Pariwisata

Sedih, Ethno Spa Indonesia Belum jadi Prioritas Sebagai Destinasi Wisata Turis Mancanegara

KITA boleh saja sedikit bangga, sejak tahun 2013 hingga 2019, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia terus meningkat. Bahkan di tahun 2019 Indonesia naik ke rangking 40 sebagai negara yang banyak dikunjungi wisatwan.

Sayangnya, ethno spa belum menjadi prioritas sebagai salah satu destinasi wisatawan mancanegara. Artinya, jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung dan menikmati ethno wellness Indonesia masih sedikit sekali.

Dalam Peraturan Menteri Pariwisata No 10 Tahun 2018, ada 13 bidang usaha pariwisata dan ada 62 turunannya. Ternyata, usaha spa berdasarkan sumber World Economic Forum (WEF) performa daya saing pariwisata Indonesia dibandingkan negara Asean lainnya, spa sebagai bagian dari health tourism berada di peringkat nomor dua dari bawah. Hanya setingat di atas Kamboja.

“Kalau secara keseluruhan negara Asean, kita berada di rangking 4. Daya saing pariwisata kita masih kalah sama Singapura, Malaysia dan Thailand,” ungkap kepala Bidang Manajemen Industri Pariwisata, Asisten Deputi Regulasi dan Industri Wisnu Sriwijaya usai menjadi pembicara di seminar bertemakan “Sosialisasi Regulasi Pemerintah Standar Usaha Spa” di GIOI Coffee,  Menteng,  Jakarta Pusat,  Rabu (30/10/2019).

 

Menurut Wisnu, pelayanan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri.  Indek pariwisata saling terkait.

 

“Orang yang mau wisata butuh pesawat,  butuh biro perjalanan,  butuh penginapan. Kemudian butuh makan di restoran. Setelah makan mereka ingin istirahat karena capek. Nah, di sinilah spa berfungsi,” ujar Wisnu.

 

Sayangnya, ethno spa Indonesia belum menjadi prioritas. Namun demikian, peningkatan pelayanan dalam produk kesehatan ini sangat penting. Mengingat ke depannya, Kementerian Pariwisata memiliki beban berat untuk bisa mendatangkan 20 juta wisatawan dalam setahun.

 

“Kalau target untuk ethno spa sendiri belum ada. Spa belum masuk hitungan. Pemerintah masih fokus pada yang besar-besarnya dulu,” kata Wisnu.

 

Namun demikian, Wisnu menegaskan bahwa pelaku usaha spa tetap wajib meningkatkan mutu dan kualitas pelayanannya.

“Memberikan pelayan maksimal dan   mengurangi keluhan konsumen adalah bagian standarisasi dan kompetensi yang harus dipenuhi. Nah bagaimana agar spa tradisional kita bisa dikenal, menjadi daya tarik dunia  dan menambah devisa negara, ini tugas kita semua,” kata Wisnu.

 

Bagaimanapun, lanjut Wisnu, Spa melekat pada pariwisata.  Dalam Peraturan Menteri No 11 tahun 2019, semua pelaku spa wajib mendaftarkan usahanya melalui LPSK.

 

“Pariwisata itu terkait dengan layanan terhadap produk,  kenyamanan dan keamanan. Standar usaha dan kompetensi itu amanah.  Standar kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi. LSUP yang melakukan pembinaan,” terangnya.

 

Praktisi ethno wellness Indonesia H. Akhyaruddin menyayangkan belum maksimalnya ethno spa Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata yang bisa menghasilkan devisa negara.

 

Dia juga mengaku sedih mendengar indeks health tourism hanya berada di peringkat dua dari bawah, lebih bagus sedikit ketimbang Kamboja.

 

“Cita-cita saya dari dulu itu ingin menjadikan Indonesia sebagai health tourism. Tidak ada negara sehebat Indonesia,” kata Akhyarudin.

 

Diungkapkan, Indonesia itu negara hebat. Indonesia memiliki 17450 pulau. Yang ada manusianya 6000 pulau. Tak hanya itu, ada 754 suku dan budaya disatukan dalam bingkai NKRI.

 

“Akibat banyaknya budaya di Indonesia, ethno Javanese spa dan Balinese spa sempat dijiplak negara lain. Dengan kekuatan market luar biasa, negara lain memanfaatkan budaya Indonesia untuk mendapatkan keuntungan besar. Ini terjadi di Eropa. Ironisnya, manusianya orang Indonesia juga,” paparnya.

 

Menurut Akhyarudin, Belanda menjajah Indonesia beratus-ratus tahun itu karena rempah-rempahnya, bukan minyak atau kayu. Dan rempah-rempah ini menyatu dalam budaya spa tradisional Indonesia.

 

“Setelah didalami ini yang akan saya pikirkan bagaimana Indonesia menjadi kekuatan besar dalam bidang spa, khususnya ethno wellness spa,” katanya.

 

Karena itu, lanjutnya, maju atau mundurnya pariwisata Indonesia menjadi beban berat menteri pariwisata.“Jadi menteri pariwisata itu bisa ‘pabaliyeut,” cetus Akhyarudin.

 

Menurutnya, Presiden Jokowi mengangkat menteri pariwisata itu seperti mengangkat kepala marketing. Saat 2014, Jokowi menargetkan menteri pariwisata harus bisa mendatangkan turis sebanyak 20 juta turis ke Indonesia dalam setahun. Kenyataannya cuma 18 juta yang tercatat.

 

“Saya jadi menteri stres juga ditarget 20 juta. Semoga Wisnutama sebagai menteri muda punya kapasitas yang kuat dan Wamennya Angela Tanoesoedibyo, bisa membantu. Kita akan melobi ethno wellness kepada meraka, supaya ikut dipasarkan ke mancanegara,” tambahnya.

 

Dikatakan, ethno wellness itu budaya. Ada 750 suku budaya di Indonesia. Dengan demikian, masih banyak yang bisa digali dari sana. Setiap suku pasti punya filosofi kehatan masing-masing.

 

“Adakah bangsa ini yang mau peduli? Kalau punya idealisme terutama filosofi budaya bangsa. Mata rantainya luar biasa. Ada gerakan perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif untuk aromaterapi. Ini harta karun yang bisa membuat negara kaya raya,” tandasnya.***

Most Popular

To Top