Uncategorized

Rasakan Sensasi jadi Manusia Sempurna dengan Tellu Sulapa Eppa, Ethno Spa Asal Bugis-Makassar

MASYARAKAT suku Bugis dan Makassar memiliki filosofi dalam hidup bahwa mereka memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang dimaksud itu meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara dan selatan.

Sebenarnya konsep segi empat ini berpangkal pada kebudayaan Bugis-Makassar yang memandang alam raya sebagai sulapaq eppaq wala suji (segi empat belah ketupat).

Almarhum Prof DR Mattulada, seorang budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin, Makassar mengatakan, konsep tersebut ditempatkan secara horisontal dengan dunia tengah. Dari sinilah folosofi masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.

Secara makro, orang Bugis dan Makassar sepakat bahwa alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara, yaitu ‘sa’yang berarti seua, artinya tunggal atau esa. Secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapaq eppaq.

Fungsi dan makna simbolik, bagi masyarakat Bugis-Makassar salah satunya wala suji. Tradisi ini dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah keberanian, kebangsawanan, kekayaan, dan ketampanan atau kecantikan.

Dalam acara perkawinan suku Bugis-Makassar, Anda akan melihat sebuah baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama wala suji di depan pintu rumah mempelai. Bentuk wala suji seperti gapura. Bagian depannya menyerupai rumah panggung ala suku Bugis-Makassar.

Atapnya berbentuk segitiga yang ditopang oleh rangkaian anyaman bambu. Sebagai penghias, tak lupa diberi janur kuning. Wala suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual pernikahan yang berbentuk belah ketupat.

Sementara sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta yang terdiri dari api, air, angin dan tanah.

Dalam ritual, wala suji selalu menggunakan pohon bambu. Mereka percaya bahwa pohon bambu memiliki makna filosofi tersendiri. Bagi mereka, pohon bambu sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Ya, satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan filosofi, yakni pada saat proses pertumbuhannya. Ketika awal pertumbuhan atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya, pohon bambu terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya.

Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur dan tidak patah sekalipun diterjang angin kencang. Dari filosofi ini, pohon bambu menginspirasi masyarakat Bugis dan Makassar bahwa manusia harus tumbuh seperti pohon bambu.

Agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan, manusia harus bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu, bahwa akar yang kuat dalam kehidupan itu tergantung pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan tentang keimanan pada Tuhan yang terdapat dalam hati. Ini yang menjadi akar dalam pedoman berkehidupan di dunia.

Dengan memanfaatkan etika lingkungan dan kearifan lokal konsep yang ditempatkan secara horisontal dengan dunia tengah itu juga ada pada budaya kesehatan, kecantikan, ketampanan dan kebugaran masyarakat Bugis-Makassar.

Budaya itu ada pada tellu sulapa eppa, sebuah perawatan tubuh tradisional bagi wanita. Terutama para calon pengantin wanita ketika hendak melangsungkan acara pernikahan. Tellu sulapa eppa inilah sebagai bagian dari rangkaian acara perkawinan suku Bugis-Makassar, selain tradisi membuat baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama wala suji.

Dalam perkembangannya, ethno spa ala Bugis-Makassar ini juga dipakai sebagai perawatan wanita, baik yang sudah atau belum menikah sebagai bagian dari perawata kecantikan dan kebugaran. Bahkan, kaum pria Bugis-Makassar juga memanfaatkan ethno spa ini untuk menjaga kesehatan, juga ketampanan.

Perawatan ini memiliki manfaat untuk memperbaiki peredaran darah bagi wanita yang habis melahirkan, membuat kulit lebih cerah, serta dapat membuat rambut menjadi lebih hitam.

Bahan yang digunakan untuk melakukan perawatan ini disebut dengan lulur bedda lotong, yakni campuran dari beras hitam yang ditumbuk serta dicampur rempah-rempah wangi, seperti, akar ginseng, asam jawa, kayu manis, jeruk nipis dan daun pandan.

Mereka yang menggunakan tradisi tellu sulapa eppa ini dipercaya kehidupannya akan harmoni dengan empat elemen alam yang disebut di atas. Yakni, api, air, angin dan tanah. Keempat elemen tersebut bermanfaat maksimal jika dijaga keharmonisannya.

Makna filosofi yang bisa diambil dari ethno spa ini, bahwa kehidupan manusia ini selalu tersusun atas keempat unsur tersebut. Ada juga filosofi empat kualitas alam sekitar manusia, yaitu panas, dingin, kering dan lembap. Orang Bugis menyebut keempat kualitas ini dengan istilah “hawa”.

Lalu, ada empat substansi cairan yang menyusun tubuh manusia, yaitu darah, lender, empedu kuning dan empedu hitam. Darah berhawa panas dan lembap, bolok berhawa panas dan kering, empedu kuning berhawa dingin dan kering, dan empedu hitam berhawa dingin dan lembap.

Untuk mengatasi hawa dingin, biasanya orang Bugis dan Makassar melakukan pengobatan dengan mengonsumsi makanan dan minuman hangat serta cara-cara lain untuk menghangatkan tubuh disertai tellu sulapa eppa.

Dalam perawatan kulit menggunakan bedda lotong (lulur hitam/bedak hitam), masyarakat Bugis-Makassar membuat sendiri ramuan beras hitam atau ketan yang disangrai lalu ditumbuk. Setelah halus, rempah-rempah berupa akar ginseng, asam Jawa, jeruk nipis, daun pandan dan kayu manis, dicampur dengan tumbukan beras tersebut.

Adonan lulur ini kemudian didiamkan selama 1 malam untuk membuat tekstur beras hitam menjadi lebih halus. Lulur ini dibalurkan ke seluruh tubuh 30 menit sebelum mandi. Setelahnya, tubuh dibilas dengan air hangat.

Kini, tellu sulapa eppa dapat dinikmati dengan cara yang lebih modern. Tentu saja ada penambahan menu lainnya. Misalnya, sebelum dilulur, tubuh dikompres dengan air hangat yang sudah dicampur dengan aroma terapi dan minyak atsiri.

Kemudian bedda lotong dioleskan ke tubuh kemudian ditunggu hingga kering dan dibilas hingga bersih. Hasilnya dijamin oke. Kulit bakal tampak halus, elastisitasnya terjaga dan mampu mencerahkan. Umumnya dalam masyarakat Bugis dan Makassar, perawatan ini dilakukan sebelum memasuki jenjang pernikahan

Salah satu dari 9 spa tradisional Indonesia yang sudah ber-SKKNI (sertifikasi kompetensi dan kerja nasional Indonesia ini) menjadi salah satu kebanggan ethno spa Indonesia. Anda dapat datang langsung Sulawesi Selatan sebagai tempat asalnya.

Anda juga nggak perlu jauh-jauh untuk menikmati tellu sulapa eppa sebagai pilihan untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Di kota besar seperti Jakarta pun sudah banyak tempat spa yang menyediakan menu tellu sulapa eppa. Salah satunya di Gaya Spa, di Jl Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan.***

 

Most Popular

To Top