Pariwisata

Kementerian Pariwisata Wajibkan Pemilik Spa Sediakan Menu Ethno Spa Minimal 2

INDONESIA wellness master association (IWMA) sebuah lembaga yang terdiri dari para professor dan Doktor yang menemukan 9 ethno spa Indonesia, di luar Balinese dan Javanese spa.  ada 21 ethno spa yang sedang dan sudah dilakukan riset.

Dari 21 ethno spa, 15 di antaranya sudah bersertifikasi SKKNI (Standar kompetensi kerja nasional Indonesia). Dan kemungkinan besar lebih dari 21 itu ethno spa yang ada di Indonesia.

Tercatat, saat ini ada 754 suku budaya di Indonesia.  Tiap budaya memiliki filosofi dalam ritual pengobatan dan kebugaran tubuh. Ini menjadi tantangan untuk terus menggali hasil kekayaan budaya nusantara.

“Kesadaran akan adanya spa budaya ini belum lama. Orang sebelumnya hanya mengenal Thai spa, Swedish spa, Japanese spa.” ungkap pakar spa Indonesia Firmansyah Rahim di Jakarta, Jumat (1/11/2019).

Para pakar ini juga yang memberikan masukan kepada pemerintah melalui Kementerian Pariwisata bahwa Indonesia juga memiliki spa budaya. Kekayaan budaya ini harus dilestarikan keberadaannya.

Saat ini sudah keluar peraturan standar usaha spa. Dalam Peraturan Menteri Pariwisata No 11 Tahun 2019, semua pengusaha spa wajib menyediakan menu spa tradisional dan menu aromaterapi rempah tradisional.

“Spa ini juga ada kelasnya, sama seperti hotel. Kelas Tirta 1 misalnya, wajib menyediakan menu ethno spa di tempat usahanya. Termasuk wajib menyediakan menu aromaterapi, minimal 5 jenis aromaterapi minyak atsiri asli Indonesia,” jelasnya.

Spa dengan kelas Tirta 2 wajib menyediakan paling sedikit menu 2 ethno spa dan minimal 7 macam aromaterapi minyak atsiri Indonesia. Sementara untuk kelas Tirta 3, wajib menyediakan menu ethno spa minimal 3 jenis pijat tradisional dan minimal 10 menu aromaterapi minyak atsiri tradisional Indonesia.

“Misal usaha spa di Bali dengan kelas Tirta 1, menyediakan Balinese spa-nya, aromaterapi minyak atsiri asli Indonesia minimal punya 5 jenis. Atau membangun usaha spa di Sumatera Barat dengan kelas Tirta 2, di sana ada Batangeh spa ditambah ethno satu lagi oukup Batak atau Javanese spa, ditambah lagi dengan minimal 7 jenis aromaterapi minyak atsiri tradisional,” jelasnya.

Meski demikian, pengusaha spa juga boleh menggunakan spa yang sudah umum. Misalnya, Japanese spa, Thai spa atau Swedish spa. “Tapi menu ethno spa-nya tetap harus mereka siapkan,” tambahnya.

Menurut Firmansyah, kalau dulu, pengusaha spa memang tidak wajib menyediakan menu tradisional. Tapi sekarang sudah menjadi standarnya. “Dari dulu suka-suka dia. Kalau laku ya syukur, kalau nggak ya tutup. Tapi sekarang sudah kewajiban harus ada menu itu,” ujarnya.

Firmansyah yakin kalau keberadaan ethno spa ini terus didukung, maka akan berkembang. Karena ethno spa lebih memiliki keunggulan dibanding spa-spa impor.

“Tujuan semua spa sama untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Tapi ethno spa ini unggul dari sisi aromaterapi minyak atsirinya. Prosesnya beda, dan ethno spa dijamin lebih sehat disbanding spa impor. Karena aromaterapi mempengaruhi kesegaran,” tambahnya.

Menurut Firmansyah, buka usaha spa tidak boleh asal-asalan. Selain memenuhi standar yang sudah ditetapkan pemerintah, usaha dan pelaku spa juga harus meningkatkan mutu dan kualitas usahanya.

“Untuk meningkatkan kualitas, baik pengusahanya atau pelaku usahanya yang terdiri dari para terapis, harus bersertifikasi. Untuk menerapkan menu ethno spa juga harus bersertifikasi.” ujarnya.

Sertifikasi ini harus melalui lembaga yang sudah ditetapkan pemerintah. “Untuk bisa membuat menu ethno spa, cara yang paling mudah adalah menghubungi produsen aromaterapi minyak atsiri Indonesia yang menyediakan konsultasi menu gratis,” terangnya.

Firmasnyah menyarankan bagi para pengusaha dan pelaku spa untuk training manpower bisa minta dukungan Indonesia Spa (Indspa). “Trainingnya melalui Esentia Spa Academy (ESA). Untuk memperoleh sertifikasi layak kerja, bisa didapatkan di Indspa,” katanya.

Begitu pula saat membuka cabang di luar negeri untuk mengenalkan ethno spa ke mancanegara butuh sertifikasi yang sudah disiapkan Indspa. “Atau misalnya terapisnya tetap orang luar, mereka harus tetap melalui pelatihan dan memperoleh sertifikasi dari Indspa,” tandasnya.***

 

Most Popular

To Top