Politik

Pemimpin yang Tak Punya Karakter Beda Tipis dengan Orang Bloon

SANG Proklamator RI Mohammad Hatta menyatakan; manusia boleh pintar, tapi kalau tidak punya karakter hilanglah dia sebagai manusia. Pesan mantan wakil presiden pertama RI ini harus menjadi prinsip teguh pada setiap pemimpin Indonesia.

“Saat menjadi pemimpin haruslah memiliki integritas. Manusia Indonesia itu harus berintegritas. Jangan berfikir ketika mendapat posisi sebagai pemimpin akan dapat seperti apa, akan dapat apa…” kata Halida Hatta saat menyampaikan pesan moralnya dalam diskusi Indonesia Next Leader: What’s Next di GIOI Kafe, Menteng, Jakarta Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019).

Anak bungsu Bung Hatta ini menegaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan energi yang besar.

“Dengan energi yang besar ini, Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan tidak mudah ditipu. Karena Indonesia itu terdiri dari manusia-manusia yang unggul,” terangnya.

Namun demikian, Halida mengingatkan kepada bangsa ini agar tidak terlena dengan berbagai pujian dari bangsa lain. Negeri ini harus besar dalam arti yang seesunguhnya.

Karena itu dibutuhkan pemimpin yang berkarakter. Selain itu, seorang pemimpin masa depan Indonesia harus memiliki jiwa yang visioner.

“Harus punya daya visioner. Manusia Indonesia itu harus tahan banting, tahan sengsara. Manusia Indonesia itu memang ramah, punya tenggang rasa, empati, rasa iba. Sayangnya kadang terlena dengan pujian-pujian. Ini yang membuat kita lemah secara karakter,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Halida, masyarakat Indonesia sudah berabad-abad hidup di bawah naungan Pancasila.

“Ketika bicara ini (Pancasila), ah dibilang ucapan politik, kemudian mengasingkan diri dari Pancasila. setiap kali baca berita kok isinya menganiaya orang lain, bicara politik dibilang ingin kekuasaan. Karena itu kita perlu merevitalisasi,” ujarnya.

Senada dengan Halida Hatta, Dewan pengawas Indonesia Next Leader (INL) Marsekal (Purn) Agus Supriatna mengatakan bahwa syarat menjadi pemimpin di Indonesia harus memiliki karakter yang kuat.

“Syarat menjadi pemimpin bangsa harus berkarakter. Orang yang tidak punya karakter beda tipis dengan orang bloon,” cetus mantan KASAU RI ini.

Menurut Agus, konsekwensi jadi pemimpin di negeri ini bakal menghadapi banyak masalah. Karena itu, Agus berpesan, untuk menjadi pemimpin bangsa yang paling utama adalah memiliki tanggungjawab.

“Siapapun yang jadi leader, harus punya karakter,” tegasnya lagi.

Agus mencontohkan seorang menteri yang punya karakter itu tak gentar menghadapi anggota-anggota DPR yang mau “mengeroyoknya”.

“Kalau menteri itu punya karakter. Dia bisa mengalahkan anggota DPR yang banyak itu,” tukasnya.

Agus mengatakan, makin lama masalah di Indonesia makin banyak. Untuk menjadi pemimpin harus sabar menghadapi berbagai masalah yang ada.

“Untuk menyelesaikan sebuah masalah, jangan jadi orang konyol, jangan juga orang kerdil. Jadi orang biasa-biasa juga tidak menyelesaikan masalah. Kalau mau jadi pemimpin, jadilah orang besar yang siap menyelesaikan masalah,” papar Agus.

Sebagai mantan prajurit yang sudah banyak makan asam garam, Agus berpesan kepada para generasi muda bangsa yang bakal menjadi pemimpin untuk terus berinovasi dalam membangun negara.

Menurut Agus, berinovasi bukan sekadar menguasai teknologi semata. Tapi juga mampu membangun networking (jaringan) ke semua lini. Baik politik, sosial, ekonomi dan lainnya.

“Untuk menjadi politisi misalnya, katanya harus masuk parpol. Kalau nggak mau masuk parpol, paling tidak membangun jaringan dengan memperbanyak teman politisi partai. Politisi itu, kalau di depan banyak orang keliatan berantem, tapi pas di luar salaman. Ini kan menarik,” ujarnya.

Agus tak memungkiri bahwa untuk memiliki jabatan politis harus masuk parpol. Anak muda pun punya peluang besar menjadi pemimpin.

“Tidak perlu masuk jadi politisi. Kalau banyak teman politisi, nanti kan temannya itu ngomong sama ketua partai, nih saya kenal anak muda ini. Ini akan saya sampaikan kepada ketua partai, kalau jadi pejabat akan bagus,” cetusnya.

Menjadi pemimpin di negeri ini pasti bangganya luar biasa. Karena akan tercatat sebagai sejarah bangsa yang besar.

“Kita bangga menjadi rakyat Indonesia. Eropa itu hanya satu bangsa, tapi negaranya banyak. Indonesia banyak suku bangsa, tapi satu negara. Berapa agama, etnis banyak tapi kita jadi satu. Ini salah satu kebanggan menjadi pemimpin di negeri ini,” paparnya.

Namun demikian, Agus tak memungkiri bahwa banyak perbedaan pandangan antara generasinya dengan generasi milenial saat ini.

“Bagaimana nanti ke depannya, pemikiran yang sudah lama bisa nyambung dengan pemikiran anak-anak muda. Memang tidak mudah me-matchkan pemikiran yang berbeda,” ujarnya.

Salah satu pola pikir yang berbeda adalah generasi lalu berpikir ketika mau jadi pejabat masuk harus punya duit. Pola pikir seperti ini sudah tidak berlaku bagi generasi milenial.

“Kenyataannya memang seperti itu. Karena itu mematchkan pikiran dulu dan anak muda itu tidak mudah. Kalau anak muda jadi pejabat, Indonesia akan menjadi maju. saya yakin itu,” sambungnya.

Agus juga berpesan kepada generasi muda agar tetap selalu optimis bakal menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.

“Harus bangga dengan Indonesia. Lihat Amerika, penduduknya datang dari mana saja, dari berbagai ras dan bangsa, tapi mereka bangga dengan negaranya. Kita boleh melakukan kritik, tapi kita juga harus bangga dengan negara ini,” tandasnya.***

 

Most Popular

To Top