Opini

Para Mantan Terpidana yang Memberikan Banyak Sumbangsih Bagi Bangsa & Negara

Josef H Wenas

Ayonews, Jakarta

Digadang-gadangnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (BTP) alias Ahok menjadi bos BUMN menimbulkan kontroversi hukum. Bolehkan seorang mantan terpidana menjadi pimpinan salah satu BUMN, dalam beberapa hari ramai dibicarakan. Pro dan kontra pun bermunculan. Ada pihak yang setuju, ada pula yang menentang.

Arti kata pidana umumnya dipahami sebagai “suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana. Titik.

Tidak peduli apakah proses pengadilannya sesuai nurani pihak yang merasa dirugikan atau tidak. Itu faktanya yang terjadi pada BTP.

Nah, sekarang ada upaya menghubungkan antara status “mantan narapidana” dan “perasaan umat.” Ini perlu perenungan yang lebih mendalam. Dari sejarah kita bisa sedikit belajar. Banyak mantan terpidana, bukan hanya menjadi sebuah pimpinan perusahaan. Tapi lebih dari itu, jadi pimpinan publik, pemimpin politik.

H.O.S Tjokroaminoto, seorang guru bangsa, pendiri Sarikat Islam, di tahun 1920 dijebloskan ke penjara Kalisosok, Surabaya. Tuduhannya menghasut dan mempersiapkan pemberontakan. Status resmi sekarang dia diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional.

Soekarno, proklamator RI dan presiden pertama, pendiri Partai Nasional Indonesia. 29 Desember 1929 ditangkap di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke ke Penjara Banceuy, Bandung.

Pada tahun 1930 dipindahkan ke penjara Sukamiskin sampai 31 Desember 1931. Agustus 1933 diasingkan ke Ende, Flores. Dan dari 1938 sampai 1942 diasingkan ke Bengkulu. Status resmi sekarang menjadi tokoh pendiri bangsa, pahlawan nasional dan Sang Proklamator RI.

Mohammad Hatta, proklamator RI dan wakil presiden pertama. Pada tahun 1934 ditangkap dan dipenjarakan di Glodok. Kurang dari setahun. Pada Januari 1935 bersama-sama Sutan Sjahrir dan tokoh lainnya dipindah ke di Boven Digul, kemudian ke Banda Neira. Status resmi sekarang menjadi pendiri Negara, pahlawan nasional dan Sang Proklamator RI.

Tan Malaka, bapak Bangsa, sang pemikir besar, pendiri Partai Murba.  Ditangkap dan dipenjarakan di Kediri pada Maret 1946 hingga September 1948 karena sikap oposisinya yang keras terhadap pemerintah RI. Dia bahkan kemudian ditembak mati. Status resminya sekarang menjadi pahlawan nasional.

Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama RI, pendiri Partai Sosialis Indonesia. Dijebloskan ke penjara Madiun dari Maret hingga November 1962 dengan tuduhan ingin menggulingkan pemerintahan Soekarno.

Di zaman pra-kemerdekaan, Sjahrir juga jadi narapidana di Cipinang, kemudian pindah ke Boven Digul dan Banda Neira bersama Bung Hatta. Status resmi sekarang: Pahlawan Nasional.

Ciri yang sama dari para “mantan narapidana” diatas adalah, setelah menjalani hukuman, sumbangsih mereka terhadap bangsa dan negara justru semakin dahsyat, dan faktanya justru dikenang harum oleh sejarah negeri ini.

Di bulan Agustus 2015, Presiden Jokowi mengangkat seorang Menko Kemaritiman yang di tahun 1977 pernah dipenjara di Sukamiskin, Bandung, karena membangkang pemerintahan Jenderal Soeharto.

Tidak ada pihak yang mengklaim bahwa perasaannya terluka saat Rizal Ramli diangkat, dan kemudian dipecat Jokowi setelah 11 bulan karena bikin gaduh ke sana kemari.

Dan kini, polemik berlanjut pada Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Dengan adanya kabar Ahok bakal menjadi salah satu bos BUMN, banyak yang geger. Banyak yang menentang, banyak yang coba menghalnginya. Bahkan ada yang mau mengancam akan menggelar demo besar-besaran, lagi-lagi membawa-bawa nama agama.

Bersikaplah bijak di tengah polemik yang terjadi. Bahwa tidak semua mantan terpidana itu selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Sejarah akan mencatat bagaiaman Ahok nanti menjadi seorang pahlawan besar, seperti para pejuang, pendiri dan para pada pendahulu bangsa ini.( Josef H. Wenas)

 

 

 

 

Most Popular

To Top