Pilgub

Pembangunan Selalu Mandeg, SUMUT: Semua Urusan Musti Uang Tunai

Oleh: Johnson Siahaan

Bicara soal hak politik masyarakat yang paling buruk dinegeri ini adalah perilaku money politics (politik uang).

Menyadarkan masyarakat untuk melek politik dan anti politik uang sepertinya masih jauh api dari panggang. Sebab uang merupakan kebutuhan yang wajib.

Nggak heran kalau selama ini ada plesetan kata Sumut itu dengan “semua urusan musti uang tunai”. Plesetan atau cibiran ini sesungguhnya membuat rasa muak bagi sebagian masyarakat yang menghargai demokrasi, dimana tanpa uang tidak ada suara di akar rumput.

Mungkinkah bakal ada Kuda hitam sebagai calon Bupati Toba ? Jika itu benar ada, saatnya harus berani memberikan pendidikan politik kepada masyarakat untuk sadar tanpa money politik, sebab jika plesetan Semua Urusan Musti Uang tunai tidak dibasmi maka sampai dunia kiamat akan tetap berlangsung dan pembangunan di Toba akan mandeg sepanjang zaman.

Karena bisa saja Bupati terpilih nantinya selalu berupaya mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan selama kampanye, maka dapat dipastikan akan berprilaku “korup” di segala bidang, yang akhirnya kesejahteraan rakyat akan terbengkalai.

Dan, yang menjadi kebencian masyarakat selama ini adalah Plesetan Sumut itu tadi, hingga saat ini sangat merusak substansi dari demokrasi itu sendiri.

Maka jika ada sosok calon yang benar-benar mau membangun Kab Toba dan bisa maju tanpa money politik juga partai bersedia memberikan dukungan kepada Cabup tersebut, berarti masih ada harapan bahwa Parpol bisa berubah dan bisa dipercaya di 2024.

Pertanyaannya, apa iya ada Parpol yang mau memberikan tiket tanpa reserve, sebab biang kerok dari segala masalah selama ini adalah ada di Parpol.

Jika Kab Toba ingin maju mestinya dari sekarag Sang “Kuda Hitam” harus sudah turun gunung dengan” sosoknya untuk melakukan sosialisasi Visi & Misinya kedepan.

Tetapi mungkin dengan hadirnya zombi covid-19 ini membuat tidak muncul atau mungkin sengaja di rahasiakan Parpil, karena saat ini semua pada tiarap. Apalagi dengan diperpanjangnya PSBB semua aktivitas kegiatan di tingkat pusat hingga Provinsi dilarang turun ke-daerah-daerah akibat wabah pandemi covìd-19.

Tetapi muncul masalahnya didalam negara demokrasi seperti Indonesia satu-satunya Institusi fabrikan dari dua Jabatan ini hanyalah Parpol.

Oleh karenanya setiap Cabup tidak bisa menghindar dari money politik yang brenksek itu, dan paling mirisnya lagi rakyat sebagai pemegang kedaulatan itu pun sudah tertular dan menjadi bagian dari monster jahat karena selalu mudah disetir para pemegang uang itu.

Jika memang benar ada sosok atau cabup yang siap membasmi setan “korupsi” ini maka untuk memperbaiki masa depan Kab.Toba ke masadepan harus sudah saatnya diserahkan kepada generasi milenial karena merekalah yg lebih paham apa yang menjadi tantangannya sebab generasi milenial rata-rata semoga anti korupsi dengan syarat gaji besar.

Ibarat dahulu kita sudah bangga dgn mesin tik IBM dan paling tinggi dgn LOTUS, tetapi sekarang diera revolusi industri 4.0 sudah masuk ke teknologi Artificial Intelligent yang sangat sulit kita pahami.***

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top