Ibukota

Perpanjang PSBB Tanpa Ngasih Makan, Gubernur Anies Bisa Bikin Banyak Orang Sekarat

Ayonews, Jakarta

Warga pendatang atau kaum urban dari kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki identitas KTP DKI Jakarta, menjadi salah satu kelompok masyarakat yang terkait dengan Kebijakan Penggunaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali melampaui PSBB mulai dari tanggal 24 April hingga 22 Mei 2020. Dukungan, kebijakan ini menambah panjang yang harus disetujui kaum pendatang.

Wawan (32) mengucapkan selamat datang di Jakarta dan rutin mengirim uang buat anak dan berbicara di kampungnta, Pangandaran, Jawa Barat.

Selama ini Wawan bekerja di salah satu ruko di Kelapa gading dengan status pegawai harian. Namun sejak 1 bulan ini diliburkan. Nasibnya pun dipindahkan. Alasannya, perusahaan tempat bekerja menerima kabar apakah dengan dirumahkan ia tetap dapat diterima atau tidak.

Alhasil, dalam sebulan ini Wawan fokus jadi Ojek Online yang sebelumnya cuma sampingan. Selama PSBB diberlakukan, Wawan jadi fokus jadi ojek online. Namun penghasilan yang didapat sangat jauh dari cukup.

“Gimana mau cukup, dalam 1 minggu cuma dapet satu order. Sata sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Utang dah numpuk., Kontrakan sudah nunggak 1 bulan. Anak dan istri di kampung belum saya kirim nafkah,” ujarnya.

Wawan mengaku sudah tak sanggup lagi dengan kondisi seperti ini. Apalagi Pemprov DKI memperpanjang PSBB selama sebulan ke depan.

“PSBB 14 hari kemarin aja udah bikin kelimpungan, eh sekarang gubernur perpanjang lagi, makin nyungsep hidup saya. Besok saya mau nekat pulang kampung,” tuturnya.

Lain lagu dengan Imron (30). Pedagang siomay asal Brebes yang biasa berjualan di sekitaran kelapa gading sebelum PSBB di berlakukan, Imron bisa berpenghasilan Rp 100Rb s/d Rp. 150Rb per/hari.

Tapi selama PSBB di berlakukan penghasilannya turun drastis. Dalam sehari ia cuma bisa berpenghasilan Rp.30 ribu. Tentu saja uang sebesar itu tak cukup untuk menghidupi istri dan satu orang anaknya. Belum lagi harus bayar kontrakan yang bulan ini saja sudah telat 2 minggu.

Imron menjelaskan sempat untuk memulangkan istri dan anaknya ke kampung halaman di Brebes. Tapi urung dilakukan karena beberapa waktu sempat tersiar berita akses ke kampung halamannya ditutup.

Imron pasrah mohon bantuan dari pemerintah yang bisa membantu meringankan beban dibantu.
“Jangan cuma bikin peraturan, tapi nggak mikirin rakyatnya bisa makan apa nggak. Orang nggak bisa keluar rumah, tapi nggak bisa dikasih makan, lama-lama pasti mau juga,” keluhnya. (Andre WRC)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top