Nasional

Karakter Pemimpin Masa Depan itu Harus Berjiwa Suci Agamanya, Tapi Jangan Bayangkan di Surga

DI era perkembangan dan kemajuan teknologi, dunia terasa di genggaman. Semua kebutuhan manusia, dalam waktu singkat dapat terpenuhi melalui teknologi digital yang terdiri dari smartphone. Tak ada jarak dan penghalang antara manusia satu dengan lainnya, meski yang lain itu ada di ujung dunia.

Namun demikian, kompilasi pembicaraan masalah kebangsaan, tidak dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan teknologi.

“Tapi itu diselamatkan oleh seorang pemimpin yang memiliki hati nurani. Teknologi yang dibutuhkan untuk kesejahteraan rakyat,” kata Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM di tengah diskusi Indonesia Pemimpin Selanjutnya: Apa Selanjutnya di GIOI Kafe, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (10/11) / 2019).

Menurut Romo, secanggih apapun teknologi tetap harus ada di tangan seorang pemimpin yang mengarahkan teknologi itu ke arah kemurahan hati bersama.

“Pemimpin ke depan adalah pemimpin yang betul-betul mencerdaskan rakyatnya, yang membuat rakyat itu cerdas dan bebas menentukan nasibnya sendiri. Rakyat yang senang betul-betul hidup di Indonesia ini dengan penuh persaudaraan,” papar Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) ini .

Menurut Romo Darmin, Indonesia ini negara paling unik, penuh keberagaman. “Karena itu dibutuhkan pemimpin yang betul-betul membuat warganya mendapat tanggung jawab,” tambahnya.

Sebagai salah satu mentor di lembaga Indonesia Pemimpin Selanjutnya, Romo Darmin sudah membuat modul tentang pemimpin masa depan Indonesia yang ideal.

“Modul yang kami siapkan adalah untuk mewujudkan pemimpin masa depan Indonesia itu betul-betul pro rakyat. Berpihak pada rakyat miskin,” katanya.

Ada lima modul yang sudah disiapkan Romo Darmin. Pertama, modul tentang agama yang ramah dengan bantuan. Ramah terhadap orang.

“Kita tidak bisa melarang orang untuk tidak beragama. Tapi bagaimana caranya agar ramah terhadap kita. Sasarannya kita bernegara itu bedasarkan kesejahteraan,” terangnya.

Modul kedua tentang kemanusiaan. Bagaimana mengundang manusia Indonesia untuk melihat dirinya sendiri dalam relasinya dengan alam, relasi dengan sesama dan relasi dengan Tuhan.

Ketiga, modul tentang persatuan dan persaudaraan. Yakni, bagaimana manusia Indonesia bisa hidup bersama sebagai saudara.

“Dibutuhkan pemimpin yang betul-betul menyaudara. Pemimpin yang betul-betul untuk semua, bukan karena kepentingan. Tapi untuk kepentingan semua agar yang dikendalikan dengan adil,” paparnya.

Romo meramalkan masalah bangsa ini membahas tentang masalah kecemburuan sosial, konflik, berebut sumber sumber daya alam.

“Di situlah harus hadir pemimpin yang cerdas dan bisa merangkul semua,” tambahnya.

Keempat, pemimpin yang penuh pertimbangan dan khidmat sehingga mampu memberikan keputusan-keputusan dari data dan informasi yang tepat dan menantang.

“Pemimpin harus berjuang mengambil keputusan dan berdemokrasi. Bahasa umum demokrasi, yaitu khidmat dan penuh percakapan,” katanya.

Karena itu, sambung Romo, dalam teknologi maju pemimpin yang menguasai teknologi bisa membaca informasi berdasarkan data-data menganalisis dan menantang mengambil keputusan yang dikonfirmasi dan membantah.

“Modul keputusan penilaian kebijakasanaan keputusan itu adalah peradilan sosial. Jadi keputusan semua yang diambil tentang peradilan sosial. Semua orang, semua rakyat mendapat mereka benar-benar hidup aman dan nyaman di negeri ini,” jelasnya.

Hasil akhirnya, kata Romo, jika pemimpin itu melakukan semuanya ini, orang akan berkata; “Inilah negara Pancasila. Inilah negara Indonesia.”

Menurut Romo modul yang dibuatnya ini akan dibagikan ke anak-anak mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA. Modul ini akan dibagikan melalui organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

Kemudian untuk menjembatani perguruan tinggi khusus yang belum diselesaikan secara langsung.

“Ini kan kaderisasi pemimpin masa depan. OSIS ini kan sudah lama. Makanya kita masukkan modul ini melalui OSIS secara nasional. Agar kompilasi masuk perguruan tinggi sudah punya dasar modul-modul itu.

Dengan modul-modul itu, Romo dapat membangun karakter pemimpin berdasarkankan teknologi.

“Sasaran kita pemimpin yang berjiwa suci karena agamanya, tetapi kesucian jangan dibayangkan di surga. Dijalankan secara lengkap yang manusiawi harus diselesaikan dalam merangkul semua orang, ambil keputusan yang bijaksana dan bisa mensejahterakan semuanya,” tutupnya. ****

Most Popular

To Top