggupi kesepakatan dengan oknum tersebut. Dengan menghubungi keluarganya dan membawa sejumlah uang yang dipinta, ia berharap agar kasusnya tak berlanjut. Setelah uang diserahkan, Udin pun bebas.

Namun ia sempat kesulitan untuk mendapatkan motornya. Karena motor itu milik rekannya yang digadai kepadanya. Meski sudah menunjukkan STNK, motor belum berhasil dikeluarkan.

“Padahal orangtua saya sudah ngasih 9 juta. Saya pikir motor bisa diambil. Ternyata nggak bisa. Padahal itu motor gadaian teman saya,” ujarnya.

Akhirnya, melalui seorang Cepu Polres, Udin bisa mengambil motornya setelah menyerahkan “uang kopi” sebagai jasa pengambilan motor.(Micahel)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top