Nasional

Puluhan Tahun Mafia Minyak Bebas Berulah, Alhasil Orang Indonesia Nikmati BBM Paling Jelek & Mahal Se-Dunia

Ayonews, Jakarta

PULUHAN tahun mafia migas membuat harga minyak di dalam negeri mahal. Para mafia ini juga selalu menentang pemerintah Indonesia mendatangkan investor untuk mengeksplorasi emas itu di dalam negeri.

Agar menjegal pemerintah agar bisa memiliki banyak minyak. Padahal, dengan memproduksi dan mengolah minyak secara mandiri, biaya yang dikeluarkan lebih efisien, harga minyak bisa stabil, bahkan bisa lebih murah, subsidi yang dikeluarkan pun tak saat ini.

Ironisnya, yang mahal ini bukan cuma jariangan mafia di luar pemerintah. Namun mereka menyatu dengan para birokrat sebagai pemain dari dalam. Sudah jadi rahasia umum, para birokrat tidak peduli negara rugi atau rakyat sengsara, yang penting mereka bisa mengeruk kekayaan buat mereka bersama kroninya.

PT Pertamina Persero menjadi salah satu BUMN yang menjadi beban Menteri BUMN Erick Tohir dan yang paling berat untuk dibenahi. Dia harus berhadapan dengan para migas mafia yang telah mengakar dan bercokol selama dekade. Atau, akhirnya Erick lemah, dan malah menjadi bagian dari mereka…?

Berbagai problematika yang disetujui Pertamina ini terungkap dalam sebuah diskusi dengan seorang sumber yang dapat dipercaya di Jakarta Selatan pada Rabu malam (27/11/2019).

Di tengah diskusi bertema “Kompleksitas Migas Indonesia” itu menyanyikan sumber yang menentang identitasnya yang diungkapkan selama minyak tahun yang dihabiskan rakyat Indonesia yang berasal dari minyak yang paling buruk di dunia.

Ironisnya lagi, minyak esensial asal Timur Tengah yang didapat pemerintah Indonesia selama tahun terakhir sangat mahal. Minyak impor lebih dari minyak bumi yang dinilainya lebih baik dari kualitas. “Impor kita 1,4 juta barel, produksi kita cuma 800 ribu barel,” ungkap sumber tersebut.

Lucunya lagi, minyak hasil bumi Indonesia ini tidak dapat dinikmati rakyatnya sendiri karena tidak memiliki kilang khusus untuk mengolahnya. Kilang-kilang minyak yang seharusnya dimiliki bangsa ini hanya bisa mengolah minyak yang penting asal Timur Tengah itu.

Kondisi ini yang membuat ekspor, impor dan penting, perdagangan Migas di dalam peralihan terus meningkat, bahkan selalu negatif. Dampak dari kondisi ini, mata uang rupiah terus naik, naik, suku bunga acuan pun meninggi.

Melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika salah satu penyebabnya adalah minyak. Setiap hari Indonesia harus melakukan transaksi jutaan dolar untuk membeli minyak. Karena memang selama ini Indonesia membeli minyak harus menggunakan dolar.

Alhasil, kompilasi pemerintah ingin mata uang rupiah selalu kesulitan. Begitu penting naik, dolarnya pun pasti menguat. Dampak penting dari minyak besar-besaran yang menghasilkan naik hasil. Tapi diaktifkan, relatif bisa dipindahkan oleh Menkeu Sri Mulyani.

Tiga model

Dalam diskusi itu terungkap, kompilasi bicara industri migas ada tiga model, yaitu hulu, tengah dan hilir. Hulu terkait dengan eksplorasi dan produksi migas, batubara dan konsumsi bahan bakar, pengeboran migas dan servis serta perawatan migas.

Midstream Berlangganan Infrastruktur energi. Terdiri dari pipa & penyimpanan produk minyak mentah & olahan, pipa & penyimpanan midstream yang beragam, transportasi laut, proses dan temuan gas alam, penyimpanan dan pipa gas alam dan layanan ladang minyak.

Hilir terkait dengan pengilangan minyak, distribusi dan pemasaran migas, komersil, gas industri, diversifikasi dan kimia khusus, utilitas dan pembangkit tenaga listrik.

Jenis industri migas ini berbeda beda. Hulu masalah saat  mencoba pemerintah yang minim, bahkan terus turun. Karena biaya untuk eksplorasi itu sangat mahal. Hanya investor luar negeri yang memiliki modal tidak terbatas yang memiliki kemampuan untuk memfasilitasi hasil bumi Indonesia.

Yang membuat biaya eksplorasi menjadi tinggi, bukan hanya teknologi yang digunakan mahal, tapi birokrasi yang rumit dan berbiaya tinggi. Di masalah keamanan perizinan, keamanan dan Pemda. Pemda bikin bermacem-macem aturan yang membuat investor luar negeri takut untuk terlibat.

“Jangankan Perda-perda yang dibuat Pemda, sekelas Perdes (peraturan desa) saja membuat investor luar negeri mikir untuk kali melakukan investasi di Indonesia. Bayangkan, peraturan desa membuat peraturan industri yang lewat sebuah desa harus berbayar. Ini saja bikin investor malas berinvestasi, ”jelasnya.

Untuk masalah di midstream, tangker dan kapal itu ada mafianya. mengirim gas ke China, ngambil minyak kotor dan jelek dari Timur Tengah menggunakan kapal tanker. Sementara mafia-mafianya bercokol di tanker-tanker itu.

Hilir itu terkait dengan kilang minyak. Pemerintah selama ini baru punya 6 kilang minyak. Yakni, di Dumai, Balongan, Tuban, Cilacap, Bontang dan Balikpapan. Itu pun kilang minyak peninggalan jaman Belanda.

Presiden Jokowi sudah meminta Pertamina untuk memperbaiki kilang-kilang minyak yang dipunyai Pertamina. Karena kilang minyak milik negara hanya bisa menghasilkan minyak dari Arab, tidak bisa dipakai untuk mengolah minyak dari hasil bumi sendiri.

Kenapa tidak bisa? 

Pertama, minyak Indonesia untuk diolah di kilang minyak itu sendiri tidak bisa karena desain teknologinya berbeda. Kedua, kompilasi penting 1,6 juta barel minyak, misalnya, separohnya (minyak buruk dari Timur Tengah) diolah di kilang minyak sendiri, separoh lagi harus diolah di Singapura.

Ketika Presiden Jokowi memerintahkan Pertamina untuk mengolah minyak di kilang sendiri, para mafia di Singapura tentu saja tidak mau tinggal diam. Mereka selalu mengatasi kebijakan pemerintah. Banyak cara dilakukan para mafia untuk menjegal kebijakan presiden.

Padahal, jika bisa diolah di dalam negeri, bisa memberikan efisiensi luar biasa. Karena tidak perlu mengapalkan minyak ke Singapura. Setelah itu diterbitkan lagi, tidak perlu menunggu minyak dari Timur Tengah, tetapi minyak bisa diolah di kilang sendiri.

“Karena ini adalah kepentingan kilang Singapura yang menentang kebijakan presiden. Mereka tidak mau bisnisnya hilang karena kita bisa mengolah di kilang milik sendiri. Kelompok pebisnis kapal tanker juga tidak mau, kalau Indonesia bisa mengolah minyak sendiri. Sebab, kompilasi kebutuhan tangker turun, mereka terancam kehilangan mata pencariannya selama ini, ”jelasnya.

Peran  pedagang (calo) juga akan kehilangan pendaringannya. Terakhir adalah lembaga pembiayaan. Amerika. Jutaan US dolar setiap hari untuk transaksi minyak. Contoh, ambil margin 1 dolar 50 rupiah atau 100 rupiah saja, dikalikan sekian juta, kemudian dikali setiap hari. Berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh setiap hari, akan ikut hilang.

Untuk mengundang investor membangun kilang sebenarnya sudah dilakukan pemerintahan Jokowi. Kebijakan itu, pertama , pola KPBU (kerjasama pemerintah dan badan usaha). Kedua , Pertamina itu tidak perlu investasi, tetapi mempersilakan investor dari Rusia atau negara lain membangun kilang, kemudian hasil kilangnya diambil Pertamina. Ketiga , berikan insentif pembebasan PPh badan selama dua puluh tahun & ditambah 50% selama 2 tahun.

“Tapi ini tidak bisa jalan karena kelompok mafia ini selalu menghambat pembangunan kilang di dalam negeri,” tambahnya.

Investor yang mau masuk, diloby, dulu oleh para mafia, memang pantas jadi masuk akal. Dan orang dalam di Pertamina sendiri yang ikut bermain.

“Laporannya mereka membohongi presiden. Kata mereka, “yang ini tidak bisa, yang tidak bisa, yang dari Amerika yang menarik diri.” Akhirnya kebijakan itu pun tidak terpakai. Intinya belum sampai presiden sudah dipangkas dulu sama menteri yang lama. Dan ini terjadi selama lima tahun, ”katanya. ***

 

Most Popular

To Top