Opini

Ingat! Fanatisme dan Kebodohan itu Penyakit Segala Jaman

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

BELAJARLAH dari sejarah dunia. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi selama berabad-abad, menjadi bukti, semakin kuat cengkeraman agama di semua sendi kehidupan masyarakat (kenegaraan) akan menghasilkan berbagai bentuk resistensi.

Dalam tatanan kebhinekaan – pasti ramai dan meriah– ini, tidak bisa dipaksakan sebagai monotonia .

Perlu dipertimbangkan, kebebasan dan realistisitas akan kritis terhadap agama. Praktik keagamaan adalah ranah  privat . Dan untuk komunitas tertentu saja, negara tidak perlu ikut campur.

Negara hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bersama masyarakat sebagai negara yang aman, damai, adil dan sejahtera.

Jas Merah, jangan sekali-kali lupakan sejarah! Tatkala terjadi gerakan intoleransi massa di Eropa abad ke-17 kaum Protestantisme ditindas oleh kaum Katolik, John Locke, seorang filsuf asal Inggris, pun angkat bicara.

Traktatnya yang berjudul ‘ Epistola de Tolerantia’ (tahun 1685) yang lalu diterbitkan jadi ‘Surat Mengenai Tolerasi’ (tahun 1689) lahir dari perdebatannya melawan konflik antaragama di Eropa (Katolik vs Protestantisme di Inggris: Independen, Baptis, Kongregasionalis, Quaker ).

Kemudian muncullah Voltaire dan Rousseau mendukung ide John Locke, lantaran di Perancis pun yang mendukung Katolik juga menindas (memaksakan kehendak) terhadap minoritas Protestan.

Bahkan, konflik antaragama Katolik dan Protestan di Perancis ini sampai masuk ke balairung istana Raja Louis XIV. Campur tangan negara saat itu malah memperbaharui interaksi, gara-gara dicabutnya Edit de Nantes di tahun 1685. Lebih dari 200 ribu penganut Protestan ngungsi ke Belanda dan Prusia.

Rasa muak dan kebencian Voltaire akibat pertentangan dan ketidakadilan kaum Katolik ini memuncak. Ia menulis ‘Traite sur la tolerance 1763’. Di situ ia menggugat dan mengritik sebagian besar pendeta dan pemeluk agama Katolik yang sangat intoleran.

“Tinggalkan intoleransi dan kepicikan pandangan!” Seru Voltaire.

“Fanatisme dan kebodohan adalah penyakit segala jaman! Apa dasar yang bisa diciptakan manusia? ”Teriaknya.

Jeritan Voltaire masih terus terngiang di telinga sampai detik ini.

Ada lagi perang tiga puluh tahun (1618-1648). Pelakunya masih sama antarpemeluk agama Katolik versus Protestan. Bahkan sampai beberapa negara Eropa.

Perang ini baru usai dengan Perjanjian Westphalia Utara (1648) yang diratifikasi oleh raja-raja kedua pihak. Yang Katolik di Munster dan yang Protestan di Osnabrück.

Sisa-sisa perang yang meninggalkan penderitaan fisik, juga luka batin dan sakit keselamatan masyarakat membekas dalam sanubari terdalam dan mempengaruhi paradigma sosial.

Misalnya, ia sangat kritis terhadap Kristianisme.

Revolusi Perancis yang melahirkan ide besar tentang Hak Asasi Manusia berdasar nilai-nilai: Kebebasan (liberte), Kesamaan (egalite) dan Persaudaraan (fraternite) pun lahir di tahun 1789.

Para pemikir sosial abad ke-19 seperti Saint-Simon, Charles Fourier, Joseph Proudhon dan Ferdinand Lassalle merupakan pembela kepentingan mereka yang tertindas.

Mereka pun terus mengritik peran agama yang de facto telah mengabaikan, bahkan ikut melanggengkan penderitaan kaum tertindas.

Pemikiran dan gagasan mereka sangat kritis terhadap teologi yang tidak berakar pada realitas. Obsesi perjuangan mereka adalah pada nilai-nilai kesetaraan dan keadilan.

Untuk itu, kita memang perlu peningkatan dan kebesaran hati. Sama seperti para bapak bangsa ( pendiri bangsa ) saat kita menolak Piagam Jakarta dan menyetujui Pancasila yang harus kita miliki saat ini.

Mari amalkan Pancasila untuk menjadi teladan bagi generasi emas Indonesia. Semua Undang-undang dan peraturan daerah yang terkait dengan agama, hapus saja! ***

Most Popular

To Top