Nasional

Benahi Garuda, Erick Tohir Perlu Belajar Tips & Triknya dari Mantan Bos Bank Mandiri ini

Ayonews, Jakarta

BUKAN pertama kali PT Garuda Indonesia Airways mengalami krisis. Bahkan saat pemerintah Orde Baru berkuasa, perusahaan penerbangan kebanggan rakyat Indonesia ini nyaris tamat riwayatnya.

Ya, karena salah urus. Bukan hanya para petingginya korup, tikus-tikus mafia yang menggerogoti aset perusahaan, para kreditur dari berbagai bank internasional pun ngotot ingin Garuda dibangkrutkan karena utang selangit.

Sampai-sampai Presiden Soeharto saat itu pusing dengan kondisi Garuda. Ia tak mau Garuda sebagai BUMN berhenti beroperasi. Soeharto merasa bahwa Garuda sebagai simbol kebanggan dan kebesaran republik ini jangan sampai hancur.

“Selama tujuh tahun Garuda mengalami kondisi yang sangat parah. Apalagi saat itu krisis moneter mulai melanda. Nilai tukar rupiah anjlok sampai ke Rp 15.000 per 1 US dollar. Belum lagi banyaknya mafia dalam korporasi saat itu yang membuat Soeharto sendiri tak berdaya,” ungkap Sekjen Kawal Indonesia, Andre Vincent Wenas dalam press releasenya, Minggu (8/12/2019).

Entah harus menutupi pakai apa wajah Soeharto bila Garuda terjerembab. Dia pun buru-buru menugaskan Menteri BUMN Tanri Abeng untuk menyelamatkan Garuda.

“Ini tentang Garuda yang akan dibangkrutkan oleh kreditur. Tugas saudara menyelamatkan agar Garuda tidak di-grounded karena membawa bendera republik,” kata Andre menirukan permintaan Soeharto kepada Tanri Abeng.

Setelah mempelajari masalahnya, Tanri Abeng mengalami dilemma. Tak ada upaya lain untuk menyelamatkan Garuda, kecuali mengganti semua jajaran direksi, termasuk direktur utamanya. Padahal direksi Garuda adalah mantan ajudan Pak Harto.

“Jaman itu siapa yang berani menggeser orang dekat Cendana, kalau bukan Pak Harto sendiri. Tapi Tanri Abeng nekat bicara dengan Pak Harto bahwa ia harus merombak jajaran petinggi Garuda,” paparnya.

Di luar dugaan, Soeharto setuju untuk mengganti seluruh jajaran direksi Garuda. Akhirnya Tanri Abeng menunjuk Robby Djohan menjadi Dirut Garuda Indonesia. Tanri Abeng tak asal tunjuk. Ia tahu betul Robby Djohan adalah seorang bankir bertangan dingin.

Robby Djohan tak bisa mengelak. Meski ia sendiri mengakui tak tahu apa-apa tentang bisnis penerbangan, tapi ia tak bisa menolak, apalagi ia tahu ini perintah langsung presiden.

Satu-satunya pengalaman yang ia punya hanyalah menjadi penumpang pesawat. Wajar saja saat-saat awal rada galau begitu melihat utang Garuda saat itu telah mencapai 1,2 miliar US dollar, lebih besar dari seluruh asetnya.

Bagi Robby Johan yang telah almarhum pada 13 Mei 2016 silam saat berusia 78 tahun, meneruskan jalannya perusahaan sambil membalikkan kinerjanya menjadi positif merupakan suatu tantangan. Perlu spirit tangguh dan etos kerja luar biasa demi mencari jalan keluar mengembalikan kejayaan korporasi kebanggan bangsa ini.

Dari assesment-nya waktu itu, Garuda hanya butuh sekitar 6000 orang karyawan. Sementara hampir 13.000 karyawan bercokol di BUMN penerbangan itu. Ini satu tugas berat yang dihadapinya.

Organisasi perusahaan terlalu gemuk, sementara produktivitas karyawan rendah. Banyak rute kering, sepi penumpang. Citra pelayanan buruk, kerap delay tanpa pemberitahuan. “Sampai-sampai penerbangan Garuda diplesetkan jadi Garuda always reliable until delay announced,” ungkap politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Tugas berat lainnya, Robby Johan harus menyiapkan mental berani dan kelihaiannya bernegosiasi menghadapi para kreditur. Dengan pengalamannya di perbankan, justru Robby Djohan sudah biasa memperlakukan debitur-debiturnya saat mengalami kesulitan membayar.

Dalam buku berjudul “The Art of Turn Around” – kiat restrukturisasi’ yang terbit pada tahun 2003 yang ditulisnya, Robby Djohan berkisah, begitu ia baru menduduki kursi dirut, masalah yang ia hadapi adalah kemarahan para bankir.

Dengan memasang muka sangar bak debt collector sedang menagih utang, mereka datang sambil menggebrak-gebrak meja, mengintimidasi dengan suara keras dan mengancam akan menyita pesawat A330 yang disewa.

Dengan tenang Robby menjawab dirinya hadir bukan untuk memecahkan masalahnya, tapi justru masalah mereka itu para bankir. “Robby Djohan tahu bahwa alasan utama mengapa Garuda kolaps karena bank-bank internasional itu memberikan pinjaman saat neraca keuangan deficit,” tambahnya.

Dari pengalamannya selama 30 tahun di perbankan, ia tidak dapat memahami pola seperti itu. Karena itu, Djohan pun menggertak balik para penagih utang tersebut.

“Dan jika Anda ingin mengambil kembali pesawat Anda, silakan lakukan. Karena bagi kami pesawat itu sudah tidak lagi produktif,” tantang Robby Djohan.

Upayanya berhasil. Malah Garuda boleh membayar pinjaman dalam tempo 16 tahun dengan bunga satu persen di atas Sibor (Singapore interbank offered rate).

Beres dengan para kreditur, Robby Djohan dihadapi masalah lain. Yaitu manajemen keuangan yang nggak beres. Ada tiga laporan keuangan dasar perusahaan yang ia periksa.

Pertama, laporan keuangan arus-kas (cash-flow). Jangan sampai aliran dana keluar lebih besar dari aliran dana masuk (negative cash-flow). Kedua, laporan neraca (balance-sheet) yang merupakan potret kekayaan atau aset perusahaan. Ia periksa apakah nilai utang lebih besar dibanding dengan asset (negative networth). Ketiga, laporan rugi laba (profit and loss/income statement). Seperti kita tahu, laporan ini menggambarkan operasional perusahaan: bagaimana posisi laba kotor (gross profit) yang merupakan hasil dari pendapatan (revenue) dikurangi harga perolehan (cost of good sold).

Dari laporan rugi-laba ini, ia bisa melihat laba operasi (operating profit), yakni keuntungan yang diperoleh setelah dipotong ongkos operasional (seperti gaji, ongkos promosi dan penjualan, sampai biaya administrasi). Kemudian melihat apakah laba bisa ditahan (retained earnings), apakah masih ada yang tersisa?

“Ini perlu untuk pertumbuhan perusahaan di masa depan, jangan sampai posisinya negative,” ujar Andre seperti dikutip pernyataan Robby Djohan saat itu.

Dari analisa ketiga laporan keuangan tersebut dan blusukan ke beberapa situs perusahaan, pelanggan, mitra bisnis, bisa mulai melakukan restrukturisasi dan strategi turn-around perusaahan.

“Tak sampai setahun Robby Djohan intens bekerja, Garuda selamat dari kebangkrutan,” ujarnya.

Ternyata tak hanya Garuda yang berhasil diselamatannya. Robby Djohan memang pakar. Ia juga sukses membesarkan Bank Niaga, serta memimpin penggabungan beberapa bank plat merah bermasalah menjadi Bank Mandiri.

Bagaimana ia mampu membenahi semua, Robby Djohan pun berbagi tips. Pertama, perbaiki cash-flow, dengan cara mengambil segala tindakan yang perlu demi menghentikan kerugian. Untuk itu mungkin perlu merestrukturisasi utang atau suntikan modal baru.

Kedua, identifikasi isu-isu pokok, misalnya: citra yang jelek, posisi keuangan yang insolvent, staf dan personalia yang demotivasi, segmen-segmen operasional yang tidak profitable, proses kerja yang tidak efisien dan efektif, faktor kompetisi dan faktor eksternal lainnya.

Ketiga, tuntaskan tiga masalah operasional. Rinciannya : 1. Personalia. Lakukanlah pembaruan pada posisi-posisi kunci. Rasionalisasi sekaligus motivasi karyawan. Ubah kultur kerjanya.

  1. Operasional. Periksa semua aset perusahaan. Adakah aset nganggur? Atau perlu perbaikan segera? Adakah aset yang bisa dijual untuk memperbaiki posisi cash-flow? Periksa juga dengan rinci, tutup yang merugikan. Susun rencana usaha yang menjawab kebutuhan pelanggan.
  2. Pemasaran. Lakukan perbaikan citra produk maupun perusahaan. Prioritas pada segmen yang menguntungkan. Lalu siapkan faktor pendukung proses kerja, IT atau outsourcing.

Dalam memimpin dan mengelola restrukturisasi itu, Robby Djohan memiliki langkah strategis, yakni:

 

  1. Misi dan budaya organisasi yang pragmatis.
  2. Kedua, pemimpin yang visioner.
  3. Pragmatis artinya mendahulukan kepentingan perusahaan.
  4. Mengerjakan hari itu juga.
  5. Berani mengambil keputusan meskipun salah, daripada tidak memutuskan sama sekali. Keputusan salah masih dapat diperbaiki. Khususnya dalam keadaan krisis, ambil keputusan adalah keharusan. Ini memang sulit karena asumsinya sering tidak pasti dan akibatnya bisa cukup fatal. Tapi ingat, tanpa keputusan tidak akan terjadi apa-apa.
  6. Hidup dalam perubahan.
  7. Team work.
  8. Komunikasi, ciptakan suasana kondusif agar jalur komunikasi dan inovasi terbuka dari segala arah.

“Bagaimana dengan yang sekarang? Penyelamatan Garuda Indonesia, déjà vu. Total Corporate Restructuring! Erick Thohir, Audentes fortuna iuvat! (fortune favors the bold!),” tutup Andre.***

 

 

Most Popular

To Top