Opini

Said Didu Dibidik, Kok SBY yang Blingsatan

Oleh: Maruli Siahaan, Redpel Ayonews

Politik itu kotor, bisa jadi. Politik itu kejam, memang realitas. Politik itu lentur, ya karena adagiumnya; tak ada kawan dan lawan abadi, yang ada kepentingan.

Politik layak korup, tak dipungkiri. Sampai sekarang tidak terbantahkan.

Mainkan korban adalah salah satu dari para politisi, selain strategi itu didzalimi. Risiko jadi politisi langgeng dalam berkuasa, popularitas terpuruknya atau terjungkal karena terjeratnya kasus korupsi.

Baru-baru ini, tensi politik Indonesia kembali memanas, lebih panasnya suhu tubuh korban virus Covid. Oposisi terus melancarkan serangan kepada pemerintah. Kali ini bukan Presiden Jokowi jadi sasaran tembak.

Tapi moncong serangan diarahkan pada Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Bidikan itu berasal dari Mantan Staf Khusus Menteri BUMN Said Didu.

Segala momen yang dimanfaatkan untuk menjungkalkan lawan. Tak peduli dengan pendemi corona yang sekarang menjadi musibah bangsa. Bagi mereka yang bisa menyelamatkan diri dan jeratan hukum yang ada, korona diperlukan enteng.

Mainkan korban jadi ancang-ancang. Tapi Luhut sebagai bagian dari penguasa saat ini tentu saja punya kartu truf yang mudah ia mainkan. Apalagi, purnawirawan Jenderal itu selalu diidentikkan dengan posisi di atas bayang-bayang Presiden. Jaringan politiknya bukan kelas nasional, tapi internasional.

Dalam opini saya, sangat mengharapkan sasaran mereka. Dia hanya pelampiasan untuk membuatnya mudah, agar pemerintah bisa menyelamatkan rakyat di bawah. Tetap Jokowi menargetkan Utama. Lantaran posisi Jokowi kuat, fokus pun mencoba melisensi “beking” di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan menteri yang punya sapaan beken LBP.

Ibarat sinteron, Said Didu hanya aktor pembantu. Dalam catur, dia cuma pion. Ada orang besar di belakang layar.

Lihat saja awal korona, seruan kuncian diserukan dari kelompok itu-itu saja.

Selain Said Didu, sebelumnya ada AHY yang dalam kongres Demokrat sudah terantang kuncian untuk mengatasi semakin mewabahnya Covid-19. Tuntut mereka memang.

Kembali pada kartu truf Luhut. Di mata Luhut, Said Didu cuma lawan enteng. Dia hanya sekelas buzzer yang digunakan congornya untuk membuat penggunaan memanas di media sosial.

Justru Luhut memainkan strategi lain yang membuat dalangnya meradang. Sebuah kasus lama dibongkar kejaksaan untuk dibidik bos di belakang Said Didu. Ini menjadi sinyal yang berarti menteri sebagai “tameng” Presiden Jokowi selama ini, tidak tinggal diam.

Mantunya Danpaspampres Brigjen Maruli Simanjuntak pun sampai meluapkan emosinya dan ikut berkomentar di halaman Facebooknya saat sang mertua diserang habis habisan di berbagai media sosial yang dihebohkan dengan tagar #luhutpenkhianatri.

Katanya: “SD sedang berpikir keras untuk paling tidak menghindar, F mencoba menggalang kekuatan. Jaman sudah berubah Bung !!. Besar sdh berpikir kedepan.
Apa tidak pernah melihat K sdh nangis 2x di sidang,
ada yang peduli ??. yang memutuskan di Medsos, kemudian melanjutkan sidang lagi. ”
” Mulutmu Harimaumu “

Kata Didu dibidik. Tapi dia pun melawan. Adegan bermain korban diumbar. Strategi seolah-olah berhasil mendzalimi rakyatnya gencar disuarakan.

Sementara orang-orang seperti Said Didu inilah yang selalu membuat suasana panas. Salah satu dari kelompok yang setuju dan sakit hati yang paling getoluntut Jokowi mundur.

Kini setelah Said Didu terjebak ucapannya, sang sutradara pun mulai menampakkan batang hidungnya.
Dia adalah SBY. Model lama masih andalan; curhat, merasa pilu, merasa didzalimi seolah-olah penguasa bertindak sewenang-wenang.

Seperti dilansir detik.com, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti isu yang berkembang di masyarakat soal ‘ancaman’ penghinaan presiden di tengah wabah virus Corona. SBY melihat munculnya situasi ketegangan antara masyarakat dan pemerintah.

“Kedua, saya perhatikan beberapa hari terakhir ini justru ada situasi yang tak sepatutnya terjadi. Apa itu? Kembali terjadi ketegangan antara elemen masyarakat dengan para pejabat pemerintah, bahkan disertai dengan ancaman untuk ‘mempolisikan’ warga kita yang salah bicara. Khususnya yang dianggap melakukan penghinaan kepada Presiden dan para pejabat negara,” kata SBY dalam sebuah tulisan berjudul ‘Indonesia Harus Bersatu, dan Fokus Pada Penghentian Penyebaran Virus Korona’ di laman Facebook miliknya, Rabu (8/4/2020).

SBY meminta situasi ini ditangani dengan bijak karena jangan sampai situasi tegang ini terus berlanjut. Apalagi saat ini seluruh masyarakat sedang menghadapi krisis wabah virus Corona.

“Mumpung ketegangan ini belum meningkat, dengan segala kerendahan hati saya bermohon agar masalah tersebut dapat ditangani dengan tepat dan bijak. Kalau hal ini makin menjadi-jadi, sedih dan malu kita kepada rakyat kita. Rakyat sedang dilanda ketakutan dan juga mengalami kesulitan hidup karena terjadinya wabah korona ini. Juga malu kepada dunia, karena saya amati hal begini tidak terjadi di negara lain,” ujarnya.

Pertanyaannya, apakah tulisan SBY ini berhubungan dengan Said Didu yang kini dibidik Luhut?
Kalau iya, apa hubungannya Said Didu dan bapak tua ini?
Apakah Didu cuma suruhan orang besar di belakang layar yang ingin situasi Indonesia tak tenang?
Makanya ia meradang kalau salah satu pionnya terancam dikandangkan.

Nyali Pemerintah Jokowi memang tak ada matinya. Saat negara dilanda wabah corona, para penegak hukum masih menunjukkan taring dengan menyita aset para koruptor. Pantas saja para mantan penguasa kebakaran jenggot dan lantang bersuara.

Saat pembuat onar Said Didu terus diincar Luhut, sutradara belakang layarnya langsung blingsatan kayak kayak tikus kecemplung masuk got.

Semoga Jokowi dan penegak hukum tak bergeming dengan segala tekanan yang ada. Kalau memang terbukti bersalah, hukum harus ditegakkan. Tak peduli ia mantan penguasa apalagi mantan pejabat BUMN.

Semoga negara kita segera keluar dari Pendemi Corona dan juga bersih dari virus koruptor yang ada. Kita optimis negara ini bisa menjadi lebih baik ke depan.

Untuk itu, kepercayaan tinggi harus diberikan pada Jokowi dan juga para pejabat yang bertemu. Indonesia berjaya jika kita menang melawan semua yang bertarungan. Baik bertarung melawan penyakit juga koruptor yang membuat negara sakit. ***

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top