Uncategorized

Operasi Senyap Ala Menteri Edhy Prabowo itu NATO, No Action Talk Only Alias Asbun

Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

Kalau dulu, mantan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti melakukan operasi berisik menggunakan dinamit untuk menenggelamkan kapal asing pencuri ikan. Gayanya yang menggelegar-gelegar bikin nelayan-nelayan asing yang coba mencuri kekayaan laut Indonesia kapok.

Maka sekarang menteri KKP Edhy Prabowo melakukan operasi senyap yang sunyi. Sampai saat ini belum jelas apa maksudnya. Dampaknya pun nol.

Warganet memang kadang iseng. Di laman sebuah website mereka pun nyeletuk, “Yang melakukan operasi senyap itu KKP atau malingnya Pak?” sindir netizen Toto Wanto.

“Saking senyapnya tidak ada suara kapal yang berpatroli, membuat para pencuri ikan berpesta pora di Perairan Natuna. Hebat!” ujar Mosa, warganet lainnya.

Ketika ditanya wartawan soal operasi senyap ini, dengan enteng Menteri Edhy cuma jawab begini; “Kalau saya jelaskan, mereka tahu dong. Gimana sih?”

Iya gimana sih…? Maling ikannya beroperasi terang-terangan, sementara patrolinya –katanya– diam-diam alias tak nampak. Lha wong malingnya sampai bisa berjumpa dengan para nelayan di perairan Natuna, bahkan sampai dibuatkan film dokumenternya kok. Filmnya pun beredar luas di media social.

Thanks to medsos!

Nilai ekonomis hasil kekayaan laut kita sudah tak perlu dipertanyakan lagi berapa harganya. Kalau dulu mantan Menteri Susi Pudjiastuti mengaku pernah ditawari duit segede gaban –kabarnya 5T– supaya mundur dari jabatannya. Secara logika sudah bisa dikira-kira berapa besar aset kelautan yang bakal –dan telah–mereka raup dari laut Indonesia.

Yang miris, saat nelayan ini melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib, termasuk ke PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Batam. Laporan masuk tapi tak ada respon. Kapal-kapal asing pencuri ikan itu tetap bebas mengeruk hasil laut kita. Bahkan beginilah tanggapan petugas kantor itu saat terima laporan, “…anggaran operasi akhir tahun sudah tidak ada lagi.”

Duh!

Entahlah apakah memang begitu atau ini sekedar gaya lama petugas yang pengin minta uang jalan/transpor atau uang kopi alias pungli.

Wallahualam! Yang jelas tak ada aksi pengusiran atau pun pencegahan lagi. Benar-benar aksi senyap!

Operasi senyap sebagai respon untuk menghadapi operasi pencurian terang-terangan di depan mata yang melotot nampaknya tidak akurat.

Edhy Prabowo mengatakan, “Sesuai tupoksinya, begitu ada, kelihatan di alat kontrol, enggak perlu disuruh. Langsung tindak lanjut. Dikejar, ditangkap. Ini operasi senyap, enggak boleh kita ngomong.”

Sepertinya, pernyataan itu cuma sekedar retorika. Asbun alias asal bunyi. Ini perilaku inkonsisten!

Venire contra factum proprium: prohibition of inconsistent behavior. A party cannot set itself in contradiction to its previous conduct vis-à-vis another party if that latter party has acted in reasonable reliance on such conduct.

Perilaku inkonsisten, mencla-mencle, tidak taat asas bisa disebabkan beberapa hal. Salah satunya sedang menutupi hal lain yang jadi kepentingannya. Ada lobster di balik bakwan, begitu kira-kira.

Soal pencurian ikan di laut tidak perlu ada rahasia-rahasiaan kok. Semuanya terlalu gamblang. Tidak perlu senyap-senyapan. Suara kapal motor para pencuri ikan sudah meraung-raung dengan nyaring. Jaring pukat mereka tebar mengeruk trilyunan aset laut kita.

Operasi rahasia bin senyap justru biasanya dilakukan oleh para maling yang mengendap-endap masuk ke kantor pejabat, atau ngajak ketemuan di sebuah cafe, lalu kasak-kusuk sambil bisik-bisik, “…how much?”. Semoga yang terjadi bukan begitu ya… ***

 

Most Popular

To Top