Opini

Provokasi Puluhan Ribu Orang Disuruh Demo di Masa Pandemi Corona, Tangkap Said Iqbal!

Oleh: Aktivis Peduli Kemanusiaan Masyarakat Bangsa, Drs.Arnold Hutauruk

KESADARAN warga, selain dari pemerintah, menjadi salah satu yang terpenting dalam mengatasi wabah virus korona yang telah menjangkiti Indonesia pada saat terakhir ini.

Penduduk agar berdiam diri di rumah. Tidak perlu bepergian jika tidak ada hal yang sangat mendesak untuk dilakukan di luar sana. Tetap di rumah saja!

Bukan hanya imbauan #dirumahsaja, warga juga harus bekerja dari rumah, bekerja dari rumah, belajar di rumah, sebagai imbas dari ditiadakannya proses belajar-mengajar di sekolah. Bahkan beribadah juga dilakukan di rumah saja. Sama halnya seperti kegiatan sekolah tadi, kegiatan keagamaan di tempat ibadah dianggap ditiadakan untuk sementara waktu.

Betul, kebijakan sosial / jarak fisik beberapa minggu terakhir diterapkan oleh pemerintah ini telah meningkatkan beberapa masalah sosial baru. Angka kemenangan meningkat. Jumlah penduduk miskin dan miskin. Tidak sedikit pekerja yang harus dirumahkan dan di-PHK, yang mendukung bahkan telah mencapai 2 juta orang lebih.

Tapi demi memutus mata rantai virus corona yang telah menjangkiti lebih dari 5 ribu pasien di Indonesia itu, kebijakan pahit tersebut harus ditempuh. Sekalipun demikian, pemerintah tidak berpangku tangan atas berbagai kesulitan yang dihadapi oleh rakyatnya itu. Pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp. 400 triliun untuk jaring pengaman sosial (JPS).

Namun di tengah usaha keras pemerintah memutus penyebaran Covid-19 itu, ada saja pihak yang sepertinya menertawakan dan menyinyiri segala upaya itu. Mereka bukan justru berusaha membantu meringankan beban pemerintah, tapi malah berusaha memprovokasi banyak orang dengan melontarkan hoaks, ujaran kebencian, fitnah dan hinaan keji.

Ada pula kelompok masyarakat yang mencoba mengganggu kerja pemerintah menekan jumlah korban akibat terserang Covid-19 tersebut dengan akan melakukan aksi demonstrasi untuk menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang saat ini sedang dibahas oleh pemerintah dan DPR, yang rencananya akan melibatkan lebih dari 50 ribu peserta.

Adalah Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang menginisiasi demonstrasi tersebut. Bersama dengan serikat buruh/pekerja lainnya, mereka menggagas sebuah demonstrasi besar yang rencananya akan digelar pada 30 April mendatang. Puluhan ribu buruh direncanakan hadir dalam aksi yang akan dilaksanakan di depan kantor DPR RI itu.

Pertanyaannya sekarang, seberapa mendesak tuntutan mereka menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja tersebut sehingga harus digelar pada saat-saat bangsa ini sedang dalam keadaan genting?

Jika memang mereka tidak setuju dengan RUU yang baru akan dibahas itu, bukankah sebaiknya Said Iqbal dan para petinggi organisasi buruh itu datang langsung ke Senayan menyampaikan segala unek-unek dan ketidaksetujuan mereka?

Dan satu lagi pertanyaan yang menurut saya sangat perlu dijawab oleh Said Iqbal dan seluruh rekannya adalah, apakah mereka sudah membaca dan memahami RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang tebalnya mencapai 1.000 halaman lebih itu?

Saya khawatir mereka bahkan belum membahasnya secara cermat. Atau mungkin malah belum dibaca sama sekali.

Saya jadi teringat dengan Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain. Di mana pada suatu masa, ia berkoar-koar menyampaikan penolakannya atas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) tanpa pernah mempelajarinya terlebih dahulu. Ia menuduh pemerintah dan DPR zalim, komunis, dan berbagai tuduhan bejat lainnya.

Ia dengan lantang bersuara bahwa RUU PKS harus dibatalkan karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ia tuduh pemerintah akan melegalkan zinah dengan cara meyediakan kondom bagi pasangan remaja atau pemuda yang ingin berhubungan badan. Faktanya? Tidak ada satu pasal atau ayat pun dalam RUU tersebut yang berbunyi demikian.

Saya takutnya begitu. Said Iqbal belum sepenuhnya mempelajari RUU Cipta Kerja tersebut. Atau kemungkinan lain, ia disusupi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu – bisa jadi pengusaha, birokrat, atau politikus busuk – yang mungkin merasa dirugikan atas kehadiran RUU Omnibus Law Cipta Kerja tersebut. Sehingga demi cuan, ia tega menunggangi buruh.

Tapi apapun maksud di balik demo yang akan dilaksanakan di penghujung bulan April itu, polisi harus segera bertindak. Salah satunya adalah dengan tidak mengeluarkan izin. Selain itu, pihak kepolisian juga harus segera menangkap Said Iqbal. Ia telah mencoba memprovokasi puluhan ribu orang untuk berdemo di masa pandemi corona sekarang ini.

Sebab tindakan itu tidak hanya menantang, tetapi akan berujung maut. Nantinya, akan ada yang ditolak, ditolak, atau malah diterbangkan pasien yang terkonfirmasi positif akan terjangkit virus corona. Dan jika sudah demikian, maka akan semakin beratlah beban bangsa ini, dan akan semakin lama pula bangsa ini mengalami kesulitan dalam kesulitan.

Salam Indonesia satu

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top