Opini

Mimpin BUMN Pada Berebutan, Tapi Ogah Ngasih Untung, Ke Laut Aja Deh Lu…

Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

Core competence… core business… competitive advantage… berulangkali kalimat ini terlontar dari seorang Erick Tohir dalam beberapa kesempatan. Ya, ada pesan khusus bagi para petinggi BUMN yang sudah dan akan menjadi bawahannya bahwa memimpin perusahaan plat merah itu minimal memenuhi persyaratan tersebut.

Kalau pakai istilah sehari-hari jadinya kira-kira begini; bakat lu apa? Dari situ lu bisa bikin usaha apa? Lu bisa bikin untung BUMN apa kagak? Lu punya keunggulan apa? Lu bisa Nyaingin dengan warung sebelah apa nggak? Kalau nggak sanggup, ke laut aja…

Erick Thohir terus memberikan isyarat tegas bahwa ia ingin mengembalikan BUMN ke core business-nya masing-masing. Tentu saja dengan fokus membangun core competence di core business merupakan pilihan tepat dalam menciptakan competitive advantage yang bisa diandalkan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut secara akademisi?

Core competence

Kompetensi itu sendiri bermakna the ability to do something successfully or efficiently. Kemampuan melakukan sesuatu secara efektif atau efisien.

Sedangkan kompetensi inti adalah kemampuan melakukan sesuatu secara efektif, efisien, kontinyu, teruji dalam lintasan waktu, memiliki keunggulan, daya juang dan mampu bersaing di pasar.

Sekitar seperempat abad lalu, C.K. Prahalad dan Gary Hamel dalam Competing For The Future mengintroduksi konsep kompetensi inti ini. Sejak itu banyak perusahaan mulai mengkaji ulang eksistensi organisasi dan bisnisnya.

“A harmonized combination of multiple resources and skills that distinguish a firm in the marketplace.”

Landasan daya saing organisasi di pasar harus seperti sebuah orkestra. Harmonisasi yang dihasilkan itu mampu menjadikan sumberdaya dan keterampilan dan perbedaan dalam kancah persaingan.

Dalam bisnis ada tiga kriteria yang mesti dipenuhi: pertama, sediakan kemungkinan untuk bisa mengakses berbagai ceruk pasar yang luas. Kedua, kontribusinya harus signifikan (berarti) bagi persepsi pelanggan produk akhir. Ketiga, produknya tidak mudah ditiru pesaing.

Misalnya kompetensi inti sebuah perusahaan adalah membangun jaringan seperti PT Pos Indonesia. Dulu, pengelolaan jaringan kantor beserta sumber daya manusianya bagus. Karena dalam sistem ini bisa ditawarkan berbagai macam produk dan layanan.

PT Pos multifungsi. Bisa antar/jemput paket, dokumen, makanan segar, jasa safety-box, jasa kotak-surat, layanan manajemen kargo darat, laut, udara, bahkan bisa bersinergi dengan berbagai instansi (pemerintah maupun swasta) demi melayani masyarakat luas.

Bayangkan, armada PT Pos Indonesia dulu yang sangat masif masuk ke gang-gang perkotaan, bahkan sampai ke pelosok desa-desa terpencil. Platform online-nya mampu mendayagunakan publik mengoptimalkan aset pribadi (misalnya sepeda motor, mobil, HP, dll) jadi komersial.

Sebetulnya PT Pos bisa lebih kreatif, namun sayang tidak dikerjakan. Mungkin salah satu BUMN ini terlena dalam zona nyamana atau sibuk dalam office politics yang melelahkan dan menjengkelkan. Intinya PT Pos saat ini seperti hidup segan, mati pun tak mau.

Di sini pentingnya kompetensi inti. Karena dari hasil keterampilan atau cara produksi tertentu, bisa menghasilkan nilai tambah kepada pelanggannya. Kompetensi ini memberikan kemampuan kepada sebuah organisasi dalam menciptakan berbagai layanan untuk semua ceruk pasar.

“A core competency results from a specific set of skills or production techniques that deliver additional value to the customer. These enable an organization to access a wide variety of markets.”

Mengidentifikasi serta membangun kompetensi inti merupakan hasil suatu rancangan strategis (strategic architecture) yang mesti diprakarsai dan ditempuh oleh segenap manajemen puncak. Agar segenap kapasitas organisasi yang ada bisa dikerahkan secara optimal.

Seluruh aset dikerahkan, baik yang tangible maupun yang intangible. Tangible artinya keuntungan atau dampak yang terjadi dapat diukur secara ekonomis (uang), sedangkan intangible: keuntungan atau dampaknya tidak dapat diukur secara ekonomis (uang).

Tantangannya memang tidak enteng. Dibutuhkan pemimpin yang visioner. Sayangnya, kebanyakan eksekutif tidak menginvestasikan waktu yang cukup untuk membangun gambaran masa depan sebuah perusahaan. Syaratnya jelas, butuh daya intelektual tingkat tinggi, sangat menyita energi, sehingga butuh komitmen total.

Core business

Membangun dan mengelola usaha itu harus selaras dengan bakat dan kemampuan. Bisnis inti adalah konstruksi ideal sebuah organisasi yang tercermin dalam kegiatan utamanya. Gampangnya, penghasilan utama (revenue) perusahaan diperoleh dari usaha intinya.

Proses bisnis inti bukan semata-mata setiap departemen bekerja sesuai fungsinya, namun juga seberapa hebatnya perusahaan mampu mengorkestrasi kegiatan departemental tadi menjadi suatu harmoni proses bisnis menyeluruh yang memperkuat konsep bisnis inti perusahaan.

Kegiatan-kegiatan utama itu adalah:

  1. The market-sensing process. Kemampuan mendeteksi semua sinyal perubahan yang ada di pasar dan mengantisipasinya.
  2. The new-offering realization process. Mencakup kegiatan riset, pengembangan produk/layanan sesuai anggaran perusahaan.
  3. The customer acquisition process. Kerja lapangan menetapkan sasaran pasar dan menggaet pelanggan.
  4. The customer relationship management process. Semua aktivitas untuk sungguh-sungguh mengerti setiap kebutuhan pelanggan.
  5. The fulfillment management process. Eksekusi proses bisnis (order to cash) mulai dari terima pesanan sampai pembayarannya beres.

Competitive advantage

Keunggulan daya saing merupakan hasil dari kerja optimal membangun kompetensi inti di proses bisnis inti secara efektif dan efisien.

Setiap entitas bisnis selalu berada dalam konstelasi persaingan tertentu. Dalam kerangka analisa Prof Michael Porter ada lima kekuatan yang mesti dicermati dan senantiasa diantisipasi oleh setiap pelaku bisnis, yakni:

  1. Rivalitas. Persaingan yang sedang terjadi dalam industri, yaitu kita dan pesaing.
  2. Kekuatan para pemasok (suppliers) dalam skema rivalitas.
  3. Kekuatan para pembeli (buyers) terhadap tawaran yang diberikan oleh rival.
  4. Ancaman dari para pemain baru (news entrants, new start-up companies).
  5. Dari kekuatan tawaran (produk/jasa) pengganti (substitusi), yang disebabkan perkembangan teknologi jadi sangat dimungkinkan dan waktunya bisa tak terduga.

Kepekaan radar bisnis dalam analisa lingkungan bisnis jadi kembali imperatif. Kajian aspek-aspek Pestel (politics, economy, social, technology, environment, legal) untuk kemudian dilakukan dengan analisa Tips (trends, implications, possibilites, solutions).

Peran pemimpin itu sangat menentukan. “Greatness start with superb people, great groups don’t exist without great leaders!.” “Nggak bakalan organisasi menjadi besar dan hebat tanpa orang-orang besar dan hebat.”

Tugas Menteri BUMN Erick Thohir sekarang adalah menempatkan orang-orang yang tepat untuk membawa BUMN jadi bagian yang kontributif dari the true Indonesia Incorporated.

Dalam bukunya Good to great) The level 5 leader, Prof Jim Collins mengkategorikan ada lima pemimpin yang ideal.

  1. Highly capable individual. Orang yang pandai dan punya keterampilan yang tinggi.
  2. Contributing team member. Mampu bekerja sama dalam tim.
  3. Competent manager. Mereka yang sudah mentransformasikan dirinya menjadi organisator yang mampu mengelola sumberdaya.
  4. Effective leader. Mereka yang memiliki kharisma dan mampu memotivasi timnya untuk bekerjasama mencapai visi perusahaan.
  5. Executive. Lantaran belum ada istilah yang pas, sangat jarang orang ini bisa mentransformasikan organisasi dari baik (good) menjadi agung (great).

Prof Jim Collins menambahkan, pemimpin di level 5 ini memiliki ciri sederhana, gigih, ulet dan tekun. Mereka sebetulnya sangat ambisius, namun ambisinya itu demi misi mulia, demi tujuan kelompok/organisasinya, bukan demi ego pribadi.

Tampilan pemimpin tingkat kelima ini, menurut penelitian Prof Jim, kerap cenderung apa adanya, murah hati namun sangat tegas dan berprinsip. Tidak suka menyombongkan diri dan pamer-pamer. Mereka adalah inspirator yang menularkan energi dan teladan lewat disiplin keseharian.***

 

Most Popular

To Top