Politik

Antara Ahok, Para Bangsat & Para Bajingan

Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

TATKALA menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dikenal tukang marah. Di sela-sela kekesalannya terselip umpatan dan caci maki. Makanya nggak heran, kalau para Ahok haters selalu mengidentikkan Ahok dengan kata-kata kotor.

Salah satu jejak digital yang masih tersimpan, berikut kalimat bernada marah seorang Ahok; “Bagi saya definisi santun adalah berjuang mewujudkan keadilan sosial buat rakyat, tidak mencuri uang rakyat. Itu namanya santun. Kalau cuma ngomongnya doang yang santun tapi mencuri itu namanya bajingan, bangsat!”

Benarkah kalimat Komisaris Utama Pertamina itu bernada kotor seperti yang didefinisikan para pembencinya? Betulkah Ahok selalu diidentikkan dengan seorang pemarah yang bisanya cuma mencaci dan memaki? Layakkah para pembenci itu mencap Ahok seorang yang suka berkata kotor?

Pertanyaan ini bukan sesuatu yang gamang. Ternyata bisa dibuktikan secara ilmiah. Yuk kita mulai dari kata-kata ‘bangsat’ dulu. Apa sih bangsat itu?

Ternyata bangsat alias kutu busuk punya nama ilmiah cimex lectularius. Asalnya dari istilah latin. Tapi orang kita tahunya kutu busuk. Sebutan ‘bangsat’ buat binatang jenis itu hanya terucap di saat mengumbar kekecewaan atau kemarahan semata.

Berarti kutu busuk dan bangsat hanyalah alias. Keduanya dari jenis binatang yang sama-sama suka menghisap darah manusia dan hewan lainnya. Keluarnya kalimat bangsat itu karena habis digigit dan darah dihisap, tentu saja menjengkelkan. Spontan, makian pun terlontar; Bangsat!

Lebih jauh kita bahas ‘bangsat’ versi Azmi Abubakar, pendiri museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Anggota Dewan Pakar Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) ini menulis di akun twitter-nya (@azmiabubakar12) tentang asal usul kata ‘bangsat’ berdasarkan sumber majalah tahunan Sintjun yang terbit pada tahun 1958 tentang “Asal Usul Kata Bangsat.”

“Kata Bangsat berasal dari perkataan Tionghoa, BAT-SAT artinya KUTU BUSUK. Tak hanya untuk menunjuk binatang yang suka menggigit dan minum darah manusia, tapi kata bangsat juga ditujukan pada orang yg berprilaku seperti bangsat.”

Ternyata, kutu busuk alias bangsat ini juga punya nama alias lainnya. Yakni ‘tinggi’ alias ‘kepinding’ alias ‘tumila’. Dia termasuk jenis serangga parasit dari keluarga cimicidae (bahasa Latin). Ya mirip keluarga ‘C’ (bukan bahasa Latin) dari spesies tetangga.

Penjelasan versi Wikipedia soal keluarga cimicidae (kutu busuk/bangsat) itu begini: “…dikenal sebagai spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya.” Jadi jelas ya, keluarga ini tidak pandang bulu. manusia atau hewan sama saja, sikat habis darahnya!

Kutu busuk senang tinggal di rumah manusia, khususnya tempat tidur. Tuh, kalau manusianya tidurnya cuek melempem, males bersih-bersih, males ganti sprei alias nggak kritis, maka betah deh si bangsat tinggal nyempil di sudut-sudut kasur atau perabotan rumah lainnya.

Kutu busuk memang biasa tinggal dan bertelur di lipatan tempat tidur atau bantal dan tempat-tempat tersembunyi lainnya. Nah kan, kalo pada pules semua, bertelor alias berkembangbiaklah koruptor, eh kutu busuk alias bangsat alias tumila alias tinggi alias kepinding ini. Dengan lelapnya rakyat, –korban– maka keluarga cimicidae ini semakin banyak.

Penjelasan ilmiahnya, kutu busuk bisa menggigit tanpa disadari korbannya. Biasanya ia akan agresif pada malam hari. Gigitannya bisa menimbulkan bentol. Rasanya gatal disertai panas serta gejala alergi. Hewan ini beraroma tak sedap. Baunya sangat menyengat di hidung.

Deskripsi ilmiah soal perilaku si bangsat ini sangat gamblang kan… Lantaran korbannya terus tidur, ya mana sadar kalo gerombolan ini sedang beraksi. Geng cimicidae ini tambah agresif di ruang-ruang gelap, laksana gelapnya malam.

In the aftermath, setelah aksi mereka berhasil membobol pantat kita saat duduk cuek atau tidur lelap barulah rasa gatal yang menyebalkan terasa mengganggu. Perlu digaris bawahi, keluarga besar cimicidae beserta kroni-kroninya ini –sekali lagi– beraroma tidak sedap dan sangat menyengat di hidung.

Kutu busuk perlu darah untuk perkembangannya. Mulai menetas dari telurnya hingga dewasa. Tanpa darah mampuslah mereka, dengan cara mati pelan-pelan sambil tak bisa berkembangbiak. Jadi kurang gizi, malnutrisi. Cara pengendaliannya harus dengan mencegah mereka menyedot anggaran, eh maksudnya darah…

Lantaran mereka sukanya di tempat-tempat gelap, maka bawalah transparansi, maksud saya bawalah terang itu masuk. Mereka pasti gerah dan tidak betah.

Oh ya, ada kata ‘bajingan’ saat Ahok mencocot marah. Kata ‘bajingan’ yang aslinya berarti pengendali gerobak sapi –kusir sapi— tetapi akhirnya berberkonotasi negatif.

Begini ceritanya: seorang bajingan berubah maknanya jadi negatif lantaran perjalanan seekor sapi sangatlah lamban, ya kira-kira melaju 4 km/jam. Kondisi ini bikin sang juragan gusar tak sabar menunggu.

Dan ini yang bikin jengkel, terkadang (atau mungkin selalu) si kusir sapi (bajingan) yang mestinya juga mengawal gerobak sapinya kerap tidak jujur dan mencuri sebagian muatannya. Sehingga membuat juragan pemilik gerobak mengumpat kesal, “Dasar bajingan!”

Namun setelah tahu arti kata bangsat, kan jelas sama sekali tidak kasar. Mungkin terdengar keras, namun jelas tidak kasar. Kata ‘bajingan’ (kusir/pengawal yang mencuri) dan ‘bangsat’ (kutubusuk penghisap darah) adalah metafora yang pas menggambarkan (merepresentasikan) realitas yang coba diungkap oleh Ahok.

Soal keluarga besar ‘C’ yang dari spesies tetangga beserta para kroninya, kita cerita di lain kesempatan.  Sekarang urusin Banjir…sambil garuk bentol dulu di bokong bekas gigitan si bangsat yang lagi kebelet kawin…

 

 

 

Most Popular

To Top