Gaya Hidup

Balap Liar Bukan Jamannya, Mau Adu Adrenalin Harus di Jalur Semestinya

Ayonews, Tasikmalaya

Hobi balap motor atau pun mobil masih banyak digandrungi anak-anak muda hingga saat ini. Namun dengan sedikitnya arena balap dan mahalnya sewa tempat untuk menyalurkan hobinya, bikin sebagian penghobi adu kekuatan mesin oprekan mobil balapnya ini memilih jalur liar.

Sekitar satu dekade lalu, Jalan Asia Afrika Senayan, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat favorit para penghobi balap liar. Di sana berkumpul anak-anak muda, mulai dari orang biasa sampai anak pejabat yang memiliki mobil yang mesinnya sudah dimodifikasi racing atau di-swap engine, saling unjuk kekuatan.

Bahkan tak sedikit mereka bertaroh uang dalam jumlah besar. Saat itu, polisi lalu lintas pun seperti tutup mata. Mereka biarkan mobil-mobil bertenaga turbo dengan knalpot memekakkan telinga saling adu kebut. Bukan cuma orang Jakarta, pesertanya pun banyak berdatangan dari luar kota. Di beberapa kota lainnya pun ada balap liar.

Jaman kini berganti. Memang sudah nggak tampak lagi kawasan Asia Afrika dijadikan ajang balap dalam beberapa tahun belakangan. Bisa jadi aparat kepolisian sudah melarang keras kawasan Senayan dijadikan sebagai ajang balap mobil liar. Selain membahayakan bagi warga lainnya sebagai pengguna jalan, balap liar melanggar hukum.

“Temen kita kan banyak, walaupun beda grup tapi kita merasa senasib, sama-sama nongkrong dan cari happy kepuasan. Temen kita ada yang anaknya pejabat menteri, keluarga dekat anggota dewan, artis dan jenderal saat itu,” ujar Reza Ibo, salah satu penggemar balap mobil.

Salah seorang karyawan BUMN di bagian Bulog Jawa Barat tergabung dalam Komunitas Mobil Balap BEC Primera 166 Feat Bintang Primajaya & Sekar Kencana Tasikmalaya, pernah ikut meramaikan balap liar di kawasan Senayan beberapa tahun silam. Tapi kini, ia memilih ajang balap resmi untuk melampiaskan hobinya.

Dengan mekanik andalan bernama Ali Tuning (33), Reza memodifikasi mesin mobil tuanya, Honda Civic Genio tahun 1995 dengan berbagai part racing impor. Mesinnya dibikin garang. Tenaganya dirancang kuat agar bisa terpacu sekencang mungkin.

“Sekarang bukan jamannya lagi balap liar. Hobi balap sekarang bisa disalurkan ke arena resmi. Emang agak lumayan mahal menyalurkan hobi ini. Tapi ya, namanya hobi, berapapun uang habis, yang penting puas,” ujar Reza yang juga menjadi driver ojek online di komunitas GSBC (GoGrab Squad Bungursari Cihideung).

Karena itu, Reza pun bergabung dengan IMI (Ikatan Motor Indonesia) Jawa Barat untuk menyalurkan hobinya. Dia ikut dalam event drag race pada Sabtu (18/1/2020) di lokasi kawasan Meikarta, Cikarang, Jawa Barat.

“Beberapa even dragrace selalu ikut. Ketimbang balap liar, selain membahayakan juga melanggar lalu lintas, mending ikut balap resmi, dapat uang, dapat piala, keamanan pun terjaga, hati juga puas,” ujar Reza.

Di acara drag race di Meikarta ini Reza Ibo mendapatkan beberapa piala. Dalam kelas breket 9 menempati posisi ke 5, breket 9.5 menempati posisi ke 3, breket 10 menempati posisi ke 5, breket 11.5 menempati posisi ke 1, breket 12 menempati posisi ke 1, kelas cc s/d 1600 sedan bagasi menempati posisi ke 2, sementara di kelas cc modified s/d 2000 cc menempati posisi ke 4.

Dengan hasil ini Reza berharap bisa kembali ikut di ajang drag race yang akan kembali digelar di bulan Maret 2020 di Yogyakarta dan bulan April 2020 di Sentul.

“Teman-teman yang punya hobi balap, ayok kita salurkan bakat itu di tempat yang semestinya. Jangan ada lagi balap liar. Kalau mau resmi sekalian gabung di IMI. Jadi kita tahu terus kapan even balap, bisa saling kenal dengan komunitas lainnya juga. Jadi hobi yang tersalur juga sesuai aturan,” tandasnya. (Yulianus Zebua WRC Tasikmalaya)

Most Popular

To Top