Academic Paper Writers

Spa Batimung Banjar & Kisah Putri Junjung Buih yang Membuat Lambung Mangkurat Terpesona

BATIMUNG Banjar merupakan salah satu warisan ethno spa Indonesia. Metode perawatan kecantikan dan kesehatan khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan sangat khas. Dalam prosesnya dapat mengalirkan hawa panas, sehingga bermanfaat memperlancar aliran darah dan dapat memperbaiki metabolisme tubuh.

Asal sejarah batimung sendiri terinspirasi dari kisah Putri Junjung Buih. Putri dari kerajaan negara Dipa ini muncul dengan pesona kecantikannya dari pusaran air yang berbuih dan dengan kain kuning membalut tubuh.

Kecantikan Sang Putri dengan nama lain Putri Tunjung Buih membuat patih kerajaan bernama Lambung Mangkurat terpesona. Sampai-sampai ia tersadar dari ritual tapanya.

Dalam hikayat kerajaan Banjar, Puteri Junjung Buih atau Puteri Tunjung Buih adalah puteri raja kerajaan negara Dipa. Dalam hikayat itu Putri junjung buih atau putri tunjung buih adalah raja wanita keturunan kerajaan tanah Jawa.

Dalam kisahnya, beliau lahir dari buih di sungai. Setelah itu diangkat anak oleh patih Lambung Mangkurat. Ratu yg berasal dari tanah jawa ini menikah dengan Pangeran Suryanata yang juga keturunan majapahit.

Menurut mitos banyak tempat di kalimantan, barang siapa yg ingin menjadi raja harus keturunan Putri Junjung Buih.

Nah, sejak itulah tradisi mandi batimung menurun ke masyarakat Banjar. Biasanya, tradisi mandi uap ini dikhususkan untuk calon pengantin Banjar di Kalimantan Selatan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu bertujuan untuk mengeluarkan keringat demi kesehatan dan membuat tubuh menjadi wangi.

Batimung atau timung, begitulah warga Banjar menyebut perawatan tubuh dengan mandi uap yang kaya akan aroma rempah-rempah. Mandi seperti itu menjadi keharusan bagi pasangan yang akan melangsungkan pesta pernikahan.

Dengan batimung, pengantin akan tampil segar. Tubuh mereka pun menebarkan keharuman selama bersanding. Bahkan, keharuman tubuh bisa bertahan beberapa hari setelah pesta.

Upacara batimung sampai saat ini masih dijumpai di berbagai pelosok Kalimantan Selatan. Sebelum batatai (bersanding), batimung dilaksanakan dua sampai tiga kali di malam hari.

Yang unik, batimung memiliki unsur kebersamaan. Ada unsur gotong royong. Saling membantu sesama saudara, tetangga sekampung. Banyak ibu-ibu di kampung tepian sungai Martapura itu ikut menyiapkan berbagai rempah-rempah khas Banjar.

Rempah-rempah yang diasiapkan di antaranya daun serai wangi, limau (jeruk) purut, kunyit, pandan, temulawak, laos (lengkuas), serta bunga mawar, kenanga, cempaka, dan melati. Selain itu, juga disediakan beberapa jenis akar-akaran. Semua bahan direbus dalam satu panci.

Begitu manggurak (matang), panci berisi jajarangan (masakan) rempah timung tersebut diletakkan di hadapan mempelai putri yang duduk di bangku kecil. Tubuhnya dibalut pakai kain batik panjang, tapih bahalai, setinggi ketiak. Sebagian badan dan wajahnya dilumuri pupur (bedak) basah.

Batimung dimulai tatkala panimungan (perempuan tukang timung), membungkus sekujur badan calon pengantin pria dengan tikar purun. Hanya kepala sang mempelai yang ada di luar gulungan tikar pandan tersebut.

Panci berisikan air rempah-rempah yang masih mendidih pun disorongkan ke dalam “mantel” tikar. Tikar dilapis lagi dengan beberapa tapih bahalai sehingga uap timung tidak keluar.

Beberapa saat kemudian sang pengantin wanita akan bercucuran keringat. Panimungan membantu membersihkan peluh di kepala dan wajahnya. Begitu seluruh keringat keluar, badan terasa segar.

Selesai bersauna, dilanjutkan dengan menyeka badan menggunakan handuk halus. Proses batimung diulang dua kali, sesuai dengan kesanggupan tubuh si gadis menahan uap panas yang keluar dari panci.

Di Pamakuan, batimung hanya umum dijalani oleh mereka yang hendak atau sudah menikah. Anak-anak, remaja yang masih bujangan, nyaris tak pernah menjalaninya.

Di daerah lain, batimung juga digunakan sebagai terapi. Bahan rebusannya adalah ramuan obat-obatan tradisional. Tujuanya sama, selain untuk mengeluarkan keringat, asap ramuan obat-obatan diyakini masuk ke dalam tubuh untuk menyembuhkan penyakit.

Para mempelai yang usai ber-batimung merias diri dan mandi. Kedua mempelai tidak melakukannya di salon, cukup mengundang perias di kampung tersebut. Sebelum merias, perias menyalakan dupa, menyediakan kelapa muda, ketan, dan beras kasih.

Peralatan ini digunakan karena khawatir terjadi gangguan seperti badan tiba-tiba lemah.

Sesaji yang sama juga harus diletakkan di bawah balai atau tempat pengantin bersanding. Selain itu, juga disediakan piduduk (sesaji) untuk dimakan bersama seperti nasi lemak dan inti, gula merah, kue-kue, kacang hijau goreng, pisang, ubi, bubur putih dan merah, rokok, minyak lekat baburih, dan air tepung tawar.

Menurut tradisi, ini tidak melanggar ajaran agama karena tidak digunakan untuk sesembahan. Piduduk biasanya disertakan saat upacara mandi pengantin. Kegiatan mandinya sendiri dilaksanakan di dalam pagar mayang, yakni bilik yang dibuat pada pelataran rumah yang dibatasi empat batang tebu berhias aneka kembang. Pada batang-batang tebu juga digantungkan beberapa kue.

Saat turun ke pagar mayang, pengantin ditaburi beras kuning sambil membaca salawat, puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Pengantin kemudian duduk di kursi di tengah pagar mayang. Di sejumlah daerah lain di Kalimantan Selatan, upacara ini disebut badudus atau bapapai.

Badudus ditangani oleh perempuan tua dengan membasahi kepala pengantin secara perlahan-lahan dengan mayang pinang, daun kambat, dan halin juang sebanyak tiga kali. Air kembang pun disiramkan setelah dibacakan surat Yasin, surat ke-36 pada Kitab Suci Al Quran.

Kegiatan terakhir dari prosesi itu adalah batumbang. Pada tahap ini, warga yang hadir berebut batang tebu dan kue-kuenya.

Ritual mandi seperti itu juga dilakukan terhadap calon ibu yang hamil untuk kali pertama. Prosesinya disebut mandi baya.***

 

Most Popular

To Top