Gaya Hidup

Gimana Mau Jadi Pemimpin Masa Depan, di Medsos Aja Anak-anak Muda Pada Kepo 

AKIBAT media sosial bangsa Indonesia bisa terjerumus dalam demokrasi kebablasan. Kemajuan teknologi digital yang seharusnya menjadi ruang kebebasan anak-anak muda dalam melatih kepemimpinan masa depan, malah dijadikan arena ‘berantem’.

“Padahal di medsos saling nggak kenal. Tapi merasa pada kepo sendiri-sendiri,” kata Menteri Tenaga Kerja periode 2014-2019 Muhammad Hanif Dhakiri dalam diskusi Indonesia Next Leader (INL), Minggu (10/11/2019), di GIOI Kafe, Menteng, Jakarta Pusat.

Hanif Dhakiri mengapresiasi Ketua Umum Komunitas Anak Bangsa (KAB) Lourda Hutagalung yang menginisiasi terbentuknya Indonesia Next Leader (INL) sebagai gerakan strategis untuk mencari calon pemimpin potensial Indonesia di masa mendatang

Dengan kemajuan teknologi informasi yang serba cepat dan instan ini, Hanif meminta INL harus lebih banyak lagi berperan dalam mencari bakat-bakat kepemimpinan Indonesia di masa mendatang. Terutama dari kalangan anak muda.

Namun demikian, Hanif mewanti-wanti kepada seluruh generasi muda agar bersikap bijak dengan perkembangan teknologi informasi.

“Anak muda harus mampu memanajemen diri sendiri. Anak muda harus mengoptimalkan segala kesempatan yang dimiliki agar bermanfaat bagi banyak orang. Termasuk memanfaatkan teknologi informasi sosial media sebagai ajang melatih diri menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.

Hanif yakin anak-anak muda saat ini punya kesempatan yang sama dengan generasi sebelumnya untuk menjadi pemimpin bangsa. Sayangnya, masih banyak anak muda yang alergi dengan politik. Mereka menganggap politik itu kotor.

“Yang kotor itu politisinya. Jalur politiknya benar. Karena untuk menuju kepemimpinan, ya perlu terjun ke politik,” tambahnya.

Hanif memberikan contoh seorang Presiden Jokowi yang membangun sikap kepemimpinan sejak dari muda.

“Pak Jokowi bisa jadi presiden, maka pelajaran apa yang bisa diambil dari anak-anak muda? Tentu saja Pak Jokowi menjadi inspirasi bagi semua anak-anak muda, ” ujarnya.

Hanif mengatakan bahwa setiap anak muda punya kesempatan yang sama untuk menjadi presiden atau pemimpin negara. Karena itu prosesnya harus berani berpolitik.

Hanif berpendapat, pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin. Untuk menjadi pemimpin bangsa syaratnya ada tiga: pertama, bisa memberikan harapan masa depan yang baik. Kedua, mampu mengambil keputusan yang cepat, meski dengan risiko-risikonya. Ketiga, menjadi teladan bagi semua orang.

Anak muda yang bisa menjadi pemimpin adalah mereka yang respon dengan perubahan. Respon dalam arti mampu memanfaatkan ruang demokrasi melalui teknologi informasi ini dengan bijak.

“Manfaatkan betul ruang kebebasan ini secara positif. Kepoin orang di medsos nggak ada gunanya. Jadikan media sosial itu sebagai social pasport,” paparnya.

Hanif mengingatkan para anak muda bahwa nuansa politik demokratis yang dirasakan saat ini bukan begitu saja didapat secara mudah dan gratis. Tapi merupakan hasil keringat dan darah generasi sebelumnya.

“Hasil perjuangan teman-teman kita sebelumnya. Bahkan ada yang sampai hari ini tidak pulang karena diculik,” tukasnya.

Karena itu, ia berpesan kepada anak-anak muda untuk memanfaatkan secara optimal ruang demokrasi yang sangat terbuka lebar seperti dirasakan saat ini.

Hanif menegaskan bahwa proses demokrasi akan terbangun efektif jika ada rule of law-nya. Sayangnya, sampai saat ini, kesadaran berdemokrasi di atas rule of law masih lemah.

Soal demokrasi rule of low ini, Hanif berkisah saat ia melakukan kunjungan kerja ke Inggris. “Di Negara demokrasi itu, menyalakan mesin mobil 15 menit nggak jalan kena denda. Di kita masih ada bebas-bebasnya,” kenangnya.

Bila demokrasi sudah bisa berjalan sesuai rule of law-nya, hasilnya akan produktif. “Tidak miskin substansi atau kualitas,” tandasnya.***

 

 

Most Popular

To Top