Ekonomi

BUMN Sedang Digerogoti Tikus-tikus Serakah, Jika Terus Dibiarkan Bangunan Ekonomi Negara Roboh

Ayonews, Jakarta

BUMN sedang mengalami krisis kepemimpinan di tingkat kelompok unit usahanya. Kinerja mereka jauh dari harapan. Seperti yang diungkap Menteri BUMN Erick Thohir, dari 142 perusahaan plat merah, hanya 15 yang bisa berkontribusi kepada negara.

“Padahal, indikator unjuk kerja seorang CEO (chief executive officer) pada dasarnya adalah kinerja yang baik di hasil akhir maupun proses (processes and results indicators),” kata Sekjen Kawal Indonesia, Andre Vincent Wenas dalam diskusi bersama Komunitas Anak Bangsa, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Supaya kerja CEO bisa efektif dan efisien, lanjut Andre, perlu ditetapkan indikator-indikator kunci yang bisa mencerminkan hasil memuaskan. Biasa dikenal dengan istilah KPI (key performance indicators).

“KPI adalah hasil pilihan dari berbagai macam PI (performance indicators) di hasil (akibat) maupun di dalam proses (sebab) yang dianggap prioritas –menggunakan prinsip paretto, the paretto-principle–,” ujar politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Lantaran proses manajemen adalah termasuk dalam kancah proses-proses sosial di mana banyak faktor berkelindan di dalamnya, menurut Andre, agak terburu-buru jika mengidentifikasi kinerja ini sebagai hasil suatu proses sebab akibat.

Dalam ilmu manajemen, jelas Andre, indikator-indikator ini biasanya disebut sebagai lead-indicators (sebagai yang mengawali) dan lag-indicators (sebagai yang mengikutinya). Bisa sebagai hubungan sebab akibat, namun bisa juga hubungannya hanya bersifat korelatif.

“Sebagai pimpinan puncak, jabatan CEO paling bertanggungjawab atas hasil akhir, yaitu penciptaan nilai tambah korporasi, atau profitabilitas dalam spektrum waktu yang disepakati bersama para pemangku kepentingan korporasi,” jelasnya.

Dikatakan dosen filsafat ini, perspektif keuangan yang tercermin dalam beberapa rasio keuangan (ROA, ROI, ROE, dll) maupun persentase tingkat pertumbuhan (growth-rate) bisa jadi patokan. Atau bisa juga memakai ukuran perbandingan (komparasi) atau benchmark dengan indikator best-practices lainnya.

Namun demikian, Andre mengingatkan bahwa hasil keuntungan keuangan (financial results) itu tidak datang begitu saja.

“Ada 3 (tiga) lead-indicators lain yang menopang keberhasilan kinerja keuangan. Yakni, pertama, aspek pasar/konsumen/pelanggan. Kedua, aspek proses internal perusahaan. Apakah prosesnya paling efisien dan efektif dalam menghasilkan barang jasa dan hasil akhirnya. Ketiga, aspek manusia dalam organisasinya. Apakah motivasi untuk terus belajar dan bertumbuh masih menyala dalam sanubari setiap pelaksana proses manajemen perusahaan,” paparnya.

Secara organisasi BUMN, sambungnya, korporasi ini seharunya menjadi organisasi yang adaptif. Bisa menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Karena ia juga adoptif atau bisa menyerap cepat dalam proses pembelajarannya terhadap hal-hal baru. Artinya terbuka, toleran dan tidak fanatik buta.

Sementara, ketika bicara innovativeness, menurut Andre, lahir dari organisasi pembelajar yang senantiasa mau keluar dari zona nyaman manakala lingkungan bisnis menuntut perubahan model bisnis.

“Financial results hanyalah lag-indicators (konsekuensi) dari keberhasilan korporasi memenangkan kompetisi di pasar. Dan kompetisi di pasar hanya bisa dimenangkan jika proses internal organisasi bisa bekerja dengan paling efisien dan efektif dibanding pesaingnya,” tambahnya.

Supaya korporasi ini bisa punya keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif, terang Andre, maka anggota organisasi mesti terdiri dari talenta terbaik (the best talents) yang ada di lingkungan bisnis (lokal maupun global).

“Dari pernyataan Erick Thohir maupun menteri keuangan Sri Mulyani, tentang skandal di beberapa BUMN, termasuk BUMN keuangan (bank dan asuransi) kita disadarai bahwa pilar perekonomian bangsa sedang digerogoti tikus-tikus serakah. Risikonya ya bisa roboh bangunannya,” tandasnya.***

 

 

Most Popular

To Top