Ekonomi

Saat Musibah Covid-19 Dituding jadi “Anak Emas”, Ojol: Kata Siapa Tong….? Bisa Ngopi Aja Dah Syukur…

Ayonews, Jakarta
Media sosial ramai dengan info dan pemberitaan kalau profesi ojek online seperti “anak emas”. Beberapa tayangan video yang beredar di media sosial juga terlihat pekerja harian yang mengandalkan orderan secara online ini lebih diutamakan diberi bantuan.

Tak sedikit orang mencibir nasib ojol seperti mendapat tempat terhormat di masa pendemi virus covid-19 ini dari para dermawan atau pemerintah.

Seperti bantuan 100 ribu dari aplikator buat belanja sembako, ojol dapat subsidi pemotongan pembelian BBM dari Pertamina.

Menurut mereka yang sinis, banyak profesi pekerjaan lainnya yang kondisinya lebih memprihatinkan ketimbang nasib ojol.

Seperti buruh pabrik yang dirumahkan dan tidak mendapat upah, pekerja UMKM, karyawan hotel, pekerja toko yang libur, pembantu rumah tangga, kuli bangunan dan lain sebagainya.

Benarkah di masa social distanc (pembatasan interaksi sosial) ini ojol nasibnya lebih beruntung?

Benarkah ojol menerima bantuan dari berbagai pihak dan disubsidi pemerintah? Katanya ojol tetap bisa mencari nafkah dengan cari order di luaran, betulkah?

Ayonews mencoba untuk menyambangi sebuah basecamp ojol di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2020), sekitar pukul 14.00 WIB. Sebuah warung bernama ‘Warung Akang’ menjadi tempat ngumpul para ojol sehari-harinya untuk menunggu order.

Kepada Ayonews, driver ojol bernama Syarif (47), Andi (32) & Irman (33) kompak mengatakan kalau selama Pendemi Corona ini penghasilan mereka terjun bebas.

“Selama PSBB sehari dapat satu aja udah cakep banget,” kata Andi.

Dengan kondisi seperti ini, Andi mengaku bingung. Namun demikian, ia pun tetap berusaha semampunya untuk mencari nafkah buat makan keluarganya.

“Sambil muter nyari order kadang ia berharap ada dermawan bagi-bagi sembako. Buat nafkahi keluarga di rumah udah nggak bisa. Bantuan dari pemerintah, sepertinya nggak bisa diharapkan,” ujarnya.

Andi sadar bahwa order melalui online menurun karena kondisi masyarakat umumnya juga ikut terdampak secara ekonomi.

Menurutnya, pengguna ojol juga sekarang sedang merasakan hal yang sama, sama-sama nggak ada pendapatan dan sama-sama penghasilannya menurun. Makanya order sepi.

“Orang kaya yang biasanya pesen order makanan juga kayaknya takut makanannya kena virus, makanya mereka nggak order,” paparnya.

Soal bahwa ojol menjadi “anak emas” sejak adanya musibah virus ini, menurutnya, tudingan tersebut terdengar naif. “Siapa bilang? Dari pagi sampe siang gini cuma dapet 1 order. Itu aja cuma cukup beli bensin seliter sama kopi doang. Kalau anak emas, duit Dateng sendiri tong…,” cetusnya.

Menurut Andi, semua orang punya rejekinya masing-masing. Kebetulan aja banyak yang viral di medsos kalau ojol itu dapat bantuan.

“Padahal, banyak juga lho masyarakat bukan ojol dapat bantuan dari orang-orang kaya,” jelasnya.

Karena itu, sambung Syarif, baik pekerja ojol dan pekerja dengan profesi lainnya untuk sama-sama menahan diri tidak menyalahkan satu sama lainnya, tidak perlu ada rasa iri dan dengki dengan profesi lain. Karena semua lapisan masyarakat merasakan kondisi sulit seperti sekarang ini.

“Mari kita sama-sama berdoa mudah-mudahan pandemi covid 19 di negeri ini cepat berakhir dan kami seluruh masyarakat semua dapat beraktifitas mencari rejeki dengan hasil maksimal,” terangnya.(Aldi/WRC)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top