Uncategorized

Abaikan Budaya dan Kearifan Lokal Nusantara, Rakyat Indonesia Cuma jadi Buruh di Negeri Sendiri

Ayonews, Jakarta

World Bank (WB) pada awal tahun 2019 menerbitkan review yang merujuk ke hasil PISA 2015 yang menyatakan bahwa Indonesia tidak siap menghadapi era revolusi industri 4.0 bahkan 2.0.

Dari hasil uji Indonesia National Assesment Program (INAP) yang kemudian disebut Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) menguatkan kecemasan berbagai pihak lantaran 78% siswa SD kelas 4 memiliki kompetensi matematika, sains dan membaca yang buruk.

Temuan ini terungkap dalam sebuah diskusi bersama Ketua Tim Perumus Pendidikan di Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Bambang Pharma, Ketua Bidang Pendidikan NU Circle, Ketua Presidium Gernas Tastaka Achmad Rizali dan Peneliti Nusantara Centre Yudhie Haryono di Jakarta (22/12/2019).

Hasil PISA 2018 yang dirilis awal Des 2019 semakin menguatkan kecemasan tersebut. Ketrampilan membaca siswa Indonesia di usia 15 tahun kembali ke-18 tahun yang lalu. Ketrampilan matematika mereka pun menurun. Meski ketrampilan sains sedikit naik, tetapi rata-rata total menurun dan tak satupun yang mencapai target RPJMN 2014-2019.

Dengan kompetensi dasar nalar (matematika, sains dan membaca) seperti itu, mereka skeptis bahwa Indonesia akan mampu menjemput bonus demografi dan sangat sulit menggapai PDB peringkat 4 sedunia pada tahun 2050.

Dengan data ini, kemungkinan manusia Indonesia hanya akan menjadi buruh di negeri sendiri. Mengapa? Sebab, pada saat kondisi nalar (logic) buruk, ternyata tak bisa dipungkiri pula bahwa apresiasi bangsa Indonesia terhadap budaya dan kearifan lokal nusantara semakin menurun dan cenderung abai.

Permainan, lagu daerah dan bahasa tradisi menghilang lebih cepat daripada upaya penyelamatan dan serbuan budaya dari luar. Permusuhan budaya tradisi nusantara yang dianggap tak cocok dengan keyakinan agama juga mempercepat punahnya identitas ke-Indonesiaan bangsa.

Selain upaya memperbaiki nalar membaca, matematika dan sains, mereka sepakat bahwa upaya mendorong apresiasi seni budaya dan kriya harus pula diperhatikan, termasuk apresiasi terhadap etika umum.

Sungguh tepat anjuran Howard Gardner (5 Minds for The Future, 2011) agar warga sebuah bangsa wajib memiliki nalar agar menumbuhkembangkan “discpline mind” dan seterusnya akan berlanjut ke “creative and synthetic mind” lalu menjadi “emphatic mind” yang akan menumbuhkan dasar-dasar karakter kemanusiaan (humanisme) sejak dini.

Ketika keempat minds ini sudah mendarah daging di usia muda, maka “ethical mind” akan bertumbuh di jenjang SMA/MA/SMK dan Perguruan Tinggi.

“Pada titik itulah kita harus mendorong Kemdikbud fokus bekerja di jenjang SD/MI. mendorong Presiden Jokowi untuk membuat Inpres SD/MI yang mengintruksikan semua jajaran agar “mengeroyok” jenjang SD/MI dengan acuan 8 (delapan) SNP (Standar Nasional Pendidikan) dan SKL (Standar Kompetensi Lulusan), SI (Standar Isi) dan SP (Standar Proses) serta SE (Standar Evaluasi). SD/MI dikoreksi agar menopang pencapaian tujuan Pembangunan Manusia Indonesia Tahun 2050,” papar Bambang.

Menurut Bambang, standar mutu guru SD/MI pun wajib dikoreksi, sejak “pre service” hingga “in service.”

“Fokuskan “pre service” pada mutu Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan “In Service” pada pelatihan yang tepat guna bisa diterapkan di kelas. Dengan Inpres SD/MI ini semua pemangku kepentingan harus bergotong-royong memperbaiki mutu kompetensi murid SD/MI,” paparnya.

Bertepatan dengan berakhirnya tahun 2019 dan hadirnya tahun baru 2020, ketiganya meminta para pembuat kebijakan untuk duduk bersama menyelsaikan masalah pendidikan nasional secara komprehensif berbasis Pancasila dan konstitusi. “Masa depan Indonesia tergantung pada Pancasila dan konstitusi. Singkatnya, jangan main-main dengan pendidikan kita,” tutupnya.(dm)

 

 

Most Popular

To Top