Politik

Bongkar Kejahatan Mafia & Korupsi, PSI Tak Hanya Mengaum di Podium, Tapi Tajam di Media  

Ayonews, Jakarta

Partai Solidaritas Indonesia bak bayi ajaib. Meski tak lolos ke parlemen di DPR, suara Pemilu yang dihasilkan PSI mencapai 2% suara. Hasil ini bisa mengalahkan beberapa partai lawas. Berbagai prediksi menjelang Pemilu pun, PSI jadi partai kuda hitam.

Bahkan, partai yang membawa platform tentang solidaritas, pluralitas, lintas agama, juga tak membedakan suku ini berhasl mengguncang iklim perpolitikan di Indonesia. Misalnya, ketika ada isu besar dan populer publik serentak meminta agar PSI bersikap.

Kasus anggaran lem aibon DKI Jakarta yang dibongkar salah satu anggota DPRD Fraksi PSI William Aditya Sarana turut membuat heboh seantoro negeri. Pujian terus mengalir, meski sebagian lainnya mengeritik bahkan mengerahkan buzzer di medsos untuk memutarbalikkan fakta dengan meyalahan William.

PSI tak gentar. Ancaman, teror, bullyan dan makian terus diarahkan para lawan politik ke PSI. bukan lagi sekadar psy war, ancaman fisik pun nyaris dialami William. Berbagai serangan itu tak membuat PSI goyah. Namun tetap bertekad terus membongkar berbagai kebusukan-kebusukan para mafia anggaran.

“Kasus Jiwasraya orang nuntut PSI agar berbuat. Seolah PSI ini sedang di DPR memegang kekuasaan. Ada yang benar-benar tulus mendukung ikut membongkar mega sandal itu. Meski juga ada yang benci. Benci itu kan simbol benci-benci tapi rindu. Ada kerinduan dan harapan sebagai partai yang konsisten berbuat demi kebaikan bangsa dan negara agar PSI terus berbuat,” papar Ketua DPP PSI Raja Juli Antoni saat membuka peluncuran buku “Ekspresi Politik Milenilai dari Anak-anak Muda untuk Indonesia” di DPP PSI, Rabu (22/1/2020).

Antoni menegaskan bahwa PSI lahir sebagai sumber dirkusus baru dalam lansdscape perpolitikan Indonesia. PSI menjadi sumber wacana bagi kaum muda milenial. Sebuah partai yang tak hanya mengaum keras di podium, tapi juga tajam di media mengkritisi kondisi sosial, pemerintahan dan politik Indonesia.

Tidak seperti partai lain kebanyakan yang bertumpu kepada seorang tokoh demi mengangkat nama partai, PSI tidak melakukan cara itu. Partai ini lebih mengedepankan transparansi sumbangan finansial, khususnya memisahkan pengaruh bisnis dari operasional partai.PSI yang resmi menjadi Badan Hukum setelah melalui verifikasi Kementerian Hukum dan HAM, menjadi salah satu partai baru yang lolos seleksi ikut Pemilu paska Pilpres 2014.

“Sebagai partai baru, PSI bisa memantik diskursus, perdebatan baru. Tidak melulu tentang kekuasaan dan bagi-bagi kekuasaan. Tapi juga memiliki program jangka panjang,” terang Raja Juli.

Munculnya ide politik gagasan ini sebagai antitesis politik identitas. Puncak politik identitas itu dimulai sejak tahun 2012. “Kami membaca situasi saat itu, politik idenitas itu apakah memperjuangkan agama atau hanya jadi komoditas politik? Gerakan mengawal fatwa itu harusnya dikawal MUI. Ketika relevan dengan kepentingan politiknya, maka dikawal. Kalau tidak, dianggap sebagai lawan,” paparnya.

Anak Muda 

Abdurrahim Ghazali, yang ikut di dalam acara peluncuran buku itu mengatakan bahwa awalnya PSI bukan partai, tapi ormas. “Saya terlibat dalam diskusi politik anak-anak muda. Dalam survei mereka tidak tertarik dengan politik. 75% anak muda tidak tertarik pada politik.

“Apalagi jika disebut partai, mereka sangat Apriori. Yang tergambar di pikiran anak muda, parpol itu isinya orang tua ngantuk di DPR, korupsi. Karena itu kalangan anak muda banyak yang alergi dengan politik,” ujar Ghazali.

Ghazali hapal betul dengan embrio dari lahirnya PSI ini dimulai ketika diadakan lomba menulis. Ternyata dari tulisan itu banyak anak-anak muda tertarik politik. Tapi politik dengan apa yang mereka bayangkan, bukan politik saat ini.

“Ratusan tulisan masuk. Ada 100 tulisan yang dianggap baik. Lalu kita kumpulkan dalam buku solidaritas tentang kebangkitan anak muda dan perempuan. Lebih tertarik lagi ketika Tsamara Amani rajin menulis dan tulisannya sangat mencerminkan aspirasi politik anak-anak muda,” papar Ghazali.

Tulisannya yang tersebar di blog pribadi Tsamara, lahirlah buku curhat perempuan. Dari tulisan yang banyak itu dibuatlah sebuah buku. Buku itu semakin membuat saya bergairah untuk mengumpulkan lebih banyak tulisan tentang PSI, kendati dengan administrasi menjadi peserta Pemilu.

Tulisan tentang PSI ini banyak sekali. Dari tulisan yang menyanjung, moderat, kritik juga banyak. Dari kumpulan tulisan itu, menggambarkan secara utuh bagaimana anak-anak muda mengelaborasi perjalanan PSI dan ide-ide yang dilontarkan.

“Porsi tentang penolakan syariat Islam, Perda Islam dan poligami banyak di buku ini. Munculnya ide menentang poligami sangat laku sebagai wacana. Secara elektoral pun berpengaruh saat Pemilu,” terangnya.

Wacana-wacana yang dilontarkan para anak muda ini menyita banyak kalangan. Bahkan ada juga yang tumbuh kebencian.

“Saya melihat PSI terus bereksperimen tentang anak muda dalam membuat aspirasi lama yang dikemas secara baru. Tetap dalam perjalanannya akan berhadapan dengan realitas politik,” ujarnya.

Realitas politik yang menjadi ujian pertama PSI adalah ketika Capres incumbent Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai wakilnya. Padahal semua orang tahu kalau Ma’ruf Amin adalah orang yang akhirnya memenjarakan Ahok. Padahal, Ahok itu idolanya anak-anak muda, termasuk idolanya PSI.

“Banyak lagi nanti realitas politik di lapangan yang bakal dihadapi PSI ke depannya. Apalagi PSI membawa pesan perjuangan anti syariat Islam. Di lapangan bakal banyak menghadapi berbagai benturan kuat. Karena aspirasi agama dan politik saling berkelindan sangat kuat,” tandasnya.(dm)

 

Most Popular

To Top