Opini

Organisasi Milenial Terisolasi & Tersandera Dalam Kolektivitas Fantasi Ruang-ruang Maya

Oleh: Ketua HMI Bidang Infokom, Firman Kurniawan Said

ORGANISASI itu ibarat organisme hidup. Terus mengalami siklus perubahan alias dinamis. Organisasi bukan sesuatu yang statis. Organisasi adalah wadah yang di dalamnya ada individu-individu yang satu sama lain diikat oleh suatu kepentingan dan naungan ideologis bersama.

Perubahan pada organisasi bisa sangat mencolok jika kita membuat perbandingan gambaran organisasi dari satu kurun waktu tertentu dengan kurun waktu yang lain. Perubahan boleh jadi mengambil bentuk yang mencolok atau samar-samar.

Yang mencolok, misalnya dari strategi rekrutmennya, pola kaderisasinya, dan bentuk-bentuk lainnya. Yang lebih samar, misalnya terletak pada ideologi, kultur atau mentalitas dari organisasi tersebut. Keduanya – baik yang bersifat mencolok atau samar-samar – tak bisa dipandang sebagai hal yang saling terpisah.

Misalnya, mentalitas organisasi sebagai sesuatu yang samar memberi bentuk pada pola atau strategi kaderisasi sebagai sesuatu yang mencolok. Sebaliknya, bentuk mencerminkan mentalitas atau ideologinya.

Tak dapat dipungkiri bahwa ada bagian-bagian yang tidak selalu mencerminkan ideologi organisasi. Katakanlah sebagai penyimpangan. Ini justru mencerminkan sesuatu yang mengguncang apa yang “settled” dari organisasi dan merupakan salah satu yang memicu adanya perubahan.

Ditinjau dari faktor pemicunya, hal itu bisa berasal dari kondisi internal atau kondisi eksternal atau boleh juga berasal dari kedua-duanya. Faktor internal bisa merujuk pada sumber daya organisasi, mulai dari kepemimpinan, keanggotaan, modal, dan lainnya. Faktor eksternal bisa merujuk kepada keseluruhan dinamika sosial yang terjadi di luar organisasi.

Perubahan, Ancaman atau Peluang
Perubahan merupakan sosok dengan wajah ganda. Satu sisi menampilkan seringai ancaman yang menakutkan. Wajah yang lain menyunggingkan senyum menawan menghadirkan peluang. Eksistensi organisasi – di tengah laju perubahan – tentu saja menghadapi dua wajah ini.

Laju perubahan bisa jadi membawa organisasi pada keterancaman tetapi bisa juga membuka peluang atau kesempatan untuk berbenah dan beradaptasi. Di sini, kemampuan beradaptasi penting untuk dimiliki oleh sebuah organisasi pemuda.

Adaptasi yang dalam bahasa Inggris “adaptation” berasal dari kata kerja “adapt” (to adapt), “adapter” (dalam bahasa Perancis), dan “adaptare” (dalam bahasa latin). Di sini, “adapt” (to adapt) merujuk pada pengertian “make (something) suitable for a new use or purpose; modify” (https://www.lexico.com). Yakni menyesuaikan, membuat (sesuatu) menjadi cocok untuk tujuan baru. Kemampuan menyesuaikan diri (atau cocok) dengan berbagai situasi memungkinkan organisasi bisa bertahan dan bahkan berkembang.

Apa yang perlu dilakukan? Pertama, aktor-aktor organisasi harus memiliki kemampuan untuk membaca kondisi-kondisi eksternal. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa organisasi hidup dalam ruang sosial, bersinggungan dengan hal-hal lain di luar organisasi.

Kemampuan membaca keadaan eksternal memberi asupan tenaga untuk memberi bentuk pada organisasi yang dijalankannya. Terutama apabila ini berkaitan dengan situasi yang tidak menguntungkan bagi organisasi, entah ini berkaitan dengan kebijakan politik kampus, keadaan negara atau keadaan sosial yang lebih luas. Kemampuan adaptasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan memahami situasi.

Dalam cakupan kecil, misalnya, sebuah kebijakan politik di kampus seringkali mempersempit ruang gerak organisasi dengan berbagai cara dan alasan, mengisolasinya dari kehidupan mahasiswa.

Bahkan dengan stigma organisasi tidak lagi dibutuhkan untuk mendukung perkembangan dunia akademik. Tentu saja situasi tidak menguntungkan ini bila tidak direspon secara kreatif dan kemampuan adaptif yang baik memungkinkan organisasi terpinggirkan dan tak menarik. Respon kreatif dan adaptif di sini adalah kunci. Ini yang menentukan apakah kondisi tersebut bisa menjelma menjadi ancaman atau peluang?

Kedua, organisasi harus mampu mengembangkan “pembingkaian” (framing) yang kreatif. Goffman menyebut “frames” sebagai “skema interpretasi” yang memungkinkan orang-orang “memosisikan, menerima, mengidentifikasi, dan menandai peristiwa-peristiwa” (Benford and Snow, 2000:614).

Johnston menyebut “pembingkaian” sebagai sesuatu yang memungkinkan organisasi menunjukkan tentang “apa yang mesti dilihat, apa yang dianggap penting sehingga aktivis organisasi mampu menjelaskan apa yang terjadi” (Johnston, 2002: 64).

Dengan kata lain, proses ini memungkinkan kepada publik apa yang sesungguhnya organisasi hendak tunjukkan, ide dan kepentingan apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan, apakah sesuai dengan kebutuhan publik dan semacamnya.

Pengemasan pesan-pesan ideologis secara kreatif termasuk kemampuannya merangkul semangat, nilai atau tren yang berkembang dan digandrungi oleh publik saat ini merupakan instrumen penting dan berpotensi berhasil merekrut anggota baru. Sebaliknya, pengemasan yang tidak kreatif, yang tidak sejalan dengan kebutuhan saat ini, berpotensi ditinggalkan oleh anggotanya.

Gaya Milenial
Tidak bisa dipungkiri bahwa bicara organisasi pemuda saat ini adalah berbicara generasi yang jadi banyak perbincangan. Ya, generasi milenial atau gen Y (yang tentu diikuti oleh gen yang lebih muda, yakni gen Z). Apa yang menjadi karakteristik dari gen milenial adalah salah satunya: milenial akrab dengan teknologi internet.

Jika dikatakan bahwa hari ini adalah era yang dikenal dengan sebutan “internet of things”, bahwa banyak hal dalam keseharian kita terkoneksi dengan internet, dan membutuhkan bantuan koneksi internet, maka milenial adalah salah satu generasi yang kebingungan jika internet terganggu.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan – dalam risetnya tahun 2017 – bahwa generasi milenial merupakan pengguna internet terbesar di Indonesia dengan angka 49,52% (https://kumparan.com).

Fakta ini mengungkapkan bahwa kemasan-kemasan pesan ideologis atau apapun oleh organisasi tidak bisa memungkiri apa yang dekat dengan milenial atau gen Z (yang lebih muda).

Sehingga salah satu reformulasi yang penting bagi sebuah organisasi adalah kemampuan aktor-aktor organisasi untuk beradaptasi dan bergerak secara kreatif seiring laju perkembangan teknologi yang kian maju.

Misalnya, kemasan ideologis atau nilai-nilai organisasi bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan atraktif melalui medium ruang-ruang maya berupa media sosial: twitter, instagram, youtube, facebook, blog atau lainnya – di samping juga disampaikan melalui selebaran dan bentuk-bentuk fisik lainnya.

Perhatikan organisasi atau aksi-aksi sosial. Kampanye mereka begitu ramai mengalir di timeline-timeline twitter baik dalam bentuk teks, foto atau video. Hanya dalam hitungan detik, informasi dan kampanye mereka menyebar ke seluruh dunia.

Kemasan pesannya juga perlu dibuat secara kreatif untuk bisa memikat. Kemasan pesan yang dibuat pendek dalam bentuk kutipan-kutipan kadang lebih disukai ketimbang tulisan panjang.

Memang media sosial didesain untuk bisa dibaca dalam waktu yang sangat cepat, ini sejalan dengan salah satu karakteristik teknologi yakni kecepatan. Sebagai opsi, pesan dalam kutipan pendek kadang diiringi dengan ketersedian “link” pada tulisan yang lebih panjang yang bisa diakses dengan cepat melalui blog.

Strategi pesan dalam bentuk pendek yang mudah dan penuh makna bisa memancing untuk membaca pesan yang lebih utuh.

Selain bicara kemasan ideologis, kerekatan kolektivitas organisasi juga dimungkinkan oleh medium teknologi. Milenial punya ruang-ruang maya yang memungkinkan intensitas kebersamaan mereka terjalin.

Maka ruang maya mesti menjadi pilihan bagi organisasi untuk bisa merekatkan satu sama lain keanggotaan mereka. Tentu saja di sini tak bisa lepas dari sisi peluang dan ancaman. Ruang-ruang maya bagi organisasi bisa menjadi peluang dalam rangka jalinan hubungan, ikatan kolektif dan pertukaran ide-ide.

Ruang maya memungkinkan efektifitas dan efisiensi. Misalnya, pertukaran ide dan diskusi bisa dilakukan dengan cepat tanpa hambatan jarak. Keputusan bisa diambil dengan cepat dalam perdebatan di ruang-ruang maya.

Tetapi ruang-ruang maya juga merupakan problem. Ruang-ruang maya bisa mengalihkan kita dari ruang nyata kehidupan sehari-hari.

Organisasi – yang seharusnya merupakan kolektivitas dalam wujud jumpa muka, interaksi nyata secara fisik – bisa tersandera ke dalam kolektivitas dalam wujud maya di ruang-ruang maya. Ruang maya bisa membawa kita ke dalam fantasi bahwa kita saling berinteraksi dan bersama-sama di dunia maya padahal sesungguhnya mereka semakin terisolasi satu sama lain.

Tapi sekali lagi, ancaman dan peluang – bagi aktor-aktor organisasi – adalah soal cara menyikapi. Perubahan tak mungkin kita hindari. Sementara berorganisasi adalah salah satu kebutuhan untuk ikatan kolektivitas, perwujudan dari kesamaan ide-ide dan kepentingan.

Karena itu, kita berkepentingan untuk merawat organisasi. Maka, adaptasi kreatif atas perubahan adalah hal penting.***

Most Popular

To Top