Opini

Bukan Ojol Gadungan, Bukan Ojol “Ngamen” Cari Recehan, Kami Ojol Asli Pejuang Keluarga, Salam Satu Aspal, Merdeka!

Dalam beberapa tahun, profesi ojek online selalu menjadi daya tarik bagi masyarakat luas. Tak dipungkiri, mengatasi transportasi online ini dapat mengatasi masalah yang didapat dan memperbaiki ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah

Ojek online menjadi pilihan praktis dan cepat dalam mencari uang. Bermodalkan sepeda motor dengan tahun tertentu, SIM, STNK pajak hidup, SKCK dari kepolisian, bisa langsung membuat akun pengemudi ojol. Dan otomatis hari itu juga bisa mencari uang.

Sayangnya, kadang-kadang menjadi komoditas politik atau untuk kepentingan kelompok. Ya, ojol kadang hanya bisa dijadikan simbol mencari ketenaran segelintir orang tertentu. Mulai dari forum bikin atau organisasi.

Banyak organisasi atau Forum mengatasnamakan Ojol. Ada Forum yang tiba-tiba nongolnya, lalu lantang bicara keras seolah-olah membahas hak atas ojol.

Udah namanya nggak tenar, banyak forum atau organisasi yang teriak-teriak tentang tidak ada kejelasan dari pemerintah dan wakil rakyat di DPR RI dalam mengakomodir berbagai hak pengendara ojek online yang ada di termarjinalkan ini. Padahal belum tentu mereka pekerja ojol.

Secara ekonomi, pendapatan ojek online saat ini sangat memprihatinkan. Dua atau tiga tahun lalu, jadi supir ojol lebih dari cukup buat kebutuhan hidup sekeluarga. Bahkan bisa menabung buat beli rumah atau kendaraan roda dua baru. Tapi saat ini, para pengemudi mulai banyak yang mulai putus asa.

Banyak kelompok yang meminta persetujuan saya dalam memperjuangkan hak-hak para pengemudi ojol.

Mereka teriak-teriak dari tarif yang terlalu murah, kesepakatan kemitraan sepihak oleh aplikator yang tidak memenuhi rasa keadilan bagi pengendara, putus mitra atau menunda sepihak dari aplikator dan berbagai masalah lain, padahal mereka bukan ojol. Ya, mereka adalah ojol gadungan.

Sementara sudah ada Permenhub yang mengharuskan pihak aplikator agar tidak melakukan PM atau menangguhkan yang menyebabkan pengemudi. Tapi kenyataan di lapangan, peraturan itu dianggap sampah sama aplikator. Banyak Ojol kena PM dan Menangguhkan tanpa alasan yang jelas. Lagi-lagi, ini juga teriakan segelintir oknum mengatasnamakan ojol, padahal Ojol palsu.

Selain masalah tarif, pengemudi ojol juga harus bekerja memeras keringat hingga kering, harus bertaruh darahnya, untuk bertarung nyawa di jalanan demi menghidupi keluarga. Begitu kata ojol gadungan demi mencari popularitas semata.

Penderitaan bertambah dengan pesanan yang terus bertambah alias anyep. Tidak ada rasa krisis terhadap pekerja ojol dari pihak pemerintah atau wakil rakyat di DPR. Pemerintah dan para wakil rakyat hanya berpihak pada pengusaha dan elit politik saja.

Ojol sampai saat ini hanya menjadi sapi perahan aplikator sebagai mesin penghasil kapital demi menumpuk pundi-pundi kekayaan mereka. Pemerintah dan wakil rakyat untuk membuktikan keberlanjutan bagi para ojol. Ini juga menjadi model teriakan lantang ojol palsu.

Kita lihat di Prolegnas ini, apakah ada payung hukum yang diperlukan undang-undang yang meminta para pekerja ojol. Pemerintah harus segera menyesuaikan tarif ojol seperti meningkatkan UMP / UMR pada tenaga kerja, menyesuaikan juga kenaikkan BPJS dan naik berbagai kebutuhan hidup lainnya.

Ah sudahlah, aku lebih percaya sama bapak tua ojol yang ngopi bareng sambil menunggu pagi menerima. Dia bekerja agar dapur ngebul dan masa bodo dengan forum-forum mengatasnamakan ojol, padahal Ojol palsu.

Pemerintah dan wakil rakyat juga harus sepakat tentang kemitraan dengan aplikator. Harus jelas dan transparan. Memperhatikan hak-hak mereka sebagai pekerja online yang dilindungi UU. Lagi-lagi ojol palsu teriak-teriak begini.

Yang pasti, saya hanya minta ojol asli harus bersatu. Baik itu dari komunitas manapun, pejuang tunggal atau organisasi agar konsisten dalam memperjuangkan nasib ojol. Tak cuma memperjuangkan ojol di Jakarta. Tapi juga ojol di daerah-daerah.

Ojol jangan terpecah belah. Jangan terprovokasi oleh oknum-oknum mengaku ojol padahal cuma cari keuntungan di atas kesulitan ojol. Kami ojol beneran, bukan ojol abal-abal yang hanya mencari untung di atas untung Ojol palsu. Kami bukan ojol gadungan yang cuma “ngamen” cari recehan ke lembaga-lembaga.

Kami sadar, kami bukan apa dan siapa siapa. Kami hanya pengemudi sekolompok yang peduli terhadap sesama pengemudi lainnya. Kami hanya mencoba untuk memperjuangkan nasib bersama. Kami akan terus berteriak lantang agar ada keadilan bagi para pengemudi ojol. Salam satu aspal. Merdeka untuk ojol Indonesia! (Ujang Bibilitik / WRC Ojol)

Most Popular

To Top