Pariwisata

Lama Tiarap, Menterinya Nggak Mikirin, Kini Saatnya Ethno Spa Bangkit

SEBAGAI salah satu potensi penambah devisa dari industri pariwisata sudah seharusnya ethno spa Indonesia bisa dijual ke mancanegara. Apalagi, sampai saat ini sudah ada 15 ethno spa Indonesia yang ber-SKKNI (sertifikasi kompetensi kerja nasional Indonesia).

Bukan hanya dari ethno spa nya saja, Indonesia juga bisa menambah devisa dari ekspor tenaga kerjanya, ekspor aromaterapi minyak atsirinya, termasuk bisa menjual seritifkasinya.

“Kalau spa Indonesia sudah sampai di luar negeri, kita juga bangga kan,” cetus pakar spa Indonesia Firmanstah Rahim di Jakarta (2/11/2019).

Dikatakannya, pemerintah sudah seharusnya ikut memasarkan potensi ethno spa. Menteri pariwisata ini ditunjuk presiden bukan hanya sebagai pembantu presiden semata, tapi juga sebagai kepala marketing industry pariwisata agar menambah devisa negara.

“Spa ini sudah diakui sebagai industri pariwisata di bawah kementerian Pariwisata. Nah, sudah jadi tugasnya menteri baru memasarkan potensi ini. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga ke mancanegara,” tambahnya.

Mengapa ethno wellness atau ethno spa ini belum proritas?

Firmansyah mengatakan karena memang perhatian pemerintah masih kecil untuk menjadikan salah satu tradisi kebugaran ini sebagai penghasil devisa negara.

“Selama ini kan kita hanya promosi-promosi saja. Belum bicara secara ethno. Bergulir begitu saja. Belum terdefisnisi ethnonya itu. Padahal, ethno spa kita sudah banyak mendapatkan penghargaan dari luar negeri,” ungkap Firmansyah.

Menurutnya, sebenarnya sudah lama spa Indonesia diakui eksistensinya di luar negeri sebagai spa terbaik. Saat ia masih menjabat di Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata, sudah ada rencana untuk menggencarkan promosi ethno spa di luar negeri secara besar-besaran.

“Eh saya berhenti dan menterinya ganti. Dan seperti biasa, setiap ganti menteri ganti kebijakan. Menteri baru nggak mikirin spa. Ethno spa tiarap. Sampai hari ini baru jadi perhatian lagi,” ucapnya.

Sekitar tahun 2013, Firmansyah pernah membuka booth ethno spa di ITB Berlin, Jerman. Kebetulan saat itu ada pameran industry pariwisata. Ia pun bersama rombongan membawa 3 terapis dan banyak botol minyak atsiri.

Ternyata, di luar dugaan, pengunjung boothnya banyak. Yang mau nyoba ethno spa ngantri. “Sampai kasihan gua sama terapisnya. Terapis itu normalnya satu jam untuk satu orang, tapi ini sampai dibatasi 10 menit, cuma untuk nyicipin ethno spa doang. Minyak atsiri yang kita bawa sampai ludes diborong,” kenangnya.

Dengan keluarnya Peraturan Menteri Pariwisata No 11 Tahun 2019 ini, semua pengusaha spa wajib menyediakan menu spa tradisional dan menu aromaterapinya.

“Dulunya nggak ada spa harus ada ethno spa di dalamnya sebagai standarisasi dan kompetensi usaha. Sekarangkan harus dan wajib bahwa setiap spa harus menyiapkan minimal dua spa tradisionalnya,” katanya.

Firmansyah menegaskan bahwa ethno spa ini potensial besarnya ada. Minyak atsiri Indonesia sudah terbukti diakui dunia. “Semua kan awalnya kecil. Kemudian menjadi besar. Begitu juga ehno spa ini, mungkin saat ini belum terlalu didengar, tapi tahun mendatang bisa saja membesar,” tandasnya.***

 

Most Popular

To Top