Politik

Aksi Politisi PSI di Parlemen itu Biasa Saja, Tapi Banyak Yang Terkaing-kaing Kayak Anjing Kejepit

Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

 

Tidak ada yang istimewa dengan berbagai manuver politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di parlemen. Tapi banyak pihak terkaget-kaget. Mereka seperti nggak terima dengan berbagai aksi buka-bukaan para politisi-politisi muda ini.

Nyatanya, simpati dan dukungan dari masyarakat terus bergulir. Beberapa kadernya di dewan pun bisa memperoleh penghargaan. Ya, PSI bak kuda hitam di Pemilu mendatang.

Di Jakarta ada Idris Ahmad, Anthony Winza Prabowo, Viani Limardi, Justin Adrian, Anggara Wicitro Sastroamidjojo, August Hamonangan, William Aditya Sarana dan Eneng Malianasari.

Di Sulawesi Utara ada Melky Jakhin Pangemanan (DPRD Provinsi) & Jurani Rurubua (DPRD Kota Manado). Di Tangerang Selatan ada Aji Bromokusumo, Alexander Prabu, Emanuella Ridayati & Ferdiansyah. Di Surabaya ada 4 kadernya. Dan masih ada di berbagai daerah lainnya.

Mereka memang baru beberapa bulan menduduki kursi dewan. Namun kiprahnya sangat terasa dampaknya.

Apa sih sebetulnya yang diperbuat oleh mereka yang dianggap luar biasa? Ya, apanya yang luar biasa? Artinya apa yang di luar kebiasaan selama ini? Menuntut transparansi anggaran mulai sejak perencanaan, apanya yang istimewa? Ini kan sesuatu yang sudah sewajarnya. Meminta materi rapat jauh hari sebelum hari rapatnya supaya bisa dipelajari dengan seksama, juga biasa saja toh.

Hadir di rapat on time supaya nggak molor dan buang-buang waktu yang sangat berharga memang sudah sepantasnya sebagai wakil rakyat seperti itu. Disiplin dengan waktu memang sudah seharusnya menjadi budaya di parlemen. Mengembalikan sisa dana reses? Lha, memang sudah semestinya begitu kok…

Menyisir pos-pos anggaran dengan kritis? Lho, kalau nggak teliti mana kena itu kutu-kutu rambut seperti lem aibon, formula-e, bolpen, komputer, dll.

Ini satu lagi soal rutinitas kerja anggota dewan. Seperti yang disampaikan Wakil Ketua FPP (Forum Pemantau Parlemen), Sonny Undap, saat memberikan apresiasi buat dua legislator Sulut,

”Kami dari FPP memilih kedua legislator ini berdasrkan sejumlah kriteria atau parameter. Kami melihat dari segi absensi atau kehadiran di kantor, keaktifan di legislatif, kekritisan di setiap pembahasan, terobosan yang dilakukan, hubungan dengan konstituen atau masyarakat. Dan yang paling utama perjuangan dan karyanya itu memberi dampak positif bagi masyarakat luas,” kata Sonny.

Sampai-sampai seorang Jurani Rurubua (PSI Manado) terheran-heran kalau dirinya bakal mendapatkan perhatian dan penghargaan dari FPP atas kinerjanya yang belum sampai setahun di DPRD Kota Manado.

“Saya hanya bisa mengucapakan terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan untuk saya. Semua yang saya lakukan selama ini hanya berdasarkan tupoksi sebagai anggota dewan sesuai sumpah jabatan. Selebihnya saya mengikuti hanya hati nurani dalam bekerja,” tambah Jurani yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PSI Sulut ini.

Selama ini Jurani tak pernah berpikir bakal mendapatkan penghargaan. ”Saya melakukan ini karena memang bekerja tulus untuk masyarakat Sulut,” tandasnya.

Jadi sebetulnya yang dilakukan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ini adalah hal-hal yang standar-standar saja. Lalu kenapa jadi begitu heboh? Bahkan sampai-sampai ada yang mengancam secara halus dan kasar. Kutub lainnya malah memberi apresiasi dukungan publik sampai penghargaan. Lucunya, aksi yang biasa-biasa saja ini bikin banyak pihak terkaing-kaing kayak anjing kejepit.

Jawabannya mudah saja. Ini lantaran praktik-praktik politik yang selama ini dianggap wajar sesungguhnya berada di area abnormal, alias tidak sewajarnya, bukan yang semestinya.

Prilaku abnormal adalah perilaku yang menyimpang dari norma sosial. Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu.

Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya, sering juga disebut dengan peraturan sosial.

Nah lho! Apakah selama ini norma sosial (kewajaran sosial) yang diterima umum adalah hal berlawanan dengan banyaknya tindakan wajar yang dilakukan kader PSI di dewan?

Bukankah kader PSI di dewan tadi hanya melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan oleh anggota dewan yang terhormat? Jadi, apa yang salah di tatanan politik maupun tatanan sosial kita?

Kita kembalikan untuk jadi bahan refleksi (renungan) dan introspeksi diri masing-masing. Dalam bahsa latin introspicere, melihat ke dalam, ke dalam diri kita masing-masing. Mari kita kembali ke normalitas, ke standar sosial yang semestinya.

Saya ingin menutup dengan suatu pesan: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” Maka, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru.***

 

Most Popular

To Top