Megapolitan

Mudik Dilarang, Cari Makan Susah, Bantuan Tak Datang, Ini Kata Perantau Korban Pandemi Corona

Ayonews, Jakarta

Penyebaran virus Covid-19 ini dinilai sangat cepat. Wabah ini tidak bisa dianggap enteng. Hingga kini, tak ada satu negara pun di dunia yang benar-benar siap ketika masyarakatnya terserang penyakit ini.

Bukan hanya warga yang terjangkit saja, mereka yang tak kena juga ikut terdampak secara ekonomi. Sejak menjadi Pandemi, Corona membuat masyarakat di semua tingkatan terkena imbasnya.

Yang paling dirasakan adalah masyarakat yang menggantungkan pendapatannya dari bekerja harian. Begitu virus menyebar, pemerintah memperpanjang status PSBB di indonesia sampai 12 mei 2020.

Ditambah dengan adanya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) soal larangan mudik 2020 hanya berlaku untuk daerah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), zona merah, dan aglomerasinya. Tercatat sudah ada 24 daerah berstatus PSBB.

Mang Jalu (39) salah satu pedagang kaki lima di Jl Sukarjo Wiryo Pranoto, Jakarta Pusat, salah satu warga yang kena dampak akibat PSBB dan Permenhub Larang Mudik. Sejak berjualan dari tahun 1997 atau 23 tahun lalu, ia nggak bisa pulang kampung saat lebaran ke Kuningan, Jawa Barat.

“Selain pendapatan turun drastis, angkutan umum yang biasa saya tumpangi untuk pulang kampung juga sudah nggak ada,” kata Mang Jalu.

Mang Jalu menyadari pendapatannya anjlok lantaran karyawan restoran dan karyawan bank yang menjadi pelanggannya diliburkan dari pekerjaannya.

“Ya sekarang tergantung sama orang lewat aja. Tapi kondisi sepi begini, nggak sampe 10 orang sehari belanja di warung saya,” keluhnya.

Mang Jalu dan istri masih berharap ada
jalan untuk pulang kampung menjelang lebaran nanti.

“Sedih soalnya kalo harus lebaran di tanpa kumpul dengan keluarga,” ujarnya.

Nasrul, warga asal Brebes, Jawa Tengah ini hanya pasrah dengan nasib. Sudah satu setengah bulan, ia dan teman-temannya satu kampung tak punya penghasilan akibat Pandemi Covid-19.

Tinggal di sebuah bedeng di Pondok Jati, Jurangmangu, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Nasrul bergabung bersama 10 orang temannya mencari nafkah sebagai kuli panggul.

Setiap hari ia mangkal di bedengnya menunggu orang yang mau menggunakan jasa tenaganya. Kalau tidak ada, ia dan teman-temannya berjalan ke mana kaki melangkah.

Namun sejak Corona mewabah, Nasrul harus kehilangan pekerjaan.

“Dari pagi jalan kaki muter-muter dari rumah sampe Bintaro, Ciputat, Graha Raya, nggak ada satu pun pekerjaan yang saya dapat. Pelanggan yang biasa pakai jasa saya juga mungkin lagi susah,” ujarnya.

Menurutnya, lebaran tahun lalu ia dan teman-temannya masih bisa pulang kampung dan membawa pulang uang.

“Sekarang nggak ada ongkos, nggak ada tabungan. Udah nganggur satu setengah bulan nggak ada kerjaan. Boro-boro mikirin pulang kampung, buat makan aja susah,” akunya.

Selama Pandemi Corona ini, Nasrul dan teman-temannya satu kontrakan hanya pasrah menggantungkan rejeki untuk sekadar makan dari orang-orang yang melintas di depan kontrakannya.

“Rejeki sih ada aja. Mungkin orang kasihan lihat saya duduk bengong depan gubuk, terus ngasih bantuan. Kalau nggak ada bantuan makanan, yah terpaksa puasa siang malam,” paparnya.

Dari pantauan Ayonews, kontrakan Nasrul berukuran 2 x 3 meteran. Berdinding kayu beratapkan seng. Dalam satu kontrakan berisi 5 sampai 6 orang. Tampak terlihat dinding bolong-bolong dan atap bocor.

“Kalau tidur udah kayak pepes ikan, dempet-dempetan. Kalau hujan pada nggak bisa tidur. Soalnya atap pada bocor. Mau gimana lagi, nasib saya seperti ini,” cetusnya pasrah.

Soal adanya kabar bantuan dari pemerintah berupa Bansos untuk meringankan beban hidup, Nasrul mengaku tak ambil pusing.

“Lha saya cuma pendatang di sini. Sama Pak RT aja mungkin nggak diakui jadi warga di sini. Nggak mungkin dicatet sebagai penerima bantuan. Nggak ngarepin ada bantuan apa nggak,” ucapnya.(Imran/TIM)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top