Nasional

Butuh Teman Curhat Mingguan & Bulanan, Jokowi Angkat 7 Staf Khusus dari Kalangan Milenial

Ayonews, Jakarta

Setelah 5 tahun lalu konsentrasi di bidang pembangunan infrastruktur, 5 tahun ke depan Presiden Joko Widodo menegaskan bakal mengutamakan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Janji itu kini ia buktikan dengan memberi amanah anak-anak milenial menjadi staf khususnya.

Sambil duduk santai di bean bag aneka warna di beranda Istana Merdeka, Kamis (21/11/2019), Jokowi memperkenalkan anak-anak muda yang dinilainya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan SDM masyarakat melalui berbagai aktivitas sosial mereka.

Para kaum milenial pilihan yang menjadi staf khusus Jokowi ini rata-rata berpendidikan tinggi dan lulusan luar negeri. Alasan Jokowi memilih anak muda menjadi staf khususnya agar mereka sebagai kalangan milenial turut berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.

“Mereka akan jadi teman diskusi alias curhat saya, harian, mingguan, bulanan. Sehingga bisa mencari cara out of the box untuk melompat, mengejar,” kata Jokowi.

“Saya minta mereka jadi jembatan dengan anak muda, santri, diaspora (potensi anak bangsa di seluruh dunia),” sambungnya.

Siapa saja mereka? Berikut profil tujuh staf khusus Jokowi yang berasal dari kalangan milenial:

1.Adamas Belva Syah Devara (29). Dia adalah Founder dan CEO Ruang Guru. Pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1990 ini pernah menempuh pendidikan di SMP Al Azhar 4 Jakarta dan melanjutkannya ke SMA Presiden. Di SMA ini ia mendapatkan beasiswa penuh sepanjang studi.

Kemudian, pendiri Ruang Guru ini melanjutkan pendidikan tinggi ke Nanyang Technological University di Singapura. Di negeri industri perdagangan itu Belva mau menempuh gelar ganda (double degree) di jurusan bisnis dan ilmu komputer. Dia juga mendapatkan beasiswa penuh untuk studi di Nanyang.

Belva sempat magang di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) pada 2011, kurang dari setahun. Selanjutnya bekerja sebagai konsultan di McKinsey & Company pada 2011-2013.

Belva kemudian melanjutkan pendidikannya di Stanford University, California, AS, pada 2013-2015. Di sana Belva menyabet gelar MBA (Master of Business Administration), gelar MPA (Master of Public Administration) disabet dari Harvard University pada 2014-2016. Dia juga terdaftar (cross-registered) di Department of Urban Studies and Planning, Massachusetts Institute of Technology, pada 2015.
Pada Juli 2014, dia dan Muhammad Iman Usman mendirikan perusahaan rintisan bernama Ruang Guru.

Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi aplikasi belajar terkemuka di Indonesia. Tercatat 3.500 orang yang bekerja untuk Ruang Guru. Inovasi teknologi pendidikan ini membuat nama Belva semakin dikenal.

Sederet penghargaan pun diperoleh Belva dari berbagai aktivitas sosialnya. Di antaranya; Promising Southeast Asian Entrepreneurs Under 30 Tahun 2016 dari Tech In Asia, Forbes 30 Under 30 pada 2017. Pada 2018, dia mendapatkan penghargaan ASEAN 40 Under 40 dan dinyatakan sebagai satu dari 40 orang berpengaruh di bawah usia 40 tahun di ASEAN. Dia juga menyabet penghargaan 40 Under 40, The Vanguards tahun 2018 dari Prestige Magazine, karena dianggap sebagai perintis teknologi di Indonesia.

2. Putri Tanjung (23) – Founder dan CEO Creativepreneur. Gadis yang lahir pada 22 September 1996. Putri sulung pengusaha nasional Chairul Tanjung ini merupakan CEO Creativepreneur Event Creator, perusahaan penyelenggara acara (event organizer) yang didirikannya pada Desember 2011.

Awalnya, perusahaan itu bernama El Paradiso. Creativepreneur Event Creator yang dirintis Putri memiliki tujuan menyelenggarakan acara yang menghibur sekaligus menginspirasi anak muda.

Sebelum mendirikan CEO Creativepreneur Event Creator, Putri juga pernah magang sebagai Marketing Assistant di MTV Asia selama dua bulan, yakni pada November dan Desember 2012.

Info dari LinkedIn-nya, Putri dulu bersekolah di Anglo-Chinese Jakarta (2006-2011). Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Australian International School Singapore (2012-2014).

Gelar sarjana dia raih dari Academy of Art University, jurusan Multimedia Communication, San Fransisco, AS (2015-2019). Semasa kuliah, Putri menjadi Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat Academy of Art University San Fransisco (Permias AAU).

3. Andi Taufan Garuda Putra (32) – Founder dan CEO Amartha. Pria yang lahir pada 24 Januari 1987 ini mulai terkenal lewat lembaga keuangan mikro, Amartha. Lulusan Manajemen Bisnis ITB pada 2008 ini pun masuk sebagai karyawan perusahaan multinasional, IBM yang diminati banyak anak muda Indonesia.
Setelah bekerja di IBM selama dua tahun, ia resigndari kantornya. Pada tahun 2009, ia mendirikan lembaga keuangan mikro bernama Amartha Microfinance di daerah Ciseeng, Bogor.

Andi memilih kawasan Ciseeng sebagai aktivitas sosialnya karena ia melihat banyak masyarakat kelas bawah yang tak tersentuh lembaga keuangan modern, yaitu bank. Dan di sana, Andi mendapati banyak warga terjerat oleh rentenir. Tujuan Andi ingin membantu golongan menengah ke bawah di daerah Ciseeng agar terbebas dari rentenir.

Beberapa kali Andi mendapat penghargaan, seperti Finalis Indonesia MDGs Awards, Finalis IPA Social Innovations and Enterpreneurship (Solve) Award, Penerima SATU Indonesia Award, Finalis Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI), Penerima Ashoka Young Change Makers Awards, dan terakhir Muda Berkarya.

Andi kemudian melanjutkan pendidikan tingginya ke Harvard Kennedy School (2015-2016). Dari kampus di Amerika Serikat itu dia meraih gelar Master of Public Administration.

4. Ayu Kartika Dewi (36) – Pendiri Gerakan Sabang-Merauke ini lahir di Banjarmasin. Ayu pernah bersekolah SMPN 1 Balikpapan. Kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 5 Surabaya. Sejak kecil ia memang kerap berpindah-pindah karena mengikuti ayahnya yang pindah dinas.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Ayu berkuliah di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair). Dikutip dari laman resmi Indonesia Mengajar, ketika berkuliah, Ayu pernah meraih banyak prestasi. Beberapa di antaranya skripsinya terpilih untuk mendapatkan Student Grant dari Asian Development Bank, menjadi presenter terbaik Student Grant seluruh Indonesia, Mahasiswa Berprestasi Peringkat Pertama FE Unair 2 tahun berturut-turut, dan peringkat 4 se-Unair pada 2003.

Pada 2013, Ayu kemudian mendirikan SabangMerauke, sebuah program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia untuk menanamkan nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.Setelah lulus kuliah, Ayu memutuskan bekerja di P&G di Singapura sebagai Consumer Insights Manager dari 2007 hingga 2010. Saat itu, karier Ayu sedang moncer, tapi ia justru memilih keluar dari zona nyaman. Ayu bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan. Ayu merupakan angkatan pertama Indonesia Mengajar dan saat itu dia ditugaskan mengajar di SD di Maluku Utara.

Ayu kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan kuliah di Duke University, Amerika Serikat. Usai menyabet gelar MBA dari Duke University, Ayu sempat bekerja sebagai konsultan di McKinsey selama tiga bulan saja pada 2014. Lalu, dia bekerja sebagai Staf Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2015. Ayu pun sempat bekerja sebagai staf di Unit Kerja Presiden (UKP4).

5. Gracia Billy Mambrasar (31) – Pendiri Yayasan Kitong Bisa, Duta Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Pemuda 30 tahun asal Serui, Kepulauan Yapen, Papua, ini menempuh pendidikan hingga Oxford Inggris. Dia yang kini menjadi wirausahawan sosial juga pernah ikut kontes bernyanyi, Indonesian Idol 2006.

Dilansir Antara, Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya adalah guru honorer bergaji tak tentu. Ibunya berjualan kue di pasar. Namun pendidikan Billy terbantu karena sejak SMA dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua.

Billy kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Biaya kuliah ditanggung oleh beasiswa afirmasi dan otonomi khusus dari pemerintah. Selama kuliah, dia berjualan kue, aktivitas lama sempat ditinggalkannya. Dia juga bernyanyi di kafe.

Lulus kuliah, dia sempat bekerja dengan gaji tinggi di perusahaan minyak asal Inggris. Pada 2009, dia mendirikan yayasan Kitong Bisa untuk membantu pendidikan anak-anak Papua yang kurang mampu. Kini Kitong Bisa punya 9 pusat belajar, 158 relawan, dan 1.100 anak. Sebanyak 20 anak didiknya menempuh pendidikan tinggi di kampus ternama di dunia.

Billy juga menyabet gelar Master of Business Administration (MBA) dari The Australian National University (2013-2014). Dia juga menyabet gelar Master of Science (MSc) dengan tesis keberlanjutan sosial dalam proyek LNG.

Billy juga merupakan Direktur PT Papua Muda Inspiratif. Dia juga Duta Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Saat Presiden Jokowi meresmikan Papuan Youth Creative Hub, di Jayapura, 11 September lalu, Billy mempresentasikan rencana strategis dari Pusat Pengembangan di Papua tersebut.

6. Angkie Yudistia adalah anak muda difabel yang merupakan CEO Thisable Enterprise. Wanita kelahiran Medan, 5 Juni 1987 ini bersama rekannya mendirikan perusahaan itu saat usia 25 tahun. Fokusnya adalah misi sosial, membantu kaum difabel. Lulusan jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta ini meraih gelar master bidang komunikasi pemasaran.

Angkie yang memiliki kekurangan dalam pendengaran ini tak menyurutkan semangatnya untuk bisa berprestasi. Dia merupakan finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat pada 2008. Ia juga berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008 serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta berbagai prestasi lainnya.

Angkie menjadi duta Indonesia pada acara Asia-Pacific Development Center of Disability, 2010. Dia juga menulis buku berjudul ‘Invaluable Experience to Pursue Dream’ (Perempuan Tunarungu Menembus Batas), terbit pada 2011. Dia adalah kader Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

7. Aminuddin Maruf (33) – Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII) periode 2014-2016. Pria yang lahir pada 27 Juli 1986 ini adalah sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kemudian melanjutkan S2 di Universitas Trisakti, Jakarta.


Aminuddin terpilih menjadi Ketum PB PMII periode 2014-2016 lewat Kongres Jambi yang berlangsung pada 30 Mei-10 Juni 2014. Sebelumnya, dia menjabat Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Usai menjadi Ketum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi), relawan pendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019.(***)

 

 

 

Most Popular

To Top