Opini

NU-Muhammadiyah Korban Perang Dagang Paman Sam & Si Panda

Ahmed Rumalutur, Pemerhati Ekonomi Politik Internasional,Indonesia Global Political Economic Forum

TIDAK utuh bagi saya memahami persoalan tuduhan miring media Barat atas dua ormas moderat Indonesia, NU dan Muhammadiyah, ketika tidak membawa masalah tersebut secara runtun dan saksama.

Penting sebuah kondisi yang mutlak digarisbawahi untuk memahami polemik ini adalah adanya pergeseran (shifting) kekuataan ekonomi dunia dari benua belahan Utara ke Asia Pasifik.

Fareed Zakaria, seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS) jauh-jauh hari telah menuliskan pergeseran ini dalam buku berjudul “The Post American World”.

Istilah yang menarik dikemukan Zakaria adalah “the rise of the others” (kebangkitan yang lain) atau sebuah gejala dimana terjadi fokus perhatian dunia pada negeri Panda akibat lompatan ekonomi yang eksponensial.

Zakaria bahkan memberikan sebuah petunjuk kepada AS, bahwa pergeseran ini perlu diantisipasi jika Barat tak ingin tertinggal.

Perihal lain yang tak kalah penting bahwa perhatian Barat atas China telah dilakukan jauh sebelum Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS. Tepatnya ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.

Ia merumuskan sebuah proyek kebijakan rebalancing strategy yang menandakan peralihan perhatian Amerika dari Timur Tengah ke Asia Pasifik atau dikenal dengan kebijakan pivot to Asia.

Sementara, dalam percaturan politik yang lebih luas, kedua negara juga terlibat dalam perang urat saraf dalam dinamika geopolitik di Selat Malaka. Ya, sebuah selat yang diketahui menjadi nadir bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Intisari dari beberapa masalah di atas adalah hubungan kedua negara memang telah mengalami eskalasi yang meningkat dan rentan konflik sejak dulu, hanya saja ketika partai demokrat berkuasa, kelompok kanan memang tak memiliki ruang dalam pengambilan kebijakan yang strategis. Dan sikap Barack Obama ketika itu terbukti mampu menahan laju sentimen tersebut pada titik yang paling rendah.

Barulah pada era Donald Trump, situasi berbalik 100 persen. Diskursus identitas, anti globalisasi menjadi santapan media massa.

Masalah ini pun berlanjut. Sentiment kedua negara mulai bergeser pada konflik yang sifatnya domestik. Misalnya persoalan Hongkong, serta tuduhan media yang melibatkan  Muhammadiyah dan NU yang konon berdiam diri atas persekusi dan genosida kepada minoritas Muslim Uighur karena menerima imbalan proyek China.

Dari runtutan cerita hubungan kedua negara di atas, hingga perang dagang, pertanyaan yang perlu dilacak adalah mengapa media Barat secara sengaja tanpa menampilkan bukti menuding Muhammadiyah dan NU?

Saya memberikan kemungkinan jawaban, pertama, saya yakin ini adalah imbas dari perang dagang. Seperti diketahui, perang dagang telah menyebabkan perekonomian dunia bergerak melambat.

Selain mengalami pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan terperosok pada angka 5 persen, Indonesia juga harus dihadapkan dengan gejala global yang tak menentu rimbanya.

Bahkan, banyak pakar telah memberi warning bahwa gejala global saat ini mengarah pada resesi ekonomi dunia.

Lalu apa hubungan dengan Muhammadiyah dan NU?

Satu hal yang mungkin bisa dijadikan tolok ukur adalah Barat masih melihat Indonesia sebagai sebuah negara dunia ketiga, terbelakang dan mudah terprovokasi.

Jika pada zaman dulu, Amerika Serikat melalui kampanye Red Scare atau sebuah propaganda anti komunis, mampu mengelabui dunia ketiga akan bahaya komunisme, kini dengan menuding Muhammadiyah-NU. Barat ingin menciptakan sentimen negatif rakyat Indonesia terhadap China.

Jika sentimen itu berhasil terbentuk maka China semakin terperosok. Jika isu ini sukses secara global, kemungkinan blokade dari negara Islam akan produk-produk China semakin masif dilakukan, hingga  akhirnya ekonomi China melempem, pertumbuhan ekonomi melambat dan kemenangan perang dagang berhasil dicapai Paman Sam.***

 

 

 

Most Popular

To Top