Ekonomi

Krisis Kepemimpinan BUMN, Jadi Germo Pramugari, Calo Minyak, Terus Pamer Moge Tanpa Bayar Pajak

Ayonews, Jakarta

BUMN sebagai tiang utama dari ketiga soko guru perekonomian –selain swasta dan koperasi– mestinya bisa kokoh dan tegak berdiri. Bahkan harus menjadi benchmark bagi para pelaku bisnis di dunia.

Sayangnya, para kapitalis APBN/APBD ini secara de facto malah lebih cenderung menggerogoti anggaran ketimbang menciptakan nilai tambah dari persaingan di pasar domestik maupun internasional.

Sementara UMKM masih perlu banyak pembinaan dan topangan kebijakan yang kondusif. Dan Koperasi kita belum cukup massif perkembangannya.

Seperti sinyalemen Prof.Yoshihara Kunio bahwa pelaku bisnis swasta yang besar-besar masih banyak dicurigai lebih berciri ersatz-capitalism (Pseudo-capitalism, semacam kapitalisme-semu. Para pelaku usaha dan birokrat pemerintahan memanfaatkan keunggulan komparatif bangsa seakan-akan berbisnis untuk ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi, namun nyatanya nihil,” terang Sekjen Kawal Indonesia, Andre Vincent Wenas, di tengah diskusi Komunitas Anak Bangsa (KAB) di Jakarta, akhir pekan kemarin.

BUMN-BUMN ini, menurut Andre, harus terus dibenahi. Dimulai dari restrukturisasi portofolio bisnis BUMN itu sendiri. “Ini namanya pembenahan model-bisnis (structuring the business-model). Supaya perkembangan masing-masing BUMN tidak mengkanibal unit usaha sesama BUMN lainnya, tapi justu menciptakan sinergi,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan politisi PSI ini bahwa pembenahan model bisnis adalah dengan menempatkan the right man on the right place (orang-orang yang tepat). “Prof Jim Collins menyarankan ‘first who, then what’. Artinya ‘the right man behind the gun’ bersama tim yang akan dibangunnya itulah yang akan merumuskan arah dan strategi serta taktik operasional sehari-hari,” tambahnya.

Andre mengatakan bahwa mata tombak kementerian BUMN sesungguh ada padadua. Pertama, tentukan bisnis-modelnya, area bisnis mana yang mau dijelajahi. Kedua, tempatkan orang-orang terbaik sebagai pimpinan. Selebihnya adalah fungsi review (evaluasi) dan reward.

Penjelasan yang pertama adalah memilih bisnis yang bisa memberi potensi return terbaik tanpa melupakan fungsi sosial BUMN sebagai instrumen negara. Keseimbangan ini mesti dipatok dengan sangat bijak dan bebas dengan kepentingan pribadi.

“Setelah penentuan bisnis-model, segera dan serentak adalah membangun sentra kepemimpinan BUMN (leadership center),” tambahnya.

Menyikapi krisis kepemimpinan BUMN yang berkepanjangan, dosen filsafat ini mendesak Menteri BUMN agar merespon dengan solusi cepat maupun solusi antisipatif jangka panjang.

Karena itu, sambungnya, yang perlu dibangun di kementerian BUMN adalah leadership centre, yang akan jadi pusat pengelolaan talenta (talent-management) BUMN. Sentra ini mengelola data kepemimpinan bisnis terbaik di seluruh dunia yang setiap saat bisa diminta untuk masuk dalam armada kepemimpinan di unit usaha BUMN Indonesia.

“Targetnya adalah global company dengan KPI yang jelas dan terukur. Lalu mengevaluasi (review) dan memotivasi (reward) mereka,” terangnya.

Bersama para global-talents ini, Andre menjelaskan bahwa kementerian BUMN bisa senantiasa merumuskan kembali model bisnis terbaik (reshaping the best business model) dan merumuskan strategi usaha terbaik (reshaping the best business strategy) demi keunggulan kompetitif di tingkat global.

“Kancah permainan para CEO BUMN Indonesia mestinya adalah perkembangan bisnis global (lewat ekspansi atau international merger & acquisitions), ini namanya organic and inorganic business development. Bukan jadi mucikari pramugari atau berkolusi dengan calo-calo minyak supaya bisa naik moge tanpa bayar pajak,” tutupnya.***

 

 

Most Popular

To Top