Gaya Hidup

Anak Muda yang Mau Jadi Pemimpin Bangsa Tirulah Tan Malaka

TAN Malaka, seorang pemuda yang terbilang sukses berpolitik. Sikapnya konsisten untuk selalu berpihak pada rakyat. Seorang marxis sekaligus nasionalis ini telah menjelajahi berbagai benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer, dua kali jarak yang ditempuh seorang pahlawan Amerika Latin, Che Guevara.

Kendati menjadi pahlawan nasional yang dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963, nama Tan Malaka tak pernah tercantum dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

“Storm ahead, don’t lose your head,” katanya suatu ketika. Pemilik 23 nama palsu ini tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri. Tapi Tan Malaka harus kehilangan kepala di tanah air yang amat ia cintai.

“Bergelap-gelaplah dalam terang, berterang-teranglah dalam gelap…” begitu pesan Ibrahim Datuk Tan Malaka, kendati tak secara langsung disampaikan kepada para generasi muda, apalagi generasi milenial saat ini.

“Menjadi seorang pemimpin negara tidaklah mudah. Pemimpin itu didefinisikan tidak dalam kebahagian. Tapi dalam posisi menghadapi banyak masalah. Dalam 21 tahun Indonesia berdemokrasi, banyak tantangan yang dihadapi para pemimpin bangsa,” kata presenter Pangeran Siahaan saat menjadi pembicara di acara launching Indonesia Next Leader (INL) yang digagas Lourda Hutagalung, Ketua Umum Komunitas Anak Bangsa (KAB) di GIOI Kafe, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Pange ini, dalam meraih kebebasan berdemokrasi memang tidak mudah. Harus melalui perjuangan yang berat. Kondisi berdemokrasi di Indonesia pun masih terbilang aman ketimbang di beberapa negara lainnya.

“Kita tidak pernah ada pertumpahan darah luar biasa. Tidak ada yang menghalangi kebebasan pers. Sehancur-hancurnya kita, tidak seperti di Mindanao, di mana ada sekelompok orang bersenjata yang mengubur hidup-hidup banyak orang lain dalam satu lobang,” kata Pange.

Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyatakan, ketika bicara soal pemimpin masa depan, mau dulu atau sekarang asal mau belajar kolektif bisa menjadi pemimpin berikutnya. Yang membedakan adalah sistem feodal dan moderen.

“Sistem feodal masih manut-manut. Beda dengan proses kepemimpinan anak muda yang sekarang, proses feodal sudah luntur,” papar Arya.

Arya mencontohkan bagaimana seorang Mendikbud Nadiem Makariem menjadi leader. Mantan CEO Gojek ini bisa dijadikan persepektif pemimpin dari sudut pandang anak muda.

“Di korporate besar, ada masa transisi antara sistem feodal dan milenial.  Di parpol pun tak jauh berbeda. Bahkan lebih dinamis lagi. Di PKB misalnya, semuanya anak muda,” ungkap Arya.

Saat ini, sambung Arya, ada pergeseran besar dalam proses kepemimpinan. Di perusahaan pun berubah. Orang yang bekerja saat ini nggak takut pindah. Setahun dua tahun keluar. Di politik juga sama. Karena mereka anak muda yang percaya memiliki kemampuan untuk lebih banyak berbuat, bahkan bisa menjadi leader.

“Jangan pernah takut salah. Tetaplah semangat. Jangan pernah lelah. Anak muda punya peluang besar memimpin bangsa,” ujar Arya.

Dewan Penasehat INL, Sutanto Hartono berbagi tips sukses kepada anak muda di era kemajuan teknologi. Menurutnya, saat ini adalah kesempatan untuk meng-capture opportunity karena kesempatan terbuka luas.

Vice President Director PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Tbk sekaligus CEO PT Surya Citra Media Tbk ini mengingatkan kepada generasi milenial bahwa tantangan ke depan akan semakin kompetitif. Sehingga dibutuhkan kontinyuitas dan terobosan baru bagi pemimpin-pemimpin muda di masa depan.

“Ini challenge untuk apakah business bisa sustain create profit. 5 tahun ke depan timeline-nya akan semakin critical. Jadi di sini dibutuhkan terobosan baru,” ujarnya.

Sutanto menegaskan, INL merupakan sarana untuk menjembatani anak-anak muda untuk belajar kepemimpinan dan meraih sukses dengan caranya masing-masing.

“Ini forum positif kalau kita ingin sukses. Karena kesuksesan bukan hanya kemampuan tetapi mungkin dengan siapa kita kenalan. Di forum ini bisa membantu mempercepat karier anak-anak muda,” jelasnya.

Thisable Entreprise, Angkie Yudistia mengatakan anak muda akan sukses bilsa menyelesaikan sebuah masalah tidak berdasarkan pada asumsi semata. “Pola pikir serta kemauan untuk berubah harus datang dari diri sendiri jika ingin menjadi sukses,” kata Angkie.

Meski tunarungu, Angkie mengaku tak menjadikannya kendala untuk meraih kesuksesan dan membawa pengaruh bagi orang lain.

“Minority itu tidak menjadi minoritas bagi banyak orang. Kita harus selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu jika ingin sukses dan membawa pengaruh terhadap orang lain,” katanya.

Angkie mencontohkan saat ia harus menempuh pendidikan S2. Dengan demikian, mindsetnya harus berubah.

“Dengan pendidikan kita jadi tahu bagaimana kaum minoritas tak terdengar suaranya. Karena itulah, kita adalah perpanjangan tangan untuk membuat mereka (minoritas) berdaya,” tandasnya.***

 

 

 

 

Most Popular

To Top